Taipei Nightlife

Taipei nightlife atau kehidupan malam di Taipei. Hehe, please jangan sampai salah fokus ya sama judulnya. Sebenarnya tulisan ini bukan bercerita tentang “kehidupan malam” di Taipei tapi lebih tepatnya suasana malam di Taipei. Jadi ceritanya nih, saat ikut short course dikti setahun lalu di Taipei Medical University, jadwal course-nya kan rata-rata mulai dari jam 8 pagi dan berakhir jam 5 sore, bahkan ada yang sampai jam 6 (kalau di Taipei ini sudah malam, karena waktu sholat maghrib sekitar jam 5), karena itu kalau ingin jalan-jalan saat weekdays ya jalannya pasti malam. Nah, apa aja sih yang saya temui saat berkeliling kota Taipei di malam hari, simak yuk 🙂

1. MRT yang padat penumpang

MRT atau Mass Rapid Transportation adalah moda transportasi semacam kereta cepat yang tersebar di seluruh penjuru Taipei, menghubungkan wilayah di Taipei, dari selatan ke utara, dari barat ke timur dan sebaliknya. MRT ini adalah transportasi publik yang jadi andalan warga Taipei. Pengalaman naik MRT sekitar jam 5 sore sampai 7 malam pasti padat penumpang, padat sepadat-padatnya, mungkin karena jam 5-7 sore adalah jam pulang kantor sebagian besar orang. Yah, mirip dengan Jakarta saat jam pulang kantor, stasiun kereta pasti ramai. Bedanya mungkin karena di Taipei segala sesuatunya serba teratur, jadi meskipun ramai tetap terlihat rapi, sepintas seperti melihat kerumunan semut yang bergerak cepat. Hiii, saya sempat bergidik geli saat berada di lantai 2 salah satu stasiun MRT dan melihat pergerakan orang-orang yang sangat cepat saat keluar maupun masuk kereta.

2. Night market

Nah, bercerita tentang Taiwan. khususnya Taipei rasanya karang lengkap jika tidak membahas night market-nya. Hampir di setiap distrik di kota ini bisa dengan mudah kita temukan night market. Night market mulai buka sore hari sekitar pukul setengah 5, namun jika masih sore pengunjung belum ramai, toko pun belum banyak yang buka. Semakin malam maka suasana night market akan semakin sesak. Layaknya pasar pada umumnya maka di night market semua tersedia. Mulai dari makanan ringan, makanan berat, minuman, buah-buahan, mainan anak, pakaian anak, pakaian dewasa, sepatu, tas, semua ada. Toko aksesoris juga bertebaran di penjuru pasar, toko alat tulis, toko oleh-oleh, adapula toko khusus yang menjual koper (yang ini saya sampai surprised hehe, malam terakhir di Taipei saya sempatkan membeli koper, karena koper yang dibawa dari Indonesia sudah kelebihan muatan). Salah satu night market terbesar dan sangat terkenal di Taipei adalah Shilin Night Market. Di Shilin Night Market, segala sesuatunya tersedia dan menurut kabar harga barang-barangnya juga cukup terjangkau. Pasar bukan sembarang pasar, night market di Taipei merupakan salah satu destinasi wisata andalan yang wajib dikunjungi oleh para pelancong, rasanya belum ke Taipei jika belum mencicipi serunya berbelanja di night market.

3. Lampu unik Taipei 101

Menara 101 di pusat kota Taipei ini merupakan landmark yang sangat terkenal. Gedung setinggi 101 lantai tersebut merupakan tempat perniagaan dan juga perkantoran. Pada malam hari lampu menara 101 akan menyala dan menampilkan warna yang berbeda. Mirip warna pelangi mejikuhibiniu, warna warni di tiap malam menjadi daya tarik tersendiri bagi menara 101. Berturut-turut dari senin sampai minggu warna yang muncul yaitu merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Oleh karena letaknya di pusat kota dan cukup tinggi maka keindahan gedung ini dapat dinikmati dari berbagai sudut. Banyak orang duduk bersantai di taman atau di kafe sekadar untuk menikmati cahaya lampu dari manara 101. Jadi, saat anda berkunjung ke Taipei nanti jangan sampai lupa untuk berfoto di depan Taipei 101, terutama saat malam hari.

taipei101
Berfoto di dekat Taipei 101. Coba tebak saya berfoto di hari apa?

4. Jalan ramai oleh pedestrian

Satu hal lagi yang teramati saat saya menyusuri kota ini di malam hari adalah ramainya jalan oleh pedestrian (pejalan kaki). Sebenarnya tidak hanya malam hari, pada dasarnya orang-orang di sini memang senang berjalan kaki, hanya saja karena malam hari kendaraan mulai berkurang maka semakin terlihatlah para pejalan kaki ini. Saya dan kawan-kawan pernah pulang dari night market sekitar pukul 11 malam, dan saat itu sangat ramai pejalan kaki. Mereka beragam, beberapa masih dengan pakaian resmi seperti baru pulang dari tempat bekerja atau pulang menghadiri jamuan teman, beberapa berpakaian olahraga, sebagian lain berpakaian santai berjalan-jalan membawa hewan peliharaan mereka. Beberapa dari mereka mungkin baru pulang cuci mata di night market sama seperti saya dan kawan-kawan, haha.

Mungkin masih banyak hal-hal yang saya tidak ketahui tentang suasana malam di Taipei, namun inilah yang saya rasakan selama 3 minggu tinggal di kota ini. Tidak ada hal yang mengganggu, semuanya menyenangkan. Taipei treated us so well :). Oh iya, ngomong-ngomong orang-orang di Taiwan tidak senang dengan hal-hal yang berisik, jadi kalau sudah malam hari usahakan di rumah/flat/apartemen jangan membuat keributan. Menyalakan mesin cuci, tertawa keras saat menonton film favoritmu, atau ribut mencari kunci flat yang lupa disimpan di mana, hehe. Pantas saja, di sini saya tidak pernah melihat ada kerumuman orang duduk-duduk sambil berbincang keras, bermain gitar sambil bernyanyi atau aktivitas lain yang biasanya mudah ditemukan di negeri kita :).

