Pandemi COVID-19 belum berakhir : Bijaklah dalam beraktivitas, tetap produktif meski dalam keterbatasan

Kenangan saat perjalanan Jakarta – Taipei

Foto di atas adalah salah satu kenangan saya saat di perjalanan menuju Taipei dalam rangka Short Course. Kini, bepergian gak bisa semudah dulu. Aktivitas-aktivitas lain juga begitu. Dulu, tiap weekend bisa jalan-jalan ke pantai atau ke pusat perbelanjaan, tiap awal bulan ada arisan, kangen teman-teman ya tinggal janjian terus kumpul, acara keluarga kapanpun di manapun diusahakan datang. Semuanya lengkap dengan adegan cipika cipiki buat yang ciwi-ciwi plus cium tangan sama orang tua. Momen apapun gak lupa untuk diabadikan, cekrek cekrek dengan senyum lebar super manis, raga mendekat tanpa jarak, pelukan hangat tanda sayang. Ya, itulah gambaran keseharian kita sebelum ada pandemi COVID-19.

Continue reading “Pandemi COVID-19 belum berakhir : Bijaklah dalam beraktivitas, tetap produktif meski dalam keterbatasan”

Pengalaman Kuliah Tamu Secara Daring bersama Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Aceh

Sabtu pagi ini tepatnya tanggal 03 Oktober 2020, saya berkesempatan mengisi kuliah tamu yang diselenggarakan oleh Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Aceh. Kuliah tamu dimulai pukul 09.00 WIB (di Aceh) atau pukul 10.00 WITA (di Mataram). Pengalaman yang luar biasa karena secara tidak langsung pertemuan virtual ini telah membawa saya terbang jauh menuju ujung barat Indonesia yaitu di Provinsi Aceh. Saya memang belum pernah menginjakkan kaki di sana, dan saat ini meski raga di Mataram tapi jiwa saya telah saya ajak meresapi atmosfer tanah rencong.

Continue reading “Pengalaman Kuliah Tamu Secara Daring bersama Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Aceh”

Taiwan : Beberapa Catatan, Kenangan, dan Harapan

Inilah Taiwan, sebuah negara kepulauan yang bersisian dengan pantai dari Cina daratan dan terletak di barat daya dari Jepang. Negara ini berbeda dengan RRT (Republik Rakyat Tiongkok) / People’s Republic of China (PRC) meskipun jika menilik sejarah maka keduanya memang memiliki kaitan erat (tentang ini kalian bisa cari sendiri ya, heheh).

sumber : https://conceptdraw.com/a1245c3/p1/preview/640

Adapun nama resmi Taiwan adalah Republic of China (ROC)/ Republik Tiongkok. Negara ini sejujurnya telah demikian lekat dalam ingatan saya karena berhasil memahatkan nama Dao Ming Tse dan kawan-kawannya dalam serial Meteor Garden, serial yang jadi tontonan wajib bersama sahabat di masa putih abu-abu.

Continue reading “Taiwan : Beberapa Catatan, Kenangan, dan Harapan”

Taipei Nightlife

Taipei nightlife atau kehidupan malam di Taipei. Hehe, please jangan sampai salah fokus ya sama judulnya. Sebenarnya tulisan ini bukan bercerita tentang “kehidupan malam” di Taipei tapi lebih tepatnya suasana malam di Taipei. Jadi ceritanya nih, saat ikut short course dikti setahun lalu di Taipei Medical University, jadwal course-nya kan rata-rata mulai dari jam 8 pagi dan berakhir jam 5 sore, bahkan ada yang sampai jam 6 (kalau di Taipei ini sudah malam, karena waktu sholat maghrib sekitar jam 5), karena itu kalau ingin jalan-jalan saat weekdays ya jalannya pasti malam. Nah, apa aja sih yang saya temui saat berkeliling kota Taipei di malam hari, simak yuk 🙂

Continue reading “Taipei Nightlife”

Catatan Kiara : Malam Pertama 1 Ramadhan 1439 H

Hampir pukul 10 malam, Kiara baru saja selesai membaca Al Quran. Ia melepas mukena, melipat lalu meletakkannya di tumpukan perangkat shalat di rumahnya. Begitu pula dengan Al Quran yang dibacanya tadi, dengan hati-hati disimpannya Al Quran tersebut pada tempatnya. Kiara masuk ke kamar untuk bersiap istirahat. Ia tak ingin sahur pertamanya terlewat karena ia telat tidur, yaaa malam ini adalah malam pertama bulan Ramadhan.

