Dear my visitors ^^

( judul pakai Bahasa Inggris, tapi isinya berbahasa Indonesia, maaf yaaa )

Cerita-cerita tentang blog nih. Blog Diyah mah apa atuh, biasa aja, isinya acak, kadang curhat kadang masak kadang puisi galau. Suatu ketika, si adek bilang, kak Diyah blognya kebanyakan curhat, hihiii mungkin dia lupa bahwa memang blog ini saat pertama kali didirikan dibuat memang tujuannya sebagai ganti diari konvensional, halah. Sudah pula isinya curhat-curhatan, jarang nge-post lagi ( lahh yaa bukannya bagus, ntar kalau keseringan posting curhatan, para pengunjung blog bisa mual muntah, enek gitu).

Oiya, ngomong-ngomong tentang pengunjung blog, kebetulan nih ya pengunjung blog ini kan gak banyak-banyak amat, jadi pas tetiba lihat ada pengunjung dari luar Indonesia itu rasanya gimana gitu. Bendera negara lain selain Indonesia, yang hampir selalu muncul adalah bendera negeri paman sam ( United States itu loh ) selalu ada. Entah itu dari negara bagian mana, entah itu orang yang sama atau bukan, entah itu dia benar-benar mengakses dari US, entah pula dia itu orang Indo yang tinggal di US atau orang mana, entahlah.

Hanya penasaran, kira-kira siapa ya yang dibaca apa ya? Diyah kan nge-posting jarang banget. Postingan lama juga hanya beberapa, kayaknya udah kelar juga dibaca ( ihh pede banget ada yang baca ). Ya sudahlah, ini hanya cerita-cerita saja, jangan diseriusin. Mohon maaf jika Diyah nampak berlebihan bicara tentang pengunjung blog, padahal blogger lain dengan pengunjung ratusan ribu bahkan jutaan biasa-biasa aja.

Sebagai penutup, Diyah ucapkan terima kasih bagi para pengunjung yang telah sudi mampir di blog sederhana ini, semoga tulisan yang ada di blog ini bisa bermanfaat untuk teman-teman dan pabila ada hal yang kurang berkenan mohon dimaafkan yaaaa.

Salam ^__^

Sepenggal kisah : Aku dan dia ( BNI46 )

Bagaimana cara yang tepat untuk menceritakan suatu hubungan yang terjalin indah? Nampaknya tidak mudah. Semakin indah dan manis suatu hubungan maka semakin sulit untuk mengungkapkannya. Maka biarkan saja orang lain yang melihat tanpa kita harus banyak mengumbar cerita.

Rasa-rasanya seperti inilah hubungan antara aku dan dia selama lebih kurang lima belas tahun. Aku tak sering memujinya, terkadang malah mengeluh tentangnya, tapi lucunya aku enggan berpindah ke lain hati. Bahkan meski aku sempat menduakannya, tetap dia yang menjadi nomor satu dan pada akhirnya menjadi pemenang dalam keseharianku.

Perkenalanku dengannya terjadi saat aku di bangku kelas 2 Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, itupun dia bukan sepenuhnya milikku, dia milik Ayah yang sementara waktu dipinjamkan kepadaku untuk memudahkan urusan finansial.

Waktu berjalan hingga kemudian aku masuk perguruan tinggi dan berhak memilikinya dengan tentu saja ada nama, nomor induk mahasiswa beserta foto diriku tercetak di sana. Itulah dia, KARTU ATM BNI pertama atas nama diriku yang sekaligus merupakan Kartu Tanda Mahasiswa ( KTM ) Universitas Hasanuddin. Kartu yang sangat cantik, dengan balutan warna pink yang manis. Kartu yang sangat aku banggakan. Aku hanya punya itu, ya kartu atm tanpa buku tabungan. Kala itu kami memang tidak diberi buku tabungan namun keberadaan atm itu saja sudah sangat bermanfaat.