 

 

Catatan Kiara : Malam Pertama 1 Ramadhan 1439 H

Hampir pukul 10 malam, Kiara baru saja selesai membaca Al Quran. Ia melepas mukena, melipat lalu meletakkannya di tumpukan perangkat shalat di rumahnya. Begitu pula dengan Al Quran yang dibacanya tadi, dengan hati-hati disimpannya Al Quran tersebut pada tempatnya. Kiara masuk ke kamar untuk bersiap istirahat. Ia tak ingin sahur pertamanya terlewat karena ia telat tidur, yaaa malam ini adalah malam pertama bulan Ramadhan.

***

Tubuhnya telah merapat di kasur, bantal guling dipelukannya, doa sebelum tidur juga telah dipanjatkan, namun kedua mata Kiara enggan terpejam. Ia berusaha untuk tidur namun sulit, pikirannya masih terbayang tentang kejadian beberapa hari terakhir menjelang Ramadhan. Dalam beberapa hari ini telah terjadi teror di sejumlah kota. Jakarta, Surabaya, Sidoarjo, dan terakhir satu hari sebelum Ramadhan teror terjadi di kota Pekanbaru. Kejadian-kejadian tersebut telah menewaskan banyak korban. Di Rutan Mako Brimob Jakarta terjadi kekacauan di mana rutan tersebut sempat dikuasai oleh para napi yang pada akhirnya menyebabkan meninggalnya empat orang polisi dan seorang tahanan. Napi yang melakukan kekacauan di rutan tersebut diketahui merupakan tahanan kasus terorisme. Setelah kejadian di Jakarta tersebut muncul kemudian rentetan teror bom di sejumlah kota, bom-bom tersebut berupa bom bunuh diri. Salah satu yang paling menyesakkan adalah bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya yang menurut hasil penyelidikan dilakukan oleh satu keluarga, ya satu keluarga yang terdiri atas Ayah, Ibu, dua orang putra, dan dua orang putri. Pikiran Kiara semakin kacau, ia tak habis pikir dengan apa yang telah dilakukan satu keluarga tersebut. Sebuah keluarga yang kemudian begitu ramai diperbincangkan di ranah media sosial, entah di layar kaca, mungkin juga demikian karena Kiara memang sudah lama tak menonton tayangan di televisi. Satu hal yang tak henti-henti dibahas adalah perihal kehidupan beragama sang pelaku bom bunuh diri.

***

Di manapun Kiara membaca, apakah itu media online terpercaya, media abal-abal, opini maupun fakta yang diungkap lewat status-status orang yang mengenal pelaku bom tersebut, semua mengarah pada satu hal, pelaku tersebut beragama Islam, iya keluarga muslim. Entah Islam seperti apa yang diyakini oleh keluarga tersebut tetap saja kenyataan yang dilihat oleh banyak orang adalah mereka muslim, lengkap dengan segala ciri khas muslim muslimah yang taat. Berjenggot, rajin shalat berjamaah di masjid, istri dan anak berjilbab, tipikal keluarga muslim yang sangat umum dikenal di negeri ini. Namun perihnya, mereka melakukan aksi bom bunuh diri, di gereja, saat umat kristiani akan melaksanakan ibadah di hari minggu. Tak ada yang tahu apa motif mereka, apa yang menggerakkan satu keluarga tersebut hingga demikian mudahnya melakukan perbuatan keji seperti ini, perbuatan yang tak pernah diajarkan di dalam Islam. Satu keluarga tersebut meninggalkan dunia ini bersama dengan bom yang mereka bawa.

***

Kiara mungkin sama dengan kebanyakan muslimah di negeri ini. Berjilbab panjang meski tak sampai bercadar, rajin mendengarkan kajian meskipun kebanyakan kajian-kajian tersebut disaksikan lewat youtube, dan tentu saja senantiasa bersikap baik kepada siapapun, kepada muslim muslimah maupun mereka yang berbeda keyakinan. Kiara dengan ilmu agamanya yang masih sedikit ini selalu berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi, secara lahiriah maupun batiniah. Jangankan berbuat jahat pada manusia, membiarkan hewan kelaparan saja rasanya sangat berdosa. Maka Kiara sangat yakin, seorang muslim tidak akan mungkin memiliki keinginan untuk menyakiti orang lain. Maka kejadian teror bom maupun kekacauan yang muncul akhir-akhir bagi Kiara pribadi meski dilakukan oleh mereka yang beragama Islam namun jelas tidak mencerminkan akhlak seorang muslim. Sayangnya, bagaimanapun juga identitas muslim yang melekat pada pelaku tersebut mau tak mau telah menyeret pula pemahaman-pemahaman di dalam Agama Islam sebagai penyebab kejadian-kejadian ini.

***

Meski tak beranggapan bahwa teror bom yang muncul sebagai suatu bentuk pengalihan isu atau bentuk-bentuk lainnya, namun Kiara meyakini bahwa kejadian-kejadian ini tentu adalah rencana besar yang dikendalikan oleh entah orang atau kelompok tertentu yang mempunyai tujuan sendiri. Apa tujuan tersebut, tak ada yang tahu. Yang pasti adalah lewat kejadian-kejadian ini yang paling mendapat perhatian adalah Islam. Tak perlu mencari pembelaan atau apapun, kenyataan yang muncul adalah Islam disudutkan, khususnya beberapa aktivitas keislaman yang terlihat ekstrem. Ekstrem bagi sebagian orang, yaitu orang-orang yang tidak memahami Islam. Contoh paling sederhana adalah jilbab yang terulur panjang hingga cadar. Saat ini, di negeri ini telah terjadi pergeseran yang luar biasa, di mana jilbab bukanlah sesuatu yang aneh, bahkan sangat banyak muslimah yang menggunakan jilbab sesuai tuntunan bahkan hal ini pun terjadi di kalangan public figure. Para artis berbondong-bondong berbenah diri, mereka yang dulunya dikenal berpakaian terbuka sekarang telah berhijab dan meninggalkan kegiatan keartisan yang lebih banyak mudhorotnya menjadi kegiatan yang bermanfaat. Mereka beramai-ramai mengikuti kajian-kajian sunnah dan mereka tanpa ragu menampakkan kebaikan-kebaikan tersebut secara luas sehingga posisi mereka sebagai public figure akan mampu mempengaruhi banyak orang. Bukan tidak mungkin keadaan ini menjadi salah satu penyebab pihak-pihak yang membenci Islam berusaha menaburkan citra negatif tentang Islam sehingga timbullah ketakutan terhadap Islam.