Continue reading “Catatan Kiara : Malam Pertama 1 Ramadhan 1439 H”

Welcome to Taiwan ^_^

“Welcome to Taiwan”, Selamat datang di Taiwan, inilah satu kalimat sederhana yang disampaikan oleh seorang teman lewat obrolan di WhatsApp beberapa hari menjelang keberangkatan saya ke Taiwan dalam rangka Short Course Health Sciences Dikti. Saya tersenyum menerima pesan ini, atmosfer kehidupan di sana sudah mulai terasa dan yang terpenting saya sudah tak sabar ingin menikmati suasana laboratorium dan aktivitas penelitian di perguruan tinggi tempat kami melaksanakan pelatihan nanti yaitu di Taipei Medical University.

Continue reading “Welcome to Taiwan ^_^”

Short Course Health Sciences in Taiwan 2017

monev
moment to remember : Foto bersama dengan Tim dari Dikti setelah monev

Apa itu Short Course Health Sciences?

Adakah yang pernah mendengar tentang program ini? kalau belum, fyi, Short Course Health Sciences atau seterusnya disingkat SCHS ini adalah salah satu program dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) tepatnya Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti yang dilaksanakan sebagai upaya mendukung peningkatan kapasitas dan kompetensi sumber daya manusia (SDM) di lingkungan Kemenristekdikti, adapun yang menjadi sasaran peserta short course ini adalah para dosen dari PTN maupun PTS di seluruh Indonesia. Program ini sesungguhnya merupakan bagian dari Program Short Course Luar Negeri yang memang baru dimulai di tahun 2017. Selain Health Sciences, bidang-bidang yang juga menjadi prioritas pengembangan Iptek Nasional dan menjadi bagian dari Short Course 2017 ini adalah Spiritual Pedagogy, Tourism, Social Humaniora, Molecular Biology, dan Vocational Education, di mana tiap-tiap program dilaksanakan di negara berbeda, Spiritual Pedagogy di Mesir, Tourism di Hongkong, Social Humaniora di Belanda, Molecular Biology di Jepang, dan terakhir Health Sciences dan Vocational di Taiwan.

Kapan waktu pendaftaran dan apa såja persyaratan untuk mendaftar Short course?

Continue reading “Short Course Health Sciences in Taiwan 2017”

Pesan Taksi Lewat Aplikasi My Blue Bird, Dapatkan Promo Diskon di Lombok Epicentrum Mall

BlueBird dan Lombok Epicentrum Mall

Bluebird, siapa yang tidak kenal dengan armada taksi yang satu ini. Di Lombok, khususnya di Kota Mataram, moda transportasi yang lebih dikenal dengan nama Lombok Taksi ini telah menjadi pilihan nomor 1 masyarakat, termasuk saya pribadi yang sehari-hari menggunakan taksi saat pergi dan pulang dari tempat bekerja, juga untuk tujuan lain seperti mengunjungi pusat perbelanjaan Lombok Epicentrum Mall (LEM). Saat ini Lombok Taksi telah bekerja sama dengan LEM dalam memberikan banyak kemudahan bagi pengunjung Lombok Epicentrum Mall.

Launching Kerjasama Bluebird dengan 7 tenant di Lombok Epicentrum Mall

Pada Senin, 28 Agustus 2017 kemarin, sebagai salah seorang pengguna setia Lombok Taksi ^_^ saya berkesempatan hadir dalam launching kerjasama antara Bluebird dan 7 tenant yang ada di Lombok Epicentrum Mall. Kerjasama ini tentu saja bertujuan untuk meningkatkan pelayanan Bluebird kepada masyarakat, mengingat permintaan taksi dengan tujuan Lombok Epicentrum Mall bisa mencapai 200 per hari, hal ini disampaikan langsung oleh Manager Pool Lombok Taksi, Bapak Amir Muslim. Ketujuh tenant yang telah bekerja sama yaitu Burger King yang memberikan diskon 20%, My Kopi O 10%, Qua-Li 10%, Omah Cobek 10%, Excelso 10%, Ikan Goreng Cianjur 10%, serta gratis 5 permainan di Timezone. Diskon ini diberikan tentu saja bagi pengunjung yang datang ke Lombok Epicentrum Mall menggunakan Lombok Taksi.

