Pesan Taksi Lewat Aplikasi My Blue Bird, Dapatkan Promo Diskon di Lombok Epicentrum Mall

BlueBird dan Lombok Epicentrum Mall

Bluebird, siapa yang tidak kenal dengan armada taksi yang satu ini. Di Lombok, khususnya di Kota Mataram, moda transportasi yang lebih dikenal dengan nama Lombok Taksi ini telah menjadi pilihan nomor 1 masyarakat, termasuk saya pribadi yang sehari-hari menggunakan taksi saat pergi dan pulang dari tempat bekerja, juga untuk tujuan lain seperti mengunjungi pusat perbelanjaan Lombok Epicentrum Mall (LEM). Saat ini Lombok Taksi telah bekerja sama dengan LEM dalam memberikan banyak kemudahan bagi pengunjung Lombok Epicentrum Mall.

Launching Kerjasama Bluebird dengan 7 tenant di Lombok Epicentrum Mall

Pada Senin, 28 Agustus 2017 kemarin, sebagai salah seorang pengguna setia Lombok Taksi ^_^ saya berkesempatan hadir dalam launching kerjasama antara Bluebird dan 7 tenant yang ada di Lombok Epicentrum Mall. Kerjasama ini tentu saja bertujuan untuk meningkatkan pelayanan Bluebird kepada masyarakat, mengingat permintaan taksi dengan tujuan Lombok Epicentrum Mall bisa mencapai 200 per hari, hal ini disampaikan langsung oleh Manager Pool Lombok Taksi, Bapak Amir Muslim. Ketujuh tenant yang telah bekerja sama yaitu Burger King yang memberikan diskon 20%, My Kopi O 10%, Qua-Li 10%, Omah Cobek 10%, Excelso 10%, Ikan Goreng Cianjur 10%, serta gratis 5 permainan di Timezone. Diskon ini diberikan tentu saja bagi pengunjung yang datang ke Lombok Epicentrum Mall menggunakan Lombok Taksi.

Senada dengan Bapak Amir Muslim, General Manager Lombok Epicentrum Mall, Bapak Salim Abbad yang kala itu juga berkesempatan memberikan sambutan sangat mengapresiasi kerjasama ini, beliau berharap kerjasama ini dapat menjadi magnet bagi pengunjung Lombok Epicentrum Mall.

IMG_4626

Tunjukkan History Trip melalui My Blue Bird, nikmati berbagai promo diskon

Promo diskon Burger King, My Kopi O, Qua-Li, Omah Cobek, Excelso, Ikan Goreng Cianjur, serta gratis permainan di Timezone dapat diperoleh dengan sangat mudah. Anda cukup memesan Lombok Taksi tujuan Lombok Epicentrum Mall melalui aplikasi My Blue Bird. Nah, ini penting nih bagi pengguna setia Lombok Taksi yang sudah terbiasa order melalui telepon, karena untuk memperoleh diskon pengunjung harus menunjukkan history perjalanannya menggunakan Lombok Taksi yang terdapat pada aplikasi My Blue Bird. Waah saya banget nih, kebiasaan order by phone mesti diubah jadi pakai aplikasi. Adapun promo diskon ini sudah mulai berlaku sejak 29 Agustus 2017.

IMG_4627(1)

Aplikasi My Blue Bird

Tentang aplikasi My Blue Bird, sejak pertama