Aku senang sekali bertransaksi ( baca : menyimpan dan mengambil uang ) menggunakan rekening KTM ini. Bayangkan, dengan menggunakan kartu ini aku masih bisa mengambil sejumlah dana dan kemudian menyisakan nominal yang sangat kecil. Kira-kira seperti ini, di rekening milikku hanya ada sejumlah Dua Puluh Tujuh Ribu sekian-sekian rupiah, lalu aku menarik sebanyak Dua Puluh Ribu Rupiah dan hanya menyisakan Tujuh Ribu sekian-sekian rupiah. Woww, berbulan-bulan lamanya rekeningku hanya didiami sekian ribu rupiah dan alhamdulillah rekening itu tetap hidup. Entah karena itu adalah kartu tanda mahasiswa atau alasan lainnya yang jelas aku senang.

Aku masih ingat, betapa dulu aku sangat bersyukur sebab sebuah gerai atm yang menawarkan penarikan dana dengan pecahan nominal Rp. 20.000,- terletak tak jauh dari tempat tinggalku. Aku rela berjalan sedikit lelah demi bisa mendapatkan uang pecahan dua puluh ribu. Bukan karena apa-apa tapi karena dana yang tersisa di rekening terkadang hanya Rp. 30.000,- atau Rp 40.000,- jumlah yang absurd karena tidak mungkin dapat diambil jika mesin atm yang ada hanya menyediakan pecahan 50 ribuan atau seratus ribuan.

Itulah sepercik kenangan manis yang terjalin antara aku dan BNI. Kenangan yang dapat membawa khayalku kembali pada masa saat kuliah dulu, di mana aku merasakan helaan napas lega ketika selembar uang dua puluh ribuan dapat keluar dari mesin atm yang berarrti aku masih punya beberapa rupiah untuk hari esok.

Saat ini, aku tidak lagi memegang kartu atm berwarna pink. Aku telah memiliki rekening sendiri, rekening yang dibuat bukan karena aku adalah mahasiswa baru. Aku punya rekening, buku tabungan beserta sebuah kartu atm berwana abu-abu mengkilap. Kini dia tak hanya sebagai tempat menyimpan dan mengambil uang. Aku melakukan banyak hal dengannya. Pembayaran telepon, tiket, membayar belanjaan semua menjadi mudah karenanya. Sesungguhnya masih banyak kegunaan lainnya, maafkan aku belum mengenalmu lebih jauh lagi.

Oh ya ada satu hal menarik yang kini terjadi lagi, saat ini aku sedang melanjutkan kuliah dan kembali berstatus mahasiswa. Pada suatu waktu aku masuk di gerai atm BNI di sekitar kampus lalu menjerit bahagia tatkala melihat salah satu mesin atm tersebut menyediakan pecahan dua puluh ribuan. Rasa senang yang dulu aku alami ketika kuliah S1 seperti terulang kembali. Maka ketika dana yang tersisa di rekeningku hanya delapan puluh ribu sekian-sekian rupiah, aku tahu apa yang harus aku lakukan, yaitu memilih mengambil uang dari mesin atm pecahan dua puluh ribu daripada dari mesin atm pecahan lima puluh ribu. Demi apa? Tentu saja demi mendapatkan jumlah uang yang lebih banyak.

Jika kalian juga mahasiswa, aku harap kalian bisa mengerti dengan apa yang aku lakukan. 🙂

Terima kasih BNI, aku sayang padamu.

Salam.

Diyah

Jangan bersedih, sakit ini adalah penggugur dosa-dosa

sakit

Segala puji dan syukur hanya kepada Allah, Tuhan penguasa alam.

Tidaklah mudah menjalani bulan puasa dalam keadaan sakit, namun aku bersyukur atas nikmat sakit ini. Andaikan sakit ini tak menghampiriku entah bagaimana aku akan menjalani ramadhan kali ini, ramadhan yang aku jalani jauh dari sanak keluarga, jauh dari rumah, jauh dari bapak dan mama. Aku sendiri, apapun yang ingin aku lakukan, hanya aku dan tentu Tuhan saja yang tahu.

