Menyapa Hari ( bag. 3 )

Hwahhhhh…senangnya bisa melanjutkan bagian ke-3 dari kisah Nuri setelah dua bulan lamanya. Bagi temans yang nyasar di postingan ini, silakan dibaca juga Menyapa Hari bagian 1 dan 2 ya biar gak bingung….lalalaaaa….Selamat menikmati….. ^_^

***

“Rinjani itu memukau, penuh pesona, bikin penasaran lah pokoknya” ucap Wulan yang tiba-tiba saja sudah duduk di samping Nuri.

“Pagi tadi mama aku telepon” ucap Nuri.

“Terus mama kamu bilang apa? , kamu dibolehin mendaki?”

Nuri menggelengkan kepalanya dengan lemas. Wajahnya nampak tak bersemangat. Meski mendaki Rinjani adalah impian yang sudah lama dirindukannya, namun ia tak ingin membuat mamanya cemas.

“Jadinya gimana Nur?, jadwal kita berangkat itu besok pagi. Kamu harus ambil keputusan hari ini. Kita naik sama-sama atau tidak sama sekali.”

“Aku gak tahu Lan”, jawabnya dengan ekspresi datar.

“Aduh Nuri, kamu itu ya kayak anak kecil yang selalu saja gak bisa berpendapat. Harusnya kamu bisa ambil keputusan dong, kita naik atau gak sama sekali. Siang ini kamu harus kasih kepastian ke aku, kalau memang kamu gak bisa mendaki, oke kita pulang sore ini juga” Wulan berlalu meninggalkan Nuri yang dalam kebimbangan.

***

Nuri melangkahkan kakinya menyusuri tepi jalan di Desa Sembalun. Dia sangat menikmati setiap sajian alam nan indah yang terpampang sejauh mata memandang. Barisan-barisan gunung, hamparan sabana yang tampak dari kejauhan, bunga-bunga matahari yang tengah mekar, sayur mayur yang siap dipanen, sungguh sulit menemukan hal semacam ini di kota metropolitas yang penuh kebisingan.

Nuri kembali merapatkan jaketnya. Lalu didekapnya kedua lengannya ke arah dada agar semakin terjaga ia dari udara dingin yang menggigit. Suhu di Sembalun pagi itu sekitar  17 oC, cukup dingin bagi tubuh Nuri yang memang tak pandai beradaptasi dengan suhu pegunungan.

Gadis 21 tahun ini berjalan pelan-pelan semakin menjauh dari hotel. Ia mengikuti jalur ke arah pendakian. Sebuah jalur jalan sempit yang datar dan nampak panjang, di kiri kanan terhampar padang sabana yang luas. Nuri mengenal gunung Rinjani dengan cukup baik. Ia sangat senang membaca kisah-kisah ataupun catatan-catatan perjalanan para pendaki yang pernah menjajaki gunung api tertinggi kedua di Indonesia ini, ia kerapkali mencari lewat mesin pencari di internet segala informasi tentang pendakian ke Rinjani. Bagaimana medannya, keindahan alamnya, penduduknya kecuali kisah-kisah tragis dan mistis, Nuri kurang menyukai membaca artikel yang terkait hal-hal yang tak menyenangkan.

***

Hari semakin beranjak siang. Matahari seperti telah sampai di atas ubun-ubun. Nuri masih saja berjalan, meski ayunan kakinya mulai terasa melambat. Nuri menghentikan langkahnya di satu jalan yang mulai nampak  tak mulus.

“Hai….” satu sapaan hadir mengejutkan Nuri. Ia membalikkan tubuhnya dan mendapati seorang laki-laki muda sudah berdiri di hadapannya.

“Eh..ehh..kamu yang pagi tadi di restoran kan?” tanya Nuri.

Pemuda itu hanya tersenyum sambil menyodorkan tangan tanda ingin berjabat. Belum sempat Nuri menyambut salam perkenalan itu, tubuhnya tiba-tiba terasa sangat lemas, kepalanya pusing, cahaya matahari membuat pandangannya semakin tak jelas, lalu brruuuukk….ia jatuh tersungkur.