***

Kiara kembali membayangkan bahwa memang ada sekelompok orang yang tidak senang jika Islam menjadi dikenal dan semakin luas. Berbagai cara dilakukan agar menghadirkan Islamophobia di masyarakat, masyarakat negeri ini bahkan di seluruh dunia. Maka sudah menjadi tugas kita semua sebagai muslim muslimah untuk senantiasa meningkatkan keimanan, senantiasa belajar, meningkatkan pemahaman, memperbaiki akhlak dan menjaga diri serta keluarga dari pengaruh-pengaruh jahat yang berusaha membelokkan pemahaman kita sehingga mengarah pada pemahaman yang keliru. Kiara semakin sedih saat ia mendapat kabar bahwa saat ini muslim muslimah yang berpakai sunnah selalu dicurigai, apalagi salah seorang saudara Kiara adalah perempuan bercadar, sungguh tak ada yang salah dengan cadar, bahkan cadar sangat menjaga dan melindungi. Kiara juga mendengar bahwa anak-anak semakin takut berpakaian syar’i, takut menjadi “terlalu” Islam. Kiara berdoa semoga keluarga-keluarga muslim di manapun berada tidak takut menunjukkan keislamannya, menunjukkan kepada dunia bahwa Islam itu penuh dengan cinta, kasih sayang, dan kebaikan, Islam adalah rahmatan lil aalamin. Semoga dengan kejadian ini justru kita semakin giat dalam kebaikan-kebaikan.

***

Buruknya pemahaman tentang Islam salah satunya adalah karena kita tidak membiasakan Islam dalam keseharian kita. Sudah saatnya kita menjadikan hal-hal tidak biasa menjadi kebiasaan. Kebanyakan orang merasa aneh dengan pakaian-pakaian wanita yang panjang tertutup, sebenarnya bukan pakaian panjang yang aneh namun kebiasaan berpakaian terbukalah yang membuat pakaian panjang dan tertutup nampak aneh. Orang-orang membaca AlQuran di tempat umum dianggap tidak biasa yaaa karena yang biasa kita lakukan adalah membaca majalah, komik, novel atau bacaan lainnya. Anak-anak ke masjid jarang kita lihat yang lebih ramai adalah anak-anak bermain sepanjang hari dengan gadget mereka atau dengan permainan lainnya. Anak-anak tidak belajar Al Quran, tidak tahu sejarah Islam, tidak paham Bahasa Arab tapi mereka sangat akrab dengan komik-komik dan novel, tokoh-tokoh fiksi yang penuh tipu daya, mereka juga sangat fasih berbahasa Inggris, bahkan sebagian juga pandai Bahasa Korea, Mandarin, Jepang atau Bahasa lainnya. Kitalah yang telah melupakan, kita yang tidak belajar dan kita pula yang tidak mengajarkan pada anak-anak kita sehingga mereka jauh dari pemahaman yang baik lalu mudah dicekoki dengan pemahaman yang salah. Maka sudah seharusnya atas segala yang terjadi kita kembali interospeksi diri, melihat pada diri kita. Orang-orang jahat di luar sana memang telah berbuat keji namun apa yang mereka perbuat seharusnya bisa dilawan bahkan dicegah andai kita sedari dini telah membiasakan diri kita, keluarga kita, masyarakat kita mengenal Islam secara kaffah, hidup dengan menjalankan syariat-syariat Islam, yang sayangnya saat ini masih dikenal separuh sisi. Sekelumit pemikiran ini yang terlintas dalam benak Kiara, yang membuatnya sulit sekali untuk terpejam. Kiara hanyalah satu dari jutaan orang yang mungkin sama-sama resah. Siapa pun saat ini wajar-wajar saja bila merasa tidak aman, kejadian seperti di Jakarta atau Surabaya bisa terjadi di mana saja dan menimpa siapa saja. Maka, hanya kepada Allah kita serahkan segalanya, memohon perlindungan dan kekuatan. Semoga kita semua senantiasa dijauhkan dari keburukan di dunia maupun di akhirat kelak.

***

Kiara membolak-balikkan badannya, ia bangun terduduk dan menengadahkan kedua tangannya seraya berdoa, doa memohon kebaikan bagi negeri ini serta kebaikan di dunia dan akhirat bagi seluruh muslimin dan muslimah. Tak lupa ia melafazkan niat berpuasa di bulan Ramadhan. Jangan sia-siakan bulan ini. Ramadhan adalah bulan yang mulia, perbanyaklah ibadah, perbanyaklah doa, berharap kebaikan yang banyak dan berkah. Kiara melirik jam di dinding, waktu sudah menunjukkan lewat jam 12 malam. Kiara menghela napas dalam, matanya mulai menyipit, ada rasa kantuk yang menyerang. Ia lalu menarik selimutnya menutupi seluruh tubuh, udara terasa agak dingin, semoga tak telat untuk bangun sahur ucapnya.

1 Ramadhan 1439 H – 17 Mei 2018

Welcome to Taiwan ^_^

“Welcome to Taiwan”, Selamat datang di Taiwan, inilah satu kalimat sederhana yang disampaikan oleh seorang teman lewat obrolan di WhatsApp beberapa hari menjelang keberangkatan saya ke Taiwan dalam rangka Short Course Health Sciences Dikti. Saya tersenyum menerima pesan ini, atmosfer kehidupan di sana sudah mulai terasa dan yang terpenting saya sudah tak sabar ingin menikmati suasana laboratorium dan aktivitas penelitian di perguruan tinggi tempat kami melaksanakan pelatihan nanti yaitu di Taipei Medical University.