Senada dengan Bapak Amir Muslim, General Manager Lombok Epicentrum Mall, Bapak Salim Abbad yang kala itu juga berkesempatan memberikan sambutan sangat mengapresiasi kerjasama ini, beliau berharap kerjasama ini dapat menjadi magnet bagi pengunjung Lombok Epicentrum Mall.

IMG_4626

Tunjukkan History Trip melalui My Blue Bird, nikmati berbagai promo diskon

Promo diskon Burger King, My Kopi O, Qua-Li, Omah Cobek, Excelso, Ikan Goreng Cianjur, serta gratis permainan di Timezone dapat diperoleh dengan sangat mudah. Anda cukup memesan Lombok Taksi tujuan Lombok Epicentrum Mall melalui aplikasi My Blue Bird. Nah, ini penting nih bagi pengguna setia Lombok Taksi yang sudah terbiasa order melalui telepon, karena untuk memperoleh diskon pengunjung harus menunjukkan history perjalanannya menggunakan Lombok Taksi yang terdapat pada aplikasi My Blue Bird. Waah saya banget nih, kebiasaan order by phone mesti diubah jadi pakai aplikasi. Adapun promo diskon ini sudah mulai berlaku sejak 29 Agustus 2017.

IMG_4627(1)

Aplikasi My Blue Bird

Tentang aplikasi My Blue Bird, sejak pertama kali diluncurkan di Lombok pada awal tahun 2017 lalu hingga saat ini telah dimanfaatkan oleh sekitar seratus lebih pengguna. Nah, gimana nih teman-teman apakah kalian sudah jadi salah satu dari pengguna My Blue Bird? Bagi yang belum, segera download aplikasi My Blue Bird ya, tersedia di Google Play maupun App Store, langsung deh pesan taksinya cuss ke Lombok Epicentrum Mall, asyik kan agenda bermain dan makan-makan jadi makin hemat ^_^ .

 

 

 

 

Al Quran : Mukjizat sepanjang masa

Dulu, aku senang mendengarkan musik-musik. Musik memang menarik, walau kadang ada juga yang tidak menarik. Musik seringkali membawa bayang-bayang masa lalu, menebarkan kenangan di benak. Mendengarkan musik gembira bisa membuat hati turut bergembira sedangkan musik pilu yang mendayu-dayu bisa membuat hati ikut berduka, terkadang bisa sampai menitikkan air mata. Lambat laun musik yang aku anggap keren itu punya pesaing. Pesaing? Bisakah kusebut demikian? Entah terbiasa dari mana namun aku mulai suka mendengarkan murottal bacaan Al Quran. Aku tidak ingat bagaimana ceritanya aku jadi senang mendengarkan lantunan ayat-ayat suci melebihi kesukaan mendengar lagu, yang aku ingat surah Maryam adalah surah yang paling sering aku dengar. Sejak punya ponsel yang bisa menyimpan data termasuk musik-musik, aku mulai sering mendengar murottal kapan saja aku ingin. Surah Maryam dalam sehari semalam bisa kuulang berkali-kali, aku suka sekali surah ini, terdengar sangat indah dan syahdu tiap bacaan ayat yang diperdengarkan. Mendengarkannya bisa membuatku menangis, ini terjadi kala hatiku tengah mengeras. Saat sulit tidur juga seringkali kuperdengarkan surah ini hingga membuatku tertidur pulas. Lucunya, meski aku senang menikmati murottal terkadang aku juga masih suka mendengar lagu-lagu. Di dalam folder musik ponselku ada file yang berisi lagu-lagu, ada lagu Indonesia adapula lagu-lagu asing, dari genre pop hingga rock dan alternatif, aku suka-suka saja genre musik apapun asal enak didengar, di blog inipun aku punya satu tulisan yang bertajuk “saat aku suka lagu”, isinya cuap-cuap ngasal tentang beberapa lagu yang aku suka, ini tidak penting dibahas yah. Intinya aku mau bilang bahwa selain rutin mendengarkan ayat-ayat Al Quran aku juga masih senang mendengar musik-musik demikian, musik-musik apa ya namanya? Aku juga tak merasa ada perbedaan antara mendengarkan musik dan lagu dengan mendengarkan murottal, bagiku keduanya menghibur.