***

kenapa nih ? ada apa dengan Nuri? siapa sih pemuda itu? wahhh ada banyak pertanyaan…selanjutnya gimana dong?

1. Nuri yang pingsan dibawa kabur oleh pemuda tak dikenal

2. Nuri ditinggalkan begitu saja di tengah jalan

Kalau sempat berilah pendapat 😀 #ngareeeeeeeep

Menyapa Hari (bag. 2)

Haiiii, ini adalah lanjutan dari kisah Nuri. It has taken a very long time for me to continue this story, i’m so sorry for everyone who are waiting for this inipun kalau emang ada yang baca ceritanya -_-

enjoy 😀

***

Nuri terus memperhatikan pemuda itu hingga batinnya semakin penasaran. Tak tahu mengapa, tapi ia ingin sekali berbincang-bincang dengan seseorang. Rasa penasaran itu membangkitkan keingintahuan Nuri. Ia pun berdiri  lalu berjalan menghampiri pemuda itu. Belum juga langkahnya menggapai tempat duduk si pemuda, dering telepon genggam menghentikan langkahnya.

“Nuri…” suara seorang wanita menyapanya.

“Ya ma, Nuri baik-baik aja ma, kenapa sih mama dari kemarin gak berhenti nelpon?”

“Mama khawatir sama kamu Nak. Ingat ya, kamu di sana cukup jalan-jalan saja, gak usah ikut-ikutan teman-teman kamu mendaki”

“Maa, please, Nuri sudah jauh-jauh ke sini”

“Kamu itu tidak pernah ikut-ikut yang begituan, nanti kalau kamu capek gimana? tersesat? Atau apalah, pokoknya mama gak mau dengar kamu kenapa-kenapa”

“iya ma..”

Ah mama, untuk apa aku jauh-jauh datang ke sini jika tak sempat memeluk Rinjani. Nuri mematikan telepon genggamnya, berharap tak ada lagi dering-dering yang mengganggu. Ia pun tersadar, pemuda yang ingin ditemuinya tadi sudah tak ada di sekitar restoran. Kemana dia, batin Nuri.

***

Pagi ini adalah pagi pertama Nuri di desa Sembalun, sebuah desa cantik di kaki Gunung Rinjani. Ia tiba malam tadi bersama-sama teman-teman yang baru dikenalnya lewat media sosial. Ada sepasang suami istri, Hana dan Faris, ada Erik seorang mahasiswa dari Jakarta dan  Wulan seorang mahasiswi yang merupakan perempuan asli Lombok, seorang teman yang dikenal Nuri beberapa waktu lalu dari jejaring sosial. Wulanlah yang bersedia menemani pendakian Nuri. Maklum saja selama ini Nuri belum pernah melakukan pendakian ke gunung manapun.

Tak punya pengalaman mendaki gunung membuat Nuri kerap kali didera rasa khawatir, apalagi mama sesungguhnya tidak mengijinkan Nuri untuk merasakan nikmatnya bercumbu dengan alam pegunungan.

Pagi ini pun Nuri belum benar-benar yakin apakah ia akan sanggup melewati perjalanan menuju puncak Rinjani. Perjalanan ini tidak mudah, Nuri sudah sering mendengar kisah-kisah tentang pendakian gunung. Kisah-kisah yang perih dan sakit namun sepertinya menyimpan kenikmatan yang luar biasa di dalamnya.

***

Loh, Nuri gak jadi ketemu sama si pemuda itu ya, hehe. Bagaimana pula dengan rencananya mendaki Rinjani?

1. Nuri akan tetap mendaki Rinjani, atau

2. Nuri ingat pesan mama dan mengurungkan niatnya untuk mendaki

sampai jumpa di bagian selanjutnya, dadaghhhh

Menyapa Hari

Halo Temans,

Pagi ini mau nulis apa yah? Sebenarnya sih lagi gak ada sesuatu yang ingin digores-gores. Tapi, demi menjaga konsistensi #eaaa, semangat untuk “keep writing” kapanpun, di manapun, okelah.