Keberangkatan : 12 November 2017

Keberangkatan kami ke Taiwan sudah diatur sedemikian rupa sehingga seluruh peserta (total 17 orang) yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia (Mataram, Surabaya, Malang, Semarang, Jogjakarta, Bandung, Tasikmalaya, Jakarta, Serang, Banjarmasin, Kendari, Makassar, Pekanbaru, dan Medan) bisa berangkat bersama-sama dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta menuju Taoyuan Internatinal Airport. Saya berangkat dari Bandara Internasional Lombok berdua dengan Pak Safwan, rekan dari Universitas Muhammadiyah. Kami berangkat dengan pesawat pukul 6 pagi sehingga alhamdulillah sejak pukul 3 dini hari saya harus sudah bangun dan bersiap-siap, padahal kemarinnya saya baru pulang dari kampus sekitar pukul 5 sore, lanjut menghadiri undangan keluarga hingga pukul 8 malam, dan akhirnya tertidur pukul 12 malam setelah kelelahan packing. Sekedar curcol kalau saat itu saya benar-benar sedang lelah, plus baru pulih dari batuk dan demam, hiks.

Pesawat pagi yang kami tumpangi akhirnya sukses menjadikan saya dan Pak Safwan sebagai kloter pertama yang tiba di bandara Soetta. Kami tiba pukul 7 lebih sedikit, padahal pesawat ke Taipei baru akan berangkat pukul 14.25 wib, yess mari bobok dulu, hahahh sambil menunggu satu per satu rekan yang datang dari kota masing-masing.

Welcome to Taiwan 🙂 🙂

Alhamdulillah sekitar pukul 8 malam lebih sedikit (saya gak ingat pastinya) pesawat Eva Air yang kami tumpangi mendarat di Taoyuan International Airport. Kami lelah ya Allah (baru juga Jakarta-Taipei), bahkan setelah urusan keimigrasian, bagasi dan lain-lain, barulah satu jam kemudian kami benar-benar berasa ada di tempat yang baru. Alhamdulillah kami dijemput oleh Miss Pinfen, perwakilan dari ESIT (Elite Study in Taiwan) yang berada di bawah Ministry of Education (MoE). Lembaga inilah yang berkoordinasi dengan Dikti hingga akhirnya kami dapat mengikuti short course ini. Miss Pinfen sudah sering mengontak kami sejak masih di Indonesia, bertanya segala hal terkait kebutuhan termasuk masalah penginapan di malam pertama kami di Taipei, mengingat kami tiba cukup larut sehingga akan repot jika harus berpencar di apartement/hotel masing-masing. Anyway, thanks a lot ESIT, kami diinapkan di hotel yang, ehhm kalau disuruh bayar sendiri saya sih males, hehe, apalagi haya untuk beberapa jam, yap esok paginya kami  langsung menuju kampus Taipei Medical University untuk acara penerimaan dan pengenalan kampus.

tiba
Alhamdulillah, we officially arrived in Taiwan ^_^

Taipei Medical University

Pagi hari Senin 13 November 2017 perwakilan ESIT datang menjemput dan langsung membawa kami menuju kampus Taipei Medical University (TMU) yang rupanya berlokasi tidak terlalu jauh dari hotel tempat kami menginap. Mobil yang mengantar kami berhenti di halaman Taipei Medical University Hospital, rumah sakit milik TMU yang terletak persis bersebelahan dengan gedung kampus. Kami lalu menuju International Student Office untuk menyimpan koper-koper. Pukul 09.00 waktu Taipei kami sudah berkumpul untuk penerimaan. Simple, warm, and elegant, gak neko-neko dan gak ribet lah, di acara penerimaan itu salah seorang rekan kami, Mbak Yenni diminta untuk memberikan sambutan singkat mewakili para peserta sekaligus representative alumni, emmm rupanya Mbak Yenni meraih gelar masternya dari TMU ya. Setelah penerimaan resmi kami pun diajak berkeliling melihat beberapa gedung utama di TMU, berfoto bersama plus dapat goodie bag cantik (yihaaa, sukak). Pertemuan pagi itu ditutup dan dilanjutkan dengan kegiatan kami di tempat pelatihan masing-masing. Oiya, pelatihan yang saya ikuti dilaksanakan di Laboratorium Nutrisi, College of Nutrition and Health Sciences selama 20 hari waktu dunia.

penerimaan
Tujuh belas orang peserta Short Course bersama Head of International Office dan perwakilan mahasiswa Indonesia di TMU

Kegiatan kami di hari pertama di kampus berakhir sekitar pukul 4 sore, saatnya angkut barang dan menuju apartemen. Kami berpencar (karena memang pilihan tempat tinggal diserahkan ke tiap-tiap peserta). Alhamdulillah lagi-lagi Allah beri kemudahan, apartement kami sudah di-booking plus dibantu pembayarannya oleh teman (-nya teman) yang sedang kuliah di Taipei (terimakasih banyak-banyak ya, by the way masalah pembayaran jangan salah paham ya, kami hanya dibantu bayar terlebih dahulu, hari itu juga langsung dilunasi kok, hahahahh).

Selesai beberes sedikit di apartemen lalu shalat maghrib, kami keluar sebentar, tujuannya kenalan sama jalanan, toko-toko sekitar kampus, belajar rute bus dan MRT (Mass Rapid Transportation), selfie di spot andalan kota Taipei –> Menara Taipei 101 :D, makan malam masakan Indonesia (karena lambung belum penyesuaian), dan selesai.

taipei101-6
in frame : Diyah dan Mbak Desi-(my roomate) selama di Taipei. Fotografer : teman kantornya Mbak Desy aka yang lagi kuliah di Taipei aka yang nyariin kami apartemen + nge-booking + ngebayarin dulu aka yang bilang “Welcome to Taiwan” (as I said in the beginning of this post)

Ceritanya sampai di sini dulu, kapan-kapan dilanjut lagi, semoga yang baca gak bosen dan tetap penasaran tentang aktivitas kami selama di TMU, karena yang inimah baru remahan rempah ayam goreng di rumah makan Padang, ayam gorengnya nyusul, see yaa 🙂

–Diyah– 2 Januari 2018

 

Short Course Health Sciences in Taiwan 2017

monev
moment to remember : Foto bersama dengan Tim dari Dikti setelah monev

Apa itu Short Course Health Sciences?

