Perjalanan (2)

IMG-20150225-WA0093

Kelak,
ada masa di mana perjalanan amatlah menyenangkan
namun bisa juga amat melelahkan.

Semua bergantung pada tiap-tiap jiwa yang menjalaninya
bagaimana dulu, ia mempersiapkan.

Advertisements

Belajar Makna

Puisi : Diyah Ifada

Sebagian kata sarat akan makna

Sebagian lainnya sekadar pelengkap makna

Sering pula kata kata terucap tanpa makna

Bual-bualan harian?

Atau semacam  bentuk egoisme?

yang terlontar dari lisan yang kurang belajar

Kamu, berlatihlah memilih kata

Dan Aku, belajarlah memahami makna

Bandung, 11 Maret 2015 21.45 wib

Lama pakai banget gak nulis puisi, tetiba aja jadi ingin. Dadakan gitu deh, makanya bikin yang pendek-pendek aja, semoga suka, semoga bermakna….salam manis ^_^

Puisi malam takbir penuh rindu

Gema takbir menemaniku mengalirkan air mata
Jika pagi esok kau dapati mataku sembab, janganlah ditanya mengapa
Aku hanya mengurangi sesak di dada, sebab aku sedang sedih akan banyak hal

Aku malu
Padahal Tuhan-ku telah limpahkan karunia yang tak hingga
Nikmat iman dan islam, raga yang sehat, alam yang damai, keluarga yang penyayang
Lantas kerap kali kusia-siakan waktu yang aku punya
Dengan segala kesibukan yang menyita

Aku heran
Bahkan di menit-menit waktu yang seyogyanya milik kekhusyukan pada sang pencipta
Urusan dunia tetap merajalela
Mengganggu dan merampas saat-saat terbaikku mengadu pada Tuhan-ku
Dunia oh dunia, keegoisan benar adalah milikmu

Aku takut
Bukan hanya karena sikapku, namun juga karena lisanku
Sungguh aku tak mau menyesal di kemudian hari
Terhalang mendapat kebaikan sebab ucap dan laku yang tak terjaga

Aku khawatir
Andai hariku tak sampai esok
Bisa jadi kita tak bertemu
Kusampaikan maafku padamu, wahai teman sehari-hariku

Kumohonkan pula doa-doa darimu, meski aku tak perlu tahu
Semoga kasih sayang-Nya tak pernah hilang padamu dan aku,
Yang saat ini jauh dari Ayah serta Ibu

Gema takbir masih mengalun merdu
Mengiringi malam Idul Qurban yang syahdu
Aku rindu, pada Tuhan-ku

T_T

Bandung,

di malam 10 Dzulhijjah 1435 H

Hujan Sore Ini

Aku selalu suka hujan.
Hujan bagiku adalah berkah yang melimpah.

Aku selalu bahagia saat hujan.
Hujan bagiku nikmat yang tak terkira.

Rasa sejuk yang ditebarkannya dapat menghilangkan penat dipikiran.
Aroma tanah basah karena hujan menjadi terapi jiwa yang sedu,
dan titik titik air yang jatuh itu bagai refleksi tangisan hati yang sedang bersuka ataukah berduka.

Aku selalu suka hujan.
Entah mengapa aku senang mendengar rintiknya yang kadang lembut kadang keras.
Iramanya merangkaikan nada-nada merdu,
meski sesekali ada suara terpaan yang menderu karena hujan datang mengajak angin.

Daun yang basah, tanah yang harum, genangan air di jalan. Begitulah hujan.

Aku selalu suka hujan. Seperti sore ini.

 

Puisi lama. Pernah diposting di facebook, lebih dari setahun yang lalu 😀

 

Puisi Curcol

Lama nian tak menulis satu dua kata di blog ini. Mudah-mudahan tak sampai berkarat karena jarang dirawat. Mari nikmati sejenak satu puisi yang tercipta sore tadi, yang telah sedikit mengalami pengeditan dua tiga menit yang lalu. Hanya sekadar puisi curcol, semoga tak sampai mengusik kebahagian teman-teman *loh 😀

 

–Hidup Aku dan Kamu, Kita–

Ini tentang hidup yang akan lama
yang tiap hari akan kita jalani bersama
dan bersama
di pagi hari ada dirimu, menutup malam pun denganmu
hidup yang tak kita tahu sampai di mana

kita kan selalu bersisian
di kursi makan atau di kursi minibus
juga saat susuri jalan-jalan yang lengang
atau saat lelap menggenggam lelah

aku ingin hadirku tak menyusahkanmu
pun aku ingin bahagia dengan dirimu
ikhlaskan raga dan rasa untuk saling berbagi
pada tiap masa yang kan kita lewati

tengkar dan tawa itu bagai sahabat
seperti sedih dan senang , senyum dan manyum, juga kesukaran dan kemudahan
hendaknya kita pandai menjadi sejiwa yang mampu sabar dan syukur
sebab itulah indahnya hidup kita

hidup seperti ini mungkin tidak mudah,
tapi pastilah tidak sulit
asal aku dan kamu tetap bersama-Nya

aku tak mau menilaimu dengan salah
yang terbaik adalah melihatmu sebagaimana dirimu kepada Tuhanmu
semoga hati yang selalu terpaut pada-Nya
enggan tuk menyakiti hati lainnya

Sebab pintaku pada-Nya, semoga setiap hari kita adalah bersama 🙂

 

Bandung, 14/09/2014

Matamu, Jendela Hatimu

Aku melihat cinta, pada mata dua anak manusia

Ada pancaran bahagia dan gelora

Dari keduanya yang terjebak asmara

 

Aku tak mengenal sesiapa mereka

Tak pernah tegur sapa, juga tak pernah tangan dijabat

Tapi aku tahu kiranya mereka tengah mencinta

 

Cinta ini adalah tentang rasa

Yang tentu sulit diam bersembunyi

Benarlah, bibir bisa tak berkata juga tubuh bisa saja tak berpeluk

 

Namun bagaimanakah mata hendak berbohong?

Sementara ia lah jendela hati.

 

Diyah, Bandung 20/08/2014

*puisi ini spesial buat kalian di sana yang sedang diliputi hari-hari indah, semoga bahagia selalu*