Kali ini Diyah mau berbagi satu cerpen yang ceritanya nih, dulu ditulis untuk diikutkan ke satu lomba, tapi yaa boro-boro dikirim, selesai juga tidak (wkwkwkwkwkk). Nah, rencananya cerpen ini mau di”remake“, secara Diyah suka banget sama intro-nya, tapi gak tau gimana menghadirkan klimaks hingga akhirnya mencapai ending yang oke.

Ini cerpen ditulis hanya suka-suka, boleh dong yaa kita mengerjakan apa yang kita suka, yang penting tidak merugikan orang lain, pokoknya gak berdampak buruk bagi kita dan lingkungan, hihihi… O iya, yang ditulis hari ini baru beberapa baris awal saja, kelanjutan ceritanya harap ditunggu dengan setia, semoga Diyah dapat ilham untuk bisa menggoreskan alur demi alur berikutnya.

Bagi siapa saja yang mungkin nyasar di postingan ini, bolehlah meninggalkan pesan-pesan manis yang bisa membantu penulisan cerita ini. Kritik dan saran semoga saja bisa Diyah diterima dengan lapang, dadaggggghhhh 😀

Cerpen : Judul belum terpikirkan

Nuri merapatkan jaket tebalnya, menghela nafas panjang lalu menghembuskannya pelan-pelan. Meski sesekali pandangannya diarahkan ke hadapan puncak Rinjani yang menjulang indah namun pengamatannya tak pernah lepas dari muda mudi yang duduk berdua beberapa meter dari hadapannya.

Sejenak Nuri melirik arlojinya, jam menunjukkan pukul 08.00 pagi. Perut yang berontak karena kelaparan akhirnya memaksa Nuri beranjak dari tempat duduknya, menyusuri jalan-jalan di sekitar penginapan. Jalan-jalan yang lengang, di kiri dan kanan ditumbuhi banyak jenis sayuran, udara yang masih sangat segar, bebas dari polusi. Sejauh mata memandang terbentang pegunungan yang elok. Nuri melangkahkan kakinya memasuki area restoran tempat ia menginap, tak banyak tamu di sana. Hanya nampak seorang pemuda yang kira-kira sepantaran dengannya sedang menikmati sarapan. Nuri mengambil tempat duduk di sudut yang jauh dari pandangan orang lain. Pagi itu ia menikmati sepotong roti bakar dan segelas coklat hangat. Perpaduan yang sangat tepat di kala udara dingin mendera. Roti bakar yang empuk ditemani segelas coklat hangat yang manis cukuplah untuk meredam suasana hati yang gundah.

Nuri mengamati sekeliling restoran. Sepi sekali. Bahkan hingga lebih dari setengah jam ia menghabiskan pagi di restoran itu, pengunjung tak juga bertambah. Matanya pun terhenti pada pemuda yang sudah dilihatnya sejak datang pagi tadi. Tampankah? ahh tidak juga, batin Nuri. Yaa, Nuri tentu tak bisa menilai seratus persen. Wajah pemuda itu tak terlihat jelas. Sebagian mukanya tertutup oleh tudung dari hoodie yang dikenakannya.

–bersambung–

Kira-kira kelanjutannya seperti apa yaa?

1. Apakah Nuri akan makin penasaran dengan pemuda tadi dan berusaha mengenal lebih jauh?

2. Apakah Nuri tidak peduli dengan pemuda tersebut lalu segera meninggalkan restoran karena sarapannya sudah habis?

Kita lihat saja nanti 😀

 

Salam

Diyah

 

Janji tinggal janji

Hehe, ini adalah kata-kata untuk diri sendiri yang hobi bikin janji tapi gak pernah ditepati, yaaa janji hanya tinggal janji.