Adakah yang pernah mendengar tentang program ini? kalau belum, fyi, Short Course Health Sciences atau seterusnya disingkat SCHS ini adalah salah satu program dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) tepatnya Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti yang dilaksanakan sebagai upaya mendukung peningkatan kapasitas dan kompetensi sumber daya manusia (SDM) di lingkungan Kemenristekdikti, adapun yang menjadi sasaran peserta short course ini adalah para dosen dari PTN maupun PTS di seluruh Indonesia. Program ini sesungguhnya merupakan bagian dari Program Short Course Luar Negeri yang memang baru dimulai di tahun 2017. Selain Health Sciences, bidang-bidang yang juga menjadi prioritas pengembangan Iptek Nasional dan menjadi bagian dari Short Course 2017 ini adalah Spiritual Pedagogy, Tourism, Social Humaniora, Molecular Biology, dan Vocational Education, di mana tiap-tiap program dilaksanakan di negara berbeda, Spiritual Pedagogy di Mesir, Tourism di Hongkong, Social Humaniora di Belanda, Molecular Biology di Jepang, dan terakhir Health Sciences dan Vocational di Taiwan.

Kapan waktu pendaftaran dan apa såja persyaratan untuk mendaftar Short course?

Seperti yang saya sebutkan di atas, tahun 2017 ini merupakan tahun pertama pelaksanaan short course luar negeri oleh Dikti, oleh karena itu informasi yang beredar tentu masih sangat terbatas. Saya pribadi mendapat info tentang SCHS ini dari rekan kerja yang telah lebih dulu lolos seleksi short course bidang molecular biology ke Jepang. Sebagai info tambahan, kecuali bidang Health sciences dan vocational, seluruh bidang dalam short course masuk dalam gelombang I, yang mana tersedia rentang waktu yang cukup panjang dari pendaftaran, seleksi, pengumuman, pembekalan, hingga keberangkatan sedangkan SCHS dan vocational yang masuk gelombang II hanya memiliki sedikit waktu untuk persiapan dari pendaftaran hingga nantinya keberangkatan. Di tahun ini, pendaftaran gelombang I sudah dibuka sejak bulan Mei sedangkan gelombang II baru dibuka di bulan September padahal keberangkatan sudah dimulai di awal November. Sangatlah penting bagi kita untuk mempersiapkan lebih awal hal-hal yang kemungkinan menjadi persyaratan mendaftar maupun untuk keberangkatan nantinya jika kita lolos. Secara umum persyaratan seperti kualifikasi pendidikan, NIDN, dan jabatan fungsional harus terpenuhi, berikutnya adalah kemampuan berbahasa Inggris yang dibuktikan dengan sertifikat TOEFL atau IELTS, persyaratan lainnya tergantung jenis pelatihan yang diikuti, misalnya untuk SCHS ini maka peserta diminta untuk membuat proposal penelitian terkait bidang kesehatan. Informasi lebih lengkap bisa dibaca di Penawaran Program Short Course Luar Negeri.

Short Course Health Sciences di Taiwan?

Okey, pertanyaannya kenapa harus Taiwan? mmm saya juga saat membaca tawaran SCHS ini bertanya-tanya, mengapa Taiwan. Sebenarnya pilihan negara ada banyak, namun tentu saja setelah menilai dan menimbang, maka Dikti memutuskan memilih Taiwan. Ya ya ya, pertimbangannya apa? ya jangan tanya di sini ya,kan saya juga peserta bukan penyelenggara, hehe. Namun yang perlu diketahui bahwa Taiwan adalah salah satu negara di Asia yang secara sains dan teknologi, kesehatan, ekonomi sangatlah maju, sehingga tentu bukan asal pilih ketika negara ini menjadi tujuan pelatihan di bidang kesehatan. Adapun lokasi pelatihan ada di 2 tempat yaitu Taipei Medical University (TMU) dan National Taiwan University Hospital (NTUH) yang keduanya terletak di Taipei, ibukota Taiwan. Pada saat mendaftar program ini saya memilih pelatihan di Nutrition Laboratory yang akhirnya menghantarkan saya menjadi salah satu partisipan short course di College of Nutrition and Health Sciences, Taipei Medical University selama 20 hari.

Kegiatannya apa såja? Apakah luaran yang diharapkan dari Short Course ini?

Selama course kegiatan utama yang dilakukan adalah mengerjakan berbagai pengujian di laboratorium, mempelajari teknik-teknik pengujian eksperimental menggunakan hewan coba maupun kultur sel, serta diskusi. Di luar itu peserta juga difasilitasi untuk mengikuti seminar, student lab meeting, mengunjungi berbagai fasilitas lain seperti Core Facility Centre dan Cancer Centre sekaligus berdiskusi dengan pengelolanya, serta kesempatan untuk mengikuti workshop kepenulisan dan publikasi secara gratis. Kegiatan-kegiatan tersebut bisa jadi berbeda untuk satu program dengan program lainnya. Adapun luaran yang diharapkan adalah pertama adanya action plan untuk pengembangan masing-masing bidang yang dimulai dari perguruan tinggi dari mana peserta berasal. Kedua, lahirnya draft proposal penelitian ataupun draft artikel untuk dipublikasikan pada jurnal nasional terakreditasi maupun jurnal internasional bereputasi. Hal ini tentunya semakin mudah tercapai apabila para peserta berkolaborasi dalam melaksanakan penelitian, baik kolaborasi dengan perguruan tinggi di dalam negeri (dengan rekan dari PT sesama peserta course) maupun luar negeri (dengan PT tempat pelaksanaan course).

Adapun Short Course Health Sciences yang saya dan rekan-rekan ikuti telah berakhir pada tanggal 9 Desember 2017 yang lalu. Pelatihan selama 20 hari di Taipei Medical University telah memberikan banyak pelajaran baru bagi saya. Pelatihan telah usai, laporan telah dikumpulkan namun tugas panjang di depån mata untuk keberlangsungan manfaat dari kegiatan ini tetap menanti. Pada akhirnya, setiap kegiatan yang dilaksanakan  akan menjadi bermanfaat jika dapat membawa perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik, bagi para peserta dan PT tempat asal peserta khususnya maupun bagi masyarakat bangsa dan negara Indonesia secara luas.