Beberapa waktu kemudian aku mulai malas mendengarkan musik. Beberapa lagu mulai aku hapus dari ponsel, aahh bukan beberapa tapi banyak. Aku hanya menyisakan beberapa saja, seperti lagu-lagu milik raihan, opick atau lagu-lagu bertema alam. Lagu tema cinta? Wahhh itu daftar pertama yang aku hapus, lagu-lagu jenis tersebut adalah jenis lagu perusak mental nomer satu, biang baper kelas kakap. Karena lagu-lagu tersebut sudah tak ada di ponselku otomatis tak ada lagi kesempatan mendengarkannya, kecuali aku bongkar-bongkar folder di laptop, tapi kadang aku malas, jadi lebih sering tidak pernah. Kadang juga aku streaming youtube, hehe godaan memang ada di mana-mana, semua mudah dengan adanya internet, aku bisa mencari lagu apapun yang aku mau, gampang dan hampir pasti selalu ada. Tapi lama-lama aku juga bosan, tak ada lagu yang benar-benar membuat senang dan benar-benar membuat nyaman. Oiya selain streaming lagu aku juga streaming hafalan-hafalan Al Quran dari banyak hafidz/hafidzah baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Meski lebih sering dari luar negeri dan lebih sering hafizd. Aku selalu senang mendengarkan bacaan-bacaan Al Quran, bukan senang sekadar senang namun seperti diliputi kesejukan dan kedamaian.

Lama-kelamaan ponselku benar-benar bersih dari musik-musik geje, aku lagi-lagi tak ingat kapan tepatnya hal itu terjadi, yang aku ingat aku memang ingin menghapus musik dari kebiasaanku, rasanya tak nyaman saja jika mempersandingkan folder murottal dengan folder musik-musik. Seorang temanku juga pernah bilang bahwa jaman sekarang Al Quran dan musik hanya sebatas folder, aku terkejut, tentu saja, karena aku pun begitu. Lalu dia tertawa, begitulah kenyataannya. Aku pun ikut tersenyum. Ponselku saat itu sudah tak punya folder musik. Ohh iya bukan ponsel tapi sejenis tablet dari merek tertentu, tidak penting juga aku sebut mereknya ya. Di gadget baru ini aku punya folder Al Quran 30 Juz, senangnyaaaa. Oh iyaa, aku jadi ingat, jika tidak salah aku mulai lebih sering mendengarkan bacaan alquran dibanding musik sejak diberi file al quran 30 juz oleh salah seorang sepupu. Sebelumnya aku hanya punya beberapa surah saja, seperti surah Maryam, Kahfi dan beberapa surah di juz 30. Ketika dia memberikan file satu alquran lengkap aku jadi punya kesempatan untuk mendengarkan banyak surah lainnya. Selain itu, kebiasaan sepupu yang rajin muroja’ah (mengulang-ulang hafalan) membuatku semakin senang mendengarkan murottal, saat berkendara pun dimanfaatkannya untuk mengulang hafalan. Hingga kemudian saat aku sedang menempuh pendidikan jauh dari rumah dan keluarga, al quran menjadi teman setia. Aku memang tidak rajin membawa mushaf al quran kemana-mana dan membacanya di manapun tapi tablet yang aku punya bisa digunakan untuk mendengarkan lantunan 30 juz lengkap, yang kemudian aku lengkapi dengan mengunduh aplikasi al quran mobile, sudah lazim sepertinya melihat orang mengaji menggunakan smartphone atau alat canggih lainnya.