Sejak ingat bahwa saya punya blog maka dari lubuk hati paling dalam saya telah berjanji untuk rajin menulis di blog ini. Tapi, apa yang terjadi? tetap saja blog ini isinya gitu-gitu aja. Langkah terseok-seok, postingan sekali-sekali banget, padahal ya manteman di kepala ini ada banyak hal yang ingin saya tuangkan. Namun, sebanyak apapun ide yang terlintas dan ingin dituliskan tetaplah lebih banyak alasan untuk akhirnya menghindar dan matilah ide-ide itu *hufft

Oke, demi mencipta sesuatu yang bernama tulisan, malam ini saya akan berbagi satu cerpen lagi ( cerpen saya, saya buat sendiri, murni tanpa campur tangan pihak manapun #ehh #lebayy ), cukup lama, ditulis pada februari 2010 ( apaaa? bentar lagi masuk TK :0 ), ceritanya terinspirasi oleh seseorang, judulnyaaa hingga kini belum ada, alurnya mungkin agak membingungkan tapi kalau kalian suka sudilah dibaca, boleh juga tinggalkan komentar dan berilah alternatif judul, hehehe #ngarep

Setelah ini, saya benar-benar berharap semoga bisa menulis yang lebih baik, bisa menyajikan sesuatu yang lebih bergizi lewat blog ini. Semoga bukan lagi sekadar janji tinggal janji.

Selamat menikmati.