Hmmm, ada yang tertarik ikut Short Course Luar Negeri di tahun depan? atau program-program lainnya dari Dikti? rajin-rajinlah berkunjung ke laman sumberdaya ristekdikti 🙂

gala diner
berfoto di depan “jam gadang” TMU sehabis gala dinner 🙂

Cerita tentang aktivitas saya di laboratorium, workshop publikasi yang saya ikuti dan curhatan selama di Taipei insyaa Allah akan hadir di tulisan selanjutnya yaaa… ^_^

Mataram, 25 Desember 2017

~ Diyah Ifada ~

 

 

Pesan Taksi Lewat Aplikasi My Blue Bird, Dapatkan Promo Diskon di Lombok Epicentrum Mall

BlueBird dan Lombok Epicentrum Mall

Bluebird, siapa yang tidak kenal dengan armada taksi yang satu ini. Di Lombok, khususnya di Kota Mataram, moda transportasi yang lebih dikenal dengan nama Lombok Taksi ini telah menjadi pilihan nomor 1 masyarakat, termasuk saya pribadi yang sehari-hari menggunakan taksi saat pergi dan pulang dari tempat bekerja, juga untuk tujuan lain seperti mengunjungi pusat perbelanjaan Lombok Epicentrum Mall (LEM). Saat ini Lombok Taksi telah bekerja sama dengan LEM dalam memberikan banyak kemudahan bagi pengunjung Lombok Epicentrum Mall.

Launching Kerjasama Bluebird dengan 7 tenant di Lombok Epicentrum Mall

Pada Senin, 28 Agustus 2017 kemarin, sebagai salah seorang pengguna setia Lombok Taksi ^_^ saya berkesempatan hadir dalam launching kerjasama antara Bluebird dan 7 tenant yang ada di Lombok Epicentrum Mall. Kerjasama ini tentu saja bertujuan untuk meningkatkan pelayanan Bluebird kepada masyarakat, mengingat permintaan taksi dengan tujuan Lombok Epicentrum Mall bisa mencapai 200 per hari, hal ini disampaikan langsung oleh Manager Pool Lombok Taksi, Bapak Amir Muslim. Ketujuh tenant yang telah bekerja sama yaitu Burger King yang memberikan diskon 20%, My Kopi O 10%, Qua-Li 10%, Omah Cobek 10%, Excelso 10%, Ikan Goreng Cianjur 10%, serta gratis 5 permainan di Timezone. Diskon ini diberikan tentu saja bagi pengunjung yang datang ke Lombok Epicentrum Mall menggunakan Lombok Taksi.

Senada dengan Bapak Amir Muslim, General Manager Lombok Epicentrum Mall, Bapak Salim Abbad yang kala itu juga berkesempatan memberikan sambutan sangat mengapresiasi kerjasama ini, beliau berharap kerjasama ini dapat menjadi magnet bagi pengunjung Lombok Epicentrum Mall.

IMG_4626

Tunjukkan History Trip melalui My Blue Bird, nikmati berbagai promo diskon

Promo diskon Burger King, My Kopi O, Qua-Li, Omah Cobek, Excelso, Ikan Goreng Cianjur, serta gratis permainan di Timezone dapat diperoleh dengan sangat mudah. Anda cukup memesan Lombok Taksi tujuan Lombok Epicentrum Mall melalui aplikasi My Blue Bird. Nah, ini penting nih bagi pengguna setia Lombok Taksi yang sudah terbiasa order melalui telepon, karena untuk memperoleh diskon pengunjung harus menunjukkan history perjalanannya menggunakan Lombok Taksi yang terdapat pada aplikasi My Blue Bird. Waah saya banget nih, kebiasaan order by phone mesti diubah jadi pakai aplikasi. Adapun promo diskon ini sudah mulai berlaku sejak 29 Agustus 2017.

IMG_4627(1)

Aplikasi My Blue Bird

Tentang aplikasi My Blue Bird, sejak pertama kali diluncurkan di Lombok pada awal tahun 2017 lalu hingga saat ini telah dimanfaatkan oleh sekitar seratus lebih pengguna. Nah, gimana nih teman-teman apakah kalian sudah jadi salah satu dari pengguna My Blue Bird? Bagi yang belum, segera download aplikasi My Blue Bird ya, tersedia di Google Play maupun App Store, langsung deh pesan taksinya cuss ke Lombok Epicentrum Mall, asyik kan agenda bermain dan makan-makan jadi makin hemat ^_^ .

 

 

 

 

Al Quran : Mukjizat sepanjang masa

Dulu, aku senang mendengarkan musik-musik. Musik memang menarik, walau kadang ada juga yang tidak menarik. Musik seringkali membawa bayang-bayang masa lalu, menebarkan kenangan di benak. Mendengarkan musik gembira bisa membuat hati turut bergembira sedangkan musik pilu yang mendayu-dayu bisa membuat hati ikut berduka, terkadang bisa sampai menitikkan air mata. Lambat laun musik yang aku anggap keren itu punya pesaing. Pesaing? Bisakah kusebut demikian? Entah terbiasa dari mana namun aku mulai suka mendengarkan murottal bacaan Al Quran. Aku tidak ingat bagaimana ceritanya aku jadi senang mendengarkan lantunan ayat-ayat suci melebihi kesukaan mendengar lagu, yang aku ingat surah Maryam adalah surah yang paling sering aku dengar. Sejak punya ponsel yang bisa menyimpan data termasuk musik-musik, aku mulai sering mendengar murottal kapan saja aku ingin. Surah Maryam dalam sehari semalam bisa kuulang berkali-kali, aku suka sekali surah ini, terdengar sangat indah dan syahdu tiap bacaan ayat yang diperdengarkan. Mendengarkannya bisa membuatku menangis, ini terjadi kala hatiku tengah mengeras. Saat sulit tidur juga seringkali kuperdengarkan surah ini hingga membuatku tertidur pulas. Lucunya, meski aku senang menikmati murottal terkadang aku juga masih suka mendengar lagu-lagu. Di dalam folder musik ponselku ada file yang berisi lagu-lagu, ada lagu Indonesia adapula lagu-lagu asing, dari genre pop hingga rock dan alternatif, aku suka-suka saja genre musik apapun asal enak didengar, di blog inipun aku punya satu tulisan yang bertajuk “saat aku suka lagu”, isinya cuap-cuap ngasal tentang beberapa lagu yang aku suka, ini tidak penting dibahas yah. Intinya aku mau bilang bahwa selain rutin mendengarkan ayat-ayat Al Quran aku juga masih senang mendengar musik-musik demikian, musik-musik apa ya namanya? Aku juga tak merasa ada perbedaan antara mendengarkan musik dan lagu dengan mendengarkan murottal, bagiku keduanya menghibur.