Hari-hari pertama Ramadhan terlewati begitu saja, dengan rutinitas seperti biasanya hanya berbeda tiada aktivitas makan dan minum di siang hari. Bahkan shalat tarawih pun masih kujalani dengan sedikit berat hati. Tilawahku? Sungguh miris, tak banyak perubahan jika dibanding hari biasa.

Apa ini? Begitu tak bermaknanya kah bulan Ramadhan? Sehingga aku memperlakukannya dengan biasa-biasa saja. Seolah-olah aku lupa, bahwa ada begitu banyak kemuliaan di bulan ini. Aku lupa bahwa ibadah sunnah di bulan ini bernilai seperti ibadah fardhu, aku lupa bahwa sedekah di bulan ramadhan akan dilipat gandakan, aku lupa bahwa belum tentu ramadhan yang akan datang dapat kujumpai lagi.

Lalu, dengan tanpa diundang sakit ini datang. Diawali dengan kegiatan tak bermanfaat yang aku habiskan hingga larut malam, sebab pada hari itu aku tengah tak puasa, sehingga merasa diri boleh-boleh saja berleha-leha. Keesokan hari aku terbangun dengan tenggorakan yang meradang. Sakit, aku sudah menduga aku akan sakit, tapi tak kusangka akan seberat dan selama ini.

Jika biasanya radang tenggorakan dapat aku atasi dengan sekadar minum larutan penyegar dan makan yang banyak, kali ini beda. Rasa tak enak di tenggorokan memang berangsur-angsur hilang namun segera berganti dengan gejala pilek yang luar biasa. Tak henti-hentinya cairan kental kekuningan ini keluar dari rongga hidung, dilengkapi dengan kepala yang terasa berat, demam serta perasaan tak nyaman lainnya, badan lemah nan pegal-pegal tak karuan. Ya Allah, padahal pekerjaan di laboratorium belum jua usai, pekerjaan rumah tangga di kosan sedang menumpuk belum tersentuh, lalu bagaimana harus aku selesaikan sementara badanku rasanya ingin ambruk.

Lucunya, di beberapa malam saat tubuh terasa lebih enakan, aku yang belum berpuasa masih sempat-sempatnya bersenang-senang dengan gagdet. Tidak penting, sangat-sangat tidak penting. Aku pikir sakit yang hinggap ini hanya datang sehari dua hari, rupanya tidak demikian. Hari demi hari justru bertambah berat.

Wahai sakit, yang datang sebab masuknya bakteri ataukah virus lalu menginfeksi saluran pernapasanku, kapan ini berakhir? Aku tahu, pilek maupun flu biasanya tak bisa sembuh sehari dua hari, mungkin bisa seminggu tentu dengan istirahat dan makan yang teratur ditambah dengan vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Tapi aku tak mungkin bisa istirahat sebab setiap hari ada yang telah menunggu di ruang-ruang laboratorium, aku juga tak bisa makan teratur sebab aku harus berpuasa. Ahhh, sempat terlintas pikiran tak ingin puasa, sungguh aku merasa flu adalah sakit yang amat sangat berat. Sungguh Dia-lah Allah Subhanahu wa ta’ala yang Maha Pencipta yang telah menghidupkan materi yang sedemikian kecil seperti virus yang bisa merobohkan satu raga sekaligus jiwa yang sombong ini.

Aku bersyukur, sebab dalam diri masih ada iman kepada Allah. Aku malu pada Allah jika tak puasa, meski badanku sakit tapi aku ingin beribadah. Meski aku takut tubuh akan kekurangan nutrisi karena berpuasa tapi aku yakin Allah yang akan mencukupkannya. Bismillahirrahmaanirrahiim.

Rupanya ramadhan telah memasuki pertengahan. Aku sedih, tilawahku masih sangat-sangat minim. Aku mencoba membuka lembar demi lembar Al quran. Aku membacanya dengan kemampuan yang aku punya. Terasa sakit saat harus bertilawah dengan makhrajul hurf dan tajwid yang tepat namun tenggorokan, hidung, kepala dan mulut tak mendukung. Aku hanya bisa membaca beberapa ayat. Meski hanya sedikit namun kubiasakan agar tetap bisa membaca Al quran sebab aku tak tahu apalagi yang dapat aku lakukan dalam keadaan tak sehat seperti ini.