Cerpen oleh : Diyah Ifada

***
“Ada sesuatu di sini”, kataku seraya menunjuk ke satu bagian yang orang awam selalu bilang ‘hati’
“sudah lama?” Belum begitu lama, jawabku lagi. Kira-kira 3 bulan. Dulu aku bilang ini terhitung lama, tapi karena dia pernah bilang itu baru sebentar, karena dia dulu pernah rasa seperti ini hampir 3 tahun jadi dia anggap 3 bulan itu sebentar.. maka aku juga ikut-ikutan bilang ini baru sebentar.
“ Rasanya seperti apa?” Aku bilang seperti orang kehilangan otak. Otak kiri yang aku maksud. Otak kanan yang serba nekat tetap berfungsi.
***
Aku cerita sedikit tentang Jakarta. Meski hanya sekejap waktu di sini, tapi aku sangat suka kota ini. Penuh kenangan desahku…dan disini pula untuk pertama kali aku bertemu dengannya, di sini aku pertama kali makan dengannya, pertama kali diberi sesuatu olehnya, menyusuri sisi jalan, menjejali jalan kota dengan metro mini, juga dengannya.
Pernah terpikir, mungkin jika bertemu dengannya aku tak akan begitu suka, akan biasa-biasa saja, akan menjadi merasa tak ada apa-apa…itu pikiranku. Tapi di luar dugaan, aku beda. Semakin suka, semakin jatuh cinta, semakin tak terkontrol…hahaha aku bilang begini karena kurasa saat itu grade otak kiriku benar-benar anjlok…
“Saat ini juga?”
“Excuse me..maksud anda?” tanyaku setengah tak mengerti.
“Otak kiri,apa masih tak berfungsi?”
“Sudah stabil”. Meski aku masih menempatkannya pada satu bagian di sini, jawabku, sambil menunjuk ke arah sesuatu yang orang awam bilang hati, padahal itu tempat jantung.
“Masih berharap?”
“Tidak juga. Biasa saja”. Bukan dia tujuan hidupku.
“ Masih mencintainya?”
“ Kurasa iya”. Kalaupun aku sudah tak mencintainya, tak mungkin aku bisa melupakannya.
***
Aku dan dia pernah berkata-kata seperti ini… Ia bilang 3 bulan itu sebentar, 3 tahun juga… tapi kukatakan itu lama… Ia bilang naik sepeda itu mudah, tapi kukatakan itu sulit, dan aku tak bisa… Ia bilang ‘aku tak mungkin mencintaimu’ tapi kukatakan itu mungkin… Hahhh…Ia bilang lupakan saja dirinya dan aku katakan bagaimana bisa? Pasti bisa katanya. Tapi aku tak mau.
***
Senja di kota tua… Dan lagi lagi aku mengingatnya. Sepertinya apapun yang terjadi padaku selalu membawa ingatanku padanya. Kurasa ia bisa membunuhku sedikit demi sedikit. Kadang kupikir ia seperti pembunuh berdarah dingin… Ohh..Kota tua. Di sini banyak sepeda, melihat sepeda berarti melihat dia. Dia cinta ‘itu’. Itu adalah sepeda..bukan cinta aku. Ada banyak orang berjualan. Aku bertemu penjual gelang. Gelang anyaman. Hanya satu disini. Hanya si penjual itu di sini, di kota tua, yang menjual gelang seperti itu. Kau bisa menganyam namamu di gelang itu. Aku minta dibuatkan satu. Dan lagi-lagi aku teringat dirinya. Andai ia ada di sini, akan kuminta dibuatkan sebuah lagi untuknya… Sepulang dari tempat ini, kuhabiskan waktu untuk sedikit berputar-putar.
Kususuri jalan demi jalan menggunakan bus tanpa hambatan. Aku suka sekali naik kendaraan yang satu ini. Hebat, punya jalur sendiri, kemana mana terasa dekat. Aku naik turun hingga beberapa kali hanya untuk menikmati jalan jalan kota hingga malam hampir larut dan entah aku ada di mana. Sepi. Aku mulai takut. Otakku berputar lagi dan apa yang terpikirkan, ahhh andai ia ada di sini, tentu aku tak akan takut. Yang namanya laki-laki sudah tugasnya melindungi kaum perempuan. Kurasa, sehebat dan sekuat apapun seorang perempuan, tak akan mengalahkan karisma seorang laki-laki. Mereka tetap punya sesuatu yang bisa meninggikannya sedikit lebih di atas dari kita…’perempuan’
***
“Bagaimana sekarang?”
“ Apanya?” tanyaku kembali.
Sudah 3 tahun bukan? apa ia masih berputar-putar di kepala anda? Apa ia juga masih ada disitu? tanyanya sambil menunjuk ke arah apa yang biasa orang awam sebut ‘hati’.
Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan ini. Untuk apa ditanyakan. Kau tentu sudah tahu jawabannya kan, kataku. Seketika kumatikan alat perekam itu. Selalu begitu. Suaraku silih berganti. Kadang bertanya lalu kadang menjawab. Sudah begitu sejak dulu. Sejak aku mengenalnya dan memikirkannya. Kata orang aku gila. Aku bilang ini biasa saja. Aku hanya bertanya pada diriku sendiri serta memberi jawaban untuk diriku sendiri juga.
***
Mungkin suatu saat akan benar-benar ada pertanyaan seperti ini… Masih adakah sesuatu disitu? tanyanya sambil menunjuk kearah apa yang biasa orang awam sebut ‘hati’. Dan mungkin akan ada jawaban seperti ini… Kukatakan ‘tidak’.
Mengapa? Sudah hancur kataku lagi. Kau tahu batu yang sangat besar? suatu saat ia akan jadi batu yang lebih kecil lalu jadi kerikil kerikil, lama kelamaan jadi butiran pasir dan butiran pasir itu mudah sekali diterbangkan angin.
Kenapa kau hancurkan? Bukan aku. Tapi dirimu.
***
Kalaupun kelak akan hilang…kurasa bukan karena mauku…tapi karena dirimu…*

Ditulis di Jakarta, 24/02/2010

Miss~Dhie174

Catatan : sekadar info, cerpen ini sudah dibaca berkali-kali loh, oleh siapa? oleh saya sendiri dan beberapa teman saya yang baik hatinya #serius

 

 