Beberapa waktu kemudian aku mulai malas mendengarkan musik. Beberapa lagu mulai aku hapus dari ponsel, aahh bukan beberapa tapi banyak. Aku hanya menyisakan beberapa saja, seperti lagu-lagu milik raihan, opick atau lagu-lagu bertema alam. Lagu tema cinta? Wahhh itu daftar pertama yang aku hapus, lagu-lagu jenis tersebut adalah jenis lagu perusak mental nomer satu, biang baper kelas kakap. Karena lagu-lagu tersebut sudah tak ada di ponselku otomatis tak ada lagi kesempatan mendengarkannya, kecuali aku bongkar-bongkar folder di laptop, tapi kadang aku malas, jadi lebih sering tidak pernah. Kadang juga aku streaming youtube, hehe godaan memang ada di mana-mana, semua mudah dengan adanya internet, aku bisa mencari lagu apapun yang aku mau, gampang dan hampir pasti selalu ada. Tapi lama-lama aku juga bosan, tak ada lagu yang benar-benar membuat senang dan benar-benar membuat nyaman. Oiya selain streaming lagu aku juga streaming hafalan-hafalan Al Quran dari banyak hafidz/hafidzah baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Meski lebih sering dari luar negeri dan lebih sering hafizd. Aku selalu senang mendengarkan bacaan-bacaan Al Quran, bukan senang sekadar senang namun seperti diliputi kesejukan dan kedamaian.

Lama-kelamaan ponselku benar-benar bersih dari musik-musik geje, aku lagi-lagi tak ingat kapan tepatnya hal itu terjadi, yang aku ingat aku memang ingin menghapus musik dari kebiasaanku, rasanya tak nyaman saja jika mempersandingkan folder murottal dengan folder musik-musik. Seorang temanku juga pernah bilang bahwa jaman sekarang Al Quran dan musik hanya sebatas folder, aku terkejut, tentu saja, karena aku pun begitu. Lalu dia tertawa, begitulah kenyataannya. Aku pun ikut tersenyum. Ponselku saat itu sudah tak punya folder musik. Ohh iya bukan ponsel tapi sejenis tablet dari merek tertentu, tidak penting juga aku sebut mereknya ya. Di gadget baru ini aku punya folder Al Quran 30 Juz, senangnyaaaa. Oh iyaa, aku jadi ingat, jika tidak salah aku mulai lebih sering mendengarkan bacaan alquran dibanding musik sejak diberi file al quran 30 juz oleh salah seorang sepupu. Sebelumnya aku hanya punya beberapa surah saja, seperti surah Maryam, Kahfi dan beberapa surah di juz 30. Ketika dia memberikan file satu alquran lengkap aku jadi punya kesempatan untuk mendengarkan banyak surah lainnya. Selain itu, kebiasaan sepupu yang rajin muroja’ah (mengulang-ulang hafalan) membuatku semakin senang mendengarkan murottal, saat berkendara pun dimanfaatkannya untuk mengulang hafalan. Hingga kemudian saat aku sedang menempuh pendidikan jauh dari rumah dan keluarga, al quran menjadi teman setia. Aku memang tidak rajin membawa mushaf al quran kemana-mana dan membacanya di manapun tapi tablet yang aku punya bisa digunakan untuk mendengarkan lantunan 30 juz lengkap, yang kemudian aku lengkapi dengan mengunduh aplikasi al quran mobile, sudah lazim sepertinya melihat orang mengaji menggunakan smartphone atau alat canggih lainnya.

Alhamdulillah lingkungan yang baik memang dapat membantu kita belajar hal-hal baik. Saat kuliah itulah aku mulai mengenal teman-teman yang menyenangkan. Menyenangkan dalam arti yang sedalam-dalamnya. Mereka senang mengikuti kajian, senang sholat tepat waktu, senang belajar agama. Bersama mereka aku terpacu ingin belajar banyak tentang al quran. Kami ikut kelas bahasa arab, kelas tahsin, tahfidz, ikut pengajian. Semua hal ini membuat interaksi dengan Al Quran menjadi lebih dekat. Aku memang tidak serta merta menjadi pribadi yang benar-benar baik pun shalihah, namun aku memahami bahwa inilah Al Quran, Al Furqan (pembeda yang benar dan yang salah), As-Syifa’ (penyembuh), Adz-Dizkr (pemberi peringatan), Al-Huda (petunjuk), Ar-rahmat (karunia), Al-Hukm (peraturan), Al-Hikmah (kebijaksanaan), AL-Kalam (firman), An-Nur (cahaya) dan karena itulah mendengarkan dan membaca Al Quran tak akan pernah bisa disamakan dengan mendengarkan nyanyian-nyanyian, musik-musik dan segala rupa-rupa buatan manusia, meski seindah apapun.

Aku pun mulai sering mendengarkan surah-surah lainnya. Aku sangat suka surah Al-Mulk, Al-Qalam, dan banyak surah lainnya di juz 29. Begitupula surah Kahfi, dan saat ini aku sedang mengulang-ulang surah Al-Baqarah, jujur seluruh Al Quran sangat indah. Sebenarnya semakin sering aku mendengarkan setiap surah tersebut maka makin bertumbuh kecintaan dan kesukaanku. Semakin menyadarkanku bahwa semua firman yang Allah turunkan adalah kebenaran dan diliputi keberkahan. Apalagi jika bukan sekadar mendengarkan namun membacanya, memahami artinya dan mengamalkan dalam kehidupan.