Hari kedelapan sejak sakit yang pertama. Demam masih naik turun. Kepala memang tak sakit lagi, namun aku dihadapkan pada gejala yang baru. Ya Allah, aku mual dan muntah. Apa yang aku makan saat berbuka tadi terpaksa harus aku keluarkan lagi. Aku sedih, ingin menangis rasanya. Berbuka dan sahur dengan makan seadanya lalu harus pula dikeluarkan lagi. Aku tak tahu sampai kapan ini. Ya Allah, demikian beratnya kah puasa ini?

Keesokan harinya, pilek yang aku alami mulai mereda. Jumlah lembaran tisu yang aku habiskan tak lagi sebanyak hari-hari kemarin. Namun, aku kedatangan satu gejala yang belum muncul di hari-hari kemarin. Batuk. Ya Allah, tenggorokanku tak nyaman dan dadaku serasa sesak. Aku batuk berkali-kali, batuk yang terasa beratnya, badanku pun meriang. Namun aku tetap bersyukur, Allah masih menganugrahkan tidur yang nyaman meski saat bangun aku harus menghadapi lagi batuk yang menyiksa ini.

Aku pun mulai berpikir haruskah aku minum obat? Obat apa? Aku memperkirakan sakit ini adalah infeksi yang disebabkan oleh virus, bukan bakteri, jadi tak tepat jika aku mengkonsumsi antibiotik. Obat batuk? Untuk apa? Aku pun paham sesungguhnya batuk adalah mekanisme pertahanan tubuh untuk mengeluarkan partikel-partikel maupun benda-benda asing termasuk mikroba dari dalam tubuh khususnya dari saluran pernapasanku. Lagi-lagi aku sepatutnya bersyukur sebab ini berarti tubuhku masih mampu untuk menghalau sumber-sumber penyakit itu.

Satu hal yang merupakan rahmat dari sekian banyak rahmat Allah adalah rasa nyaman yang menyelimutiku ketika aku bertilawah. Aku tak bisa melakukan apa-apa, badan yang menggigil menyebabkan aku hanya bisa meringkuk di balik selimut, aku hanya bergerak untuk shalat dan makan saja. Maka dalam tiap akhir shalatku sekuat tenaga aku mencoba melantunkan ayat-ayat suci Al Quran. Aku merasakan nikmat yang luar biasa, seolah-olah saat aku membacanya maka hilanglah sedikit demi sedikit rasa sakit ini. Kupandangi Al Quran yang indah ini, mukjizat yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, mukjizat yang diturunkan di bulan ramadhan yang penuh berkah ini. Aku yakin, inilah obatku, inilah obat yang aku butuhkan. Al Quran ialah as-syifa.

Ya Allah, aku berserah diri atas segala keadaan yang tak nyaman ini. Aku bersyukur sebab diizinkan merasa sakit saat menjalani ramadhan, semoga beratnya hambaMu menjalani puasa bersama sakit menjadi amalan yang mendapat ganjaran pahala di sisi-Mu, aamin yaa rabbal aalamiin.

Maka, janganlah bersedih, sesungguhnya sakit ini merupakan penggugur dosa-dosa, insyaa Allah.

Bandung, 6 Juli 2015, malam 20 Ramadhan 1436 H

Andai Bisa Terbang Gratis, Aku Akan Menemui Mama

Rindu itu berat, jangan terlalu lama menahannya. Cara terbaik mengelola rindu adalah meleburkannya dalam dekapan dia yang dirindukan.