Langit Merah Jambu

oleh : Diyah Ifada

2013-03-26 17.59.20

“Habis?”
Aku bertanya sambil menatap takjub pada dua mangkuk coto Makassar yang telah dilahap habis. Ketupatnya,jangan ditanya,antara 5 atau 6.
“Hebat betul kamu Wan. Suka ya?”
“Iya,ternyata rasanya enak bener. Yang dimangkukmu mau dihabiskan tidak? Kalo enggak biar aku yang makan”
“eh..ehh, jangan dong” cepat-cepat kuselesaikan semangkuk coto yang ada dihadapanku. Setelah makan kami akan berburu sunset, mudah-mudahan sore ini langit cerah.
***
Seperti sore kemarin. Langit mendung.
“duhh kalau kayak ini, mana bisa lihat matahari terbenam” ucapku dalam hati.
Kulihat sekitarku, sangat ramai. Pantai Losari memang selalu begini, ramai dikunjungi warga kota Makassar. Entah itu hari libur atau hari biasa,sama saja. Orang-orang itu, termasuk aku, senang menghabiskan sore di pinggiran pantai, pinggiran pantai yang sudah ditata rapi oleh pemerintah setempat, atau di sekitar anjungan, anjungan Pantai Losari yang jadi kebanggaan kota ini. Sekadar berjalan-jalan, duduk menikmati belaian angin mammiri, sebutan untuk angin sepoi-sepoi sambil menantikan mentari yang beranjak pergi atau mencicipi panganan ringan seperti pisang epe dan jagung bakar, ahh sedapnya.
***
Aku memang sangat suka melihat matahari terbenam. Apalagi di Pantai Losari, sungguh indah. Siang tadi secepatnya kuselesaikan tugas-tugas sekolah supaya sore ini aku bisa ke pantai. Dan sebagaimana hari-hari kemarin, hari ini sudah hari kelima kami ke sini namun awan mendung tetap saja memayungi sore di kotaku. Aku duduk diam di salah satu bangku di anjungan pantai.
“kenapa kalau ada Senja, matahari tenggelam gak keliatan ya?”
“Ngggg, bodoh! Apa hubungannya?” tanyaku ketus pada laki-laki dengan Canon EOS 550D yang tak pernah lepas dari genggamannya itu. Kulihat dia asyik sekali memainkan kamera digitalnya itu, entah apa yang diabadikannya sejak tadi,karena sebenarnya ia ada di sini untuk memotret momen sunset nan indah di Pantai Losari yang sering kuceritakan padanya lewat e-mail yang kukirim.
***
Jujur, akhir-akhir ini aku jadi lebih sering ke pantai bukan sekadar ingin melihat matahari yang terbenam, tapi karena laki-laki ini, teman masa kecilku, ia sekitar 3 tahun lebih tua tapi kami sudah sangat akrab sejak kecil. Ketika itu aku dan keluarga tinggal di Jogjakarta. Ayahku bekerja di sana dan berteman baik dengan ayahnya. Bukan karena apa-apa ia ada di sini. Duka mendalam baru saja dialaminya karena bencana yang baru saja menimpa kotanya,ya letusan Gunung Merapi itu. Ia yang beberapa tahun lalu telah kehilangan kedua orang tua karena kecelakaan pesawat, kini harus kehilangan satu-satunya sosok yang ia banggakan, kakeknya yang tinggal di sekitar lereng gunung itu, tak terselamatkan. Memang bukan kakek sesungguhnya, tetapi beliau adalah sosok yang sangat ia hormati dan sayangi, sebagai tempat bercerita dan menenangkan diri saat penat kampus melelahkan pikirannya.
Seminggu yang lalu ia kemari. Kampusnya diliburkan karena kondisi yang semakin berbahaya.
Tetapi mungkin lebih tepat aku yang mengajaknya ke sini. Kutawarkan pemandangan langit merah jambu yang sangat indah di kota Makassar,yang di kala yang sama tak mungkin dapat ia temui di kotanya,saat ini di sana hanya ada awan panas,berkabut dan tentu duka pilu.
***
Kupandangi wajah tampan di sampingku ini. Kenapa sih topinya harus dipasang terbalik, kalau masangnya bener kan lebih bagus. Aku membayangkan jika tangan ini meraih topi di kepalanya itu lalu memperbaiki posisinya, sampai tak sadar,kamera miliknya justru telah merekam wajah bodohku saat memandangnya.
“Ihhh, kok aku sih yang difoto?”
“Abis muka kamu norak gitu, hahaha”
Ia terkekeh sesukanya.
Aku mengalihkan pandangan ke langit. Lagi-lagi mendung. Udara dingin menyusup di sela-sela kemeja lengan pendek yang kukenakan.
“Nih pake, nanti kamu masuk angin”