Alhamdulillah lingkungan yang baik memang dapat membantu kita belajar hal-hal baik. Saat kuliah itulah aku mulai mengenal teman-teman yang menyenangkan. Menyenangkan dalam arti yang sedalam-dalamnya. Mereka senang mengikuti kajian, senang sholat tepat waktu, senang belajar agama. Bersama mereka aku terpacu ingin belajar banyak tentang al quran. Kami ikut kelas bahasa arab, kelas tahsin, tahfidz, ikut pengajian. Semua hal ini membuat interaksi dengan Al Quran menjadi lebih dekat. Aku memang tidak serta merta menjadi pribadi yang benar-benar baik pun shalihah, namun aku memahami bahwa inilah Al Quran, Al Furqan (pembeda yang benar dan yang salah), As-Syifa’ (penyembuh), Adz-Dizkr (pemberi peringatan), Al-Huda (petunjuk), Ar-rahmat (karunia), Al-Hukm (peraturan), Al-Hikmah (kebijaksanaan), AL-Kalam (firman), An-Nur (cahaya) dan karena itulah mendengarkan dan membaca Al Quran tak akan pernah bisa disamakan dengan mendengarkan nyanyian-nyanyian, musik-musik dan segala rupa-rupa buatan manusia, meski seindah apapun.

Aku pun mulai sering mendengarkan surah-surah lainnya. Aku sangat suka surah Al-Mulk, Al-Qalam, dan banyak surah lainnya di juz 29. Begitupula surah Kahfi, dan saat ini aku sedang mengulang-ulang surah Al-Baqarah, jujur seluruh Al Quran sangat indah. Sebenarnya semakin sering aku mendengarkan setiap surah tersebut maka makin bertumbuh kecintaan dan kesukaanku. Semakin menyadarkanku bahwa semua firman yang Allah turunkan adalah kebenaran dan diliputi keberkahan. Apalagi jika bukan sekadar mendengarkan namun membacanya, memahami artinya dan mengamalkan dalam kehidupan.

Al-Quran adalah firman Allah SWT yang diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia, pembeda antara yang haq dan yang bathil, sebagai karunia, sebagai sumber hukum dan peraturan, sebagai pemberi peringatan sebagai pelipur lara. Jika kita mengikutinya maka tiada yang sulit dalam hidup ini. Di dalamnya ada keberkahan yang tiada terkira. Aku pernah sedih, namun dengan membaca Al Quran kesedihan itu hilang, Allah berfirman “laa tahzan, innallaha ma’ana” (At-taubah : 40). Aku pernah takut namun aku tahu bahwa Allah adalah sebaik-baik pelindung, “hasbunallah wa ni’mal wakiil”(Ali Imran 173), pun saat raga ini sakit, saat hati ini luka, tak ada obat yang lebih mampu menyembuhkan selain Al Quran. Hanya Al-Quran yang mampu menghadirkan kedamaian yang tak bisa dihadirkan oleh segala rupa kebendaan duniawi yang nampak elok menggoda. Demikianlah Al Quran, mukjizat terbesar sepanjang masa.

“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa” (Al Baqarah : 2)

Mataram, 10 Ramadhan 1437 H

Tentang Menulis dan Membaca

2015-01-20 10.50.17

Menulis adalah perkara kecintaan dan ketulusan. Kecintaan terhadap sesuatu yang ditulis dan ketulusan dalam menuliskannya. Saya adalah golongan orang yang sangat percaya bahwa tulisan yang layak dan enak dibaca adalah tulisan yang ditulis dengan cinta dan ketulusan. Tulisan-tulisan yang demikian akan mudah membawa pembacanya ke dalam alam pikiran sang penulis, nyaman dan terbuai dalam nikmatnya tiap kata yang dirangkai hingga mampu menyelami kedalaman makna yang ingin disampaikan, apapun bentuk tulisan itu. Saya ingat pernah menulis sebuah cerpen yang saya tulis dengan sepenuh hati dan perasaan saya, juga pernah menulis cerpen yang saya “coba” tulis menggunakan “hati”, keduanya saya serahkan untuk dibaca oleh teman-teman. Hasilnya? Mereka bisa dengan mudah membedakan mana tulisan yang nyaman dibaca dan mana yang tidak. Tentu saja cerpen yang saya tulis dengan sepenuh hati jauh lebih berkesan dibandingkan tulisan yang mencoba menggunakan “hati”.