Aku sedang kuliah di Bandung dan beliau tinggal di Lombok, ribuan kilometer jarak terbentang di antara kami. Jauh memang, namun apalah artinya jarak, semua akan dilalui demi bertemu yang tersayang. Beberapa bulan lalu, aku melonjak-lonjak kegirangan saat kutahu ada penerbangan langsung dari Bandung ke Lombok yang ditempuh dalam waktu hanya 1 jam 40 menit, aku pun mencoba rute penerbangan itu. Betapa bahagianya aku dapat bertemu beliau.

mom

Love You, Mom :*

Hari ini, rindu-rindu itu bergelora lagi, bulan ramadhan semakin dekat dan aku ingin melewati bulan ini bersamanya. Andai saja aku bisa terbang gratis ke Lombok hari ini juga. Continue reading

Sakit ( lanjutan )

( akan jadi sangat lucu ketika engkau sadar engkau tengah tidak sehat, tapi tak berusaha kau cari obatnya )

ASCII

bacanya sambil lihat keindahan alam ciptaan Allah, biar adem :), #obatdamai #obatantibete

Temans yang sudah baca postingan saya sebelumnya tentang penyakit tentu sudah tahu ciri-ciri dan perbedaan antara sakit fisik dan sakit “hati”. Kalau ada yang belum bisa membedakan nih saya kasih bocoran tanda-tandanya, jadi kalau suatu waktu kalian merasakan perasaan tidak nyaman dalam diri kalian tapi setelah di cek ternyata kondisi fisik kalian baik2 aja, tak ada yang salah, emmmm bisa jadi kalian sedang sakit “hati”. Bisa aja sih kalian bilang, “ahh enggak kok”, tapi ini bener loh, disadari atau tidak memang sedang ada yang error dalam diri kita.

Misalnya nih, lagi ngobrol sama teman, tiba-tiba teman ngomong sesuatu yang “DEGHH” bikin kalian serasa ditampar atau ditonjok, bukan tubuh kalian yang kena tapi sakitnya sakit banget, nahh waspada deh itu bisa dibilang “pas…kena di hati”. Kalau kalian punya sistem pertahanan yang oke, insya Allah rasa sakit yang seolah hasil “tamparan” atau “tonjokan” itu bisa dengan cepat dieliminasi namun kalau kalian lemah, gak punya benteng pertahanan, wohohooooo bisa-bisa nih gak cuma sehari tapi berhari-hari kalian akan merasakan yang namanya jengkel, sebel, kesel, benci, bete, marah dan lain-lainnya terhadap si temen yang udah ngomong “salah” terhadap kalian.

Kalau kayak gitu udah jelas deh kalian lagi sakit, “sakit hati” tepatnya. Nah, jangan berlama-lama dalam keadaan seperti ini, gak ada kan ya orang yang pengen sakit kepala tiap hari, atau diare berhari-hari, demam berhari-hari, pasti mereka akan mencari obat agar lekas sembuh. Sama juga dengan penyakit “hati”, segera cari obatnya. Obat yang paling mudah adalah secepat mungkin mohon ampun kepada Allah, istighfar sebanyak-banyaknya, makin banyak beristighfar insya Allah makin cepat penyakit-penyakit “hati” itu dikeluarkan. Selanjutnya tambahkan dengan segera berwudhu, air wudhu insya Allah dapat mendinginkan “hati” yang panas. Shalat dan bacalah Al-Quran dengan khusyuk, sebab mengingat Allah adalah sumber ketenangan hati.

So, jangan lagi risau, sakit itu wajar kan? Sebab dalam keseharian kita tak bisa dihindari kita akan selalu bertemu dan terpapar oleh agen-agen penyebab “penyakit”. Jadi, bukan masalah seberapa sering gangguan menghampiri kita, menyebabkan kita merasa “sakit”, namun yang terpenting mampukah kita menemukan obatnya dan mengelola rasa sakit tersebut. Ingat ya, obatnya adalah mendekatkan diri pada Allah, bukan selain-Nya. Andaikata kita sadar sedang mengalami “sakit” namun kita enggan mencari obatnya maka itu berarti setan dalam wujud hawa nafsu telah menguasai diri kita. WASPADALAH.

#notetomyself

Bandung, di hari libur 2 Juni 2015,