Wah, dia perhatian juga. “thanks” kataku, sambil tersenyum sangat manis aku meraih jaket tebal warna coklat itu.
“Sebenarnya apa sih yang kamu potret dari kemarin?”
“Apa saja, di sini kan banyak pemandangan indah.” “Coba lihat ke sana!” tangannya kemudian menunjuk ke arah sekumpulan bocah yang berdagang asongan.
Kupandangi anak-anak itu.
“Mereka juga termasuk objek foto yang indah?” tanyaku.
“Lihat mereka baik-baik!” Pakaian kumal, berlari ke sana kemari tanpa alas kaki, berdagang asongan untuk membantu orang tua mereka, padahal hasil yang diperoleh belum tentu cukup untuk kebutuhan sehari-hari, lihatlah, mereka tetap tersenyum dan tertawa, senyuman itu tulus.” Bayangkan senyum-senyum yang tulus itu lahir dari mereka yang serba berkekurangan, bukankah itu sungguh luar biasa?”
“Kamu tentu gak pernah tau apa yang mereka rasakan. Kamu punya segalanya. Kamu bisa makan enak, bisa sekolah, berpakaian yang bagus, bersenang-senang. Bagaimana dengan mereka?”
Sejenak aku terdiam sambil mengangguk-angguk pertanda setuju pada apa yang diutarakannya tadi, kuraih tangannya, dengan sedikit berlari kuhampiri kumpulan bocah itu.
“Kakak mau foto bareng kalian, boleh?”
“Bolehhhhhhhhhhhh” jawab mereka dengan koor yang panjang.
Akupun duduk di antara mereka.
“Wan, jangan bengong dong. Fotoin aku sama mereka”
“oke..oke”
“yang bagus ya”
“beres,siap semua? cheersssss
***
Minggu yang melelahkan, pagi-pagi benar aku sudah keluar rumah. Tak sempat sarapan dengan papa dan mama juga tak sempat menyapanya. Ya,memang selama di Makassar dia tinggal di rumahku. Papa dan mama yang menawarkan. Sudah seperti keluarga sendiri kata mereka. Aku senang, tentu saja. Tapi kami jarang jumpa,setiap hari aku ke sekolah, sedangkan dia mungkin jalan-jalan melihat kota yang sedang banyak-banyaknya melakukan pembangunan ini. Hanya di sore hari kami bertemu, janjian di Anjungan Pantai, menanti mentari terbenam.
Hari ini ada lomba di sekolahku, lomba Kepaskibraan tingkat SMU se-kota Makassar yang memang sudah menjadi rutinitas tiap tahunnya.
Sudah hampir pukul lima sore, aku yang menjadi salah satu panitia minta ijin untuk pulang lebih awal, cepat-cepat kutinggalkan arena lomba.
Peugeot 306 warna merah hadiah dari Papa yang selama ini menemaniku ke mana saja segera meluncur ke pantai.
“Hari ini langit sungguh cerah” batinku.
Tak sabar aku melihat sunset sore ini, semburatnya yang jingga di cakrawala akan membiaskan warna yang luar biasa mengagumkan, jika semuanya berjalan sempurna maka langit ini akan jadi merah jambu.
***
Di Anjungan Pantai Losari,
Sangat ramai. Orang-orang itu, seperti aku, pasti sangat merindukan saat-saat ini. Pelan namun pasti matahari akan tenggelam bersama dengan munculnya malam. Aku tertegun dihadapan ciptaan Tuhan yang Maha Kuasa. Aku sadar, meski di ufuk barat sana matahari seolah pergi tetapi sesungguhnya aku lah yang pergi meninggalkannya. Matahari tak pernah pergi, ia selalu ditempatnya menjadi pusat dari tata surya ini, setia menjalankan tugasnya.
“Di mana dia?” tiba-tiba aku tersadar, fotografer itu rupanya tak di sini.
“Duh, kamu di mana sih Wan, bentar lagi mataharinya terbenam” aku menggerutu dalam hati. Harusnya sore ini ia ada di sini, mengabadikan momen indah yang sudah lama kami tunggu, namun berkali-kali kuhubungi teleponnya tak aktif.
“Kakak, ini untuk kakak..” tiba-tiba seorang bocah yang sering kulihat berkeliaran di anjungan pantai menghampiriku sambil menyerahkan sebuah amplop coklat berukuran besar.
“Untuk saya? dari siapa?”
“dari kakak cowok yang biasa sama kakak. Itu loh kak yang tinggi, putih, ganteng, yang suka pakai topi dibalik-balik dan suka foto-foto di sini”
“Awan?”
“Iya, kata Kak Awan,ini untuk kak Senja. Kakak namanya Senja kan?”
Aku mengangguk-angguk bingung.
***
Aku melihat isi amplop itu. Setumpuk foto yang sesungguhnya hampir semua bergambar diriku. Ada juga foto aku dan Awan. Aku dan bocah-bocah di Anjungan, foto Papa dan Mama serta selembar surat dari Awan.