Lucunya, jika menulis adalah masalah kecintaan dan ketulusan, maka membaca punya permintaan lebih, membaca adalah masalah selera. Seperti saya yang menyukai novel-novel kontemporer (halah sok banget bahasanya), bukan-bukan, saya penyuka novel apa saja asal enak dibaca. Jadi maksud saya, meskipun ada seorang penulis yang telah membuat tulisan yang bagus dengan penuh cinta dan ketulusan yang kemudian dibuktikan dengan banyaknya peminat buku-bukunya, maka tetap saja tulisan tersebut tidak akan memuaskan semua pihak. Ya, pihak yang dimaksud adalah orang-orang yang mungkin tidak berselera dengan jenis tulisan tersebut, atau kurang suka dengan gaya penulisannya, atau tidak tertarik dengan materi yang dikaji, atau tidak nyaman dengan pilihan diksinya, atau alasan-alasan lainnya. Ada satu penulis novel yang namanya cukup terkenal di negeri ini, novelnya sudah sangat banyak, pembacanya juga banyak dan itu membuat saya penasaran ingin membaca tulisannya. Sebuah novel manis karyanya saya beli dan mulai membacanya, hingga sekarang bahkan bagian pertama dari novel tersebut tak sanggup saya selesaikan, tak kuat saya membacanya. Singkat saja, saya tak nyaman dengan pilihan kata yang digunakan, bukan tidak bagus, hanya masalah selera kata saya.

Oke, dua paragraf di atas sebenarnya hanya kalimat pembuka (pembuka? gak salah pembukaan sampai dua puluh baris lebih?), nah kaan saya salah lagi, bukan itu maksud saya, yang saya maksud adalah (halah, rumit tenan bahasanya) paragraf di atas memberikan gambaran mengenai fenomena menulis dan membaca. Seolah-olah, suatu tulisan hanya akan layak ditulis jika sang penulis telah tiba pada kecintaan dan ketulusannya, hei hei sampai kapan? Bagaimana jika perasaan seperti itu tak muncul-muncul? Lalu kapan mulai menulisnya? Bisa jadi sampai kapan pun tak akan ada tulisan yang terlahir. Nahhh, jujur-jujuran lagi, saya sering sekali menghadapi hal demikian, bahkan sekadar untuk menulis ala-ala di blog saja saya butuh pertimbangan yang matang, ide sudah sampai beratus-ratus #sombong #padahalidecurhat namun setiap ingin menulis rasa tulus yang saya butuhkan tak kunjung hadir akhirnya jadilah tulisan gagal tulis #apacoba.

Sama halnya dengan kebiasaan membaca yang sulit sekali dibiasakan hanya karena kita tidak punya selera. Padahal nih padahal, selera atau gak selera biasanya hanya muncul di awal, kalau kita berani mencobanya barulah kita tahu rasa yang sebenarnya. Jadi, diiciplah lah dahulu mana tahu ternyata kita jadi doyan, lagi pula membaca kan tidak sesulit menulis. Menulis itu butuh ide, butuh sumber, butuh bahan baku, lah kalau membaca kan ya tinggal baca aja, beres. Oh iya, selain selera ada satu lagi nih alasan paling gak mutu sejagad raya yang menyebabkan kita gak mau membaca, MALAS, yaelahhhh ini sih emang penyakit segala hal. Bodohnya lagi, malas baca tapi rajin membagi, paham lah ya ituloh tren orang-orang di media sosial yang sering bagi-bagi berita, info dan sebagainya tanpa dibaca dulu, tanpa mengecek sumbernya tanpa dikaji, langsung aja main bagi-bagi, jangan gitu deh, mending kalau beritanya benar, kalau salah gimana??

Intinya, membaca ataupun menulis, keduanya sama-sama penting. Banyak manfaat yang kita dapat jika mampu membiasakan dua hal ini dalam kehidupan sehari-hari. Jadi gak selalu harus menunggu cinta, tulus dan selera dulu, yang penting adalah memulai, ehh bener gak ya? Pikirkanlah sendiri, yang jelas untuk hal-hal yang baik dan bermanfaat gak usah kebanyakan mikir dan cari alasan :D.

Kala hening.

Mataram, 12 Mei 2016  03:16