Al-Quran adalah firman Allah SWT yang diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia, pembeda antara yang haq dan yang bathil, sebagai karunia, sebagai sumber hukum dan peraturan, sebagai pemberi peringatan sebagai pelipur lara. Jika kita mengikutinya maka tiada yang sulit dalam hidup ini. Di dalamnya ada keberkahan yang tiada terkira. Aku pernah sedih, namun dengan membaca Al Quran kesedihan itu hilang, Allah berfirman “laa tahzan, innallaha ma’ana” (At-taubah : 40). Aku pernah takut namun aku tahu bahwa Allah adalah sebaik-baik pelindung, “hasbunallah wa ni’mal wakiil”(Ali Imran 173), pun saat raga ini sakit, saat hati ini luka, tak ada obat yang lebih mampu menyembuhkan selain Al Quran. Hanya Al-Quran yang mampu menghadirkan kedamaian yang tak bisa dihadirkan oleh segala rupa kebendaan duniawi yang nampak elok menggoda. Demikianlah Al Quran, mukjizat terbesar sepanjang masa.

“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa” (Al Baqarah : 2)

Mataram, 10 Ramadhan 1437 H

Tentang Menulis dan Membaca

2015-01-20 10.50.17

Menulis adalah perkara kecintaan dan ketulusan. Kecintaan terhadap sesuatu yang ditulis dan ketulusan dalam menuliskannya. Saya adalah golongan orang yang sangat percaya bahwa tulisan yang layak dan enak dibaca adalah tulisan yang ditulis dengan cinta dan ketulusan. Tulisan-tulisan yang demikian akan mudah membawa pembacanya ke dalam alam pikiran sang penulis, nyaman dan terbuai dalam nikmatnya tiap kata yang dirangkai hingga mampu menyelami kedalaman makna yang ingin disampaikan, apapun bentuk tulisan itu. Saya ingat pernah menulis sebuah cerpen yang saya tulis dengan sepenuh hati dan perasaan saya, juga pernah menulis cerpen yang saya “coba” tulis menggunakan “hati”, keduanya saya serahkan untuk dibaca oleh teman-teman. Hasilnya? Mereka bisa dengan mudah membedakan mana tulisan yang nyaman dibaca dan mana yang tidak. Tentu saja cerpen yang saya tulis dengan sepenuh hati jauh lebih berkesan dibandingkan tulisan yang mencoba menggunakan “hati”.

Lucunya, jika menulis adalah masalah kecintaan dan ketulusan, maka membaca punya permintaan lebih, membaca adalah masalah selera. Seperti saya yang menyukai novel-novel kontemporer (halah sok banget bahasanya), bukan-bukan, saya penyuka novel apa saja asal enak dibaca. Jadi maksud saya, meskipun ada seorang penulis yang telah membuat tulisan yang bagus dengan penuh cinta dan ketulusan yang kemudian dibuktikan dengan banyaknya peminat buku-bukunya, maka tetap saja tulisan tersebut tidak akan memuaskan semua pihak. Ya, pihak yang dimaksud adalah orang-orang yang mungkin tidak berselera dengan jenis tulisan tersebut, atau kurang suka dengan gaya penulisannya, atau tidak tertarik dengan materi yang dikaji, atau tidak nyaman dengan pilihan diksinya, atau alasan-alasan lainnya. Ada satu penulis novel yang namanya cukup terkenal di negeri ini, novelnya sudah sangat banyak, pembacanya juga banyak dan itu membuat saya penasaran ingin membaca tulisannya. Sebuah novel manis karyanya saya beli dan mulai membacanya, hingga sekarang bahkan bagian pertama dari novel tersebut tak sanggup saya selesaikan, tak kuat saya membacanya. Singkat saja, saya tak nyaman dengan pilihan kata yang digunakan, bukan tidak bagus, hanya masalah selera kata saya.

Oke, dua paragraf di atas sebenarnya hanya kalimat pembuka (pembuka? gak salah pembukaan sampai dua puluh baris lebih?), nah kaan saya salah lagi, bukan itu maksud saya, yang saya maksud adalah (halah, rumit tenan bahasanya) paragraf di atas memberikan gambaran mengenai fenomena menulis dan membaca. Seolah-olah, suatu tulisan hanya akan layak ditulis jika sang penulis telah tiba pada kecintaan dan ketulusannya, hei hei sampai kapan? Bagaimana jika perasaan seperti itu tak muncul-muncul? Lalu kapan mulai menulisnya? Bisa jadi sampai kapan pun tak akan ada tulisan yang terlahir. Nahhh, jujur-jujuran lagi, saya sering sekali menghadapi hal demikian, bahkan sekadar untuk menulis ala-ala di blog saja saya butuh pertimbangan yang matang, ide sudah sampai beratus-ratus #sombong #padahalidecurhat namun setiap ingin menulis rasa tulus yang saya butuhkan tak kunjung hadir akhirnya jadilah tulisan gagal tulis #apacoba.

Sama halnya dengan kebiasaan membaca yang sulit sekali dibiasakan hanya karena kita tidak punya selera. Padahal nih padahal, selera atau gak selera biasanya hanya muncul di awal, kalau kita berani mencobanya barulah kita tahu rasa yang sebenarnya. Jadi, diiciplah lah dahulu mana tahu ternyata kita jadi doyan, lagi pula membaca kan tidak sesulit menulis. Menulis itu butuh ide, butuh sumber, butuh bahan baku, lah kalau membaca kan ya tinggal baca aja, beres. Oh iya, selain selera ada satu lagi nih alasan paling gak mutu sejagad raya yang menyebabkan kita gak mau membaca, MALAS, yaelahhhh ini sih emang penyakit segala hal. Bodohnya lagi, malas baca tapi rajin membagi, paham lah ya ituloh tren orang-orang di media sosial yang sering bagi-bagi berita, info dan sebagainya tanpa dibaca dulu, tanpa mengecek sumbernya tanpa dikaji, langsung aja main bagi-bagi, jangan gitu deh, mending kalau beritanya benar, kalau salah gimana??

Intinya, membaca ataupun menulis, keduanya sama-sama penting. Banyak manfaat yang kita dapat jika mampu membiasakan dua hal ini dalam kehidupan sehari-hari. Jadi gak selalu harus menunggu cinta, tulus dan selera dulu, yang penting adalah memulai, ehh bener gak ya? Pikirkanlah sendiri, yang jelas untuk hal-hal yang baik dan bermanfaat gak usah kebanyakan mikir dan cari alasan :D.

Kala hening.

Mataram, 12 Mei 2016  03:16