Dear Senjaku,
Aku minta maaf tak sempat pamit, Semua serba mendadak. Hari ini aku kembali ke Jogya. Kondisi di sana sudah membaik, bandara sudah beroperasi, kampus juga sudah masuk. Dan bagaimanapun juga aku harus bertanggung jawab atas hidupku di sana, sudah cukup aku lari dari duka, kini saatnya mengukir masa depan.
Tadi Papa dan Mamamu mengantar, aku yang minta mereka supaya tak cerita padamu. Aku senang sekali di sini Senja, sungguh. Terima kasih untuk coto Makassar yang enak, aku pasti rindu saat-saat kita makan bersama.
Terima kasih juga sudah menjadi Senja yang manis,. Meski kita tak pernah sempat menyaksikan matahari terbenam tetapi bersama Senja bagiku itulah yang terindah.
Oya, kuberikan semua hasil karyaku selama seminggu ini, semoga kamu suka.

Love,
Awan

Aku melipat lembar surat itu. Ada sedih di hatiku. Awan, andai kau melihatnya, matahari terbenam sempurna dan langit ini merah jambu. Sangat indah. Tapi hati ini juga bahagia, ohhh Tuhan, mungkin berhari-hari yang lalu langit Makassar berduka karena pilu yang melanda di seberang sana, dan kini ia mulai tersenyum karena harapan telah kembali.
***
Malam mulai menyelimuti kotaku. Aku bergegas meninggalkan anjungan. Dari kejauhan kulihat kumpulan bocah itu.
“Adik-adik,ke sini…” panggilku pada mereka.
“Iya kak Senjaaa…”
“Eh,kok tau nama kakak?”
“tau dong, kan kakak temennya kak Awan yang baik. Kak Awan sering main sama kita lo kak, sering cerita-cerita tentang kakak juga” kata salah seorang dari mereka.
“Pernah ke rumah kita juga, bawa mainan sama buku pelajaran” kata yang lainnya.
“Suka bantuin belajar juga, oya ini tadi siang kak Awan bawain foto-foto kita, soalnya kak Awan katanya udah mau pulang, kita sedih kak. Kakak sedih gak?”
Aku hanya bisa tersenyum. Terima kasih Wan,untuk kasih sayang yang indah ini, yang jauh lebih indah dari sekadar bersenang-senang untuk diri sendiri.
“eh,kalian laper gak? Kakak laper banget nih. Kita makan yuk. Mau???”
“Mauuuuu…..makan coto ya kak”
“Ehhh????? Hahahahah..iya iya” makan coto Makassar bersama bocah-bocah ini rasanya seperti bersama Awan.
***

Tamat

Catatan Dhie : Cerpen jaman kapan, baru bisa di-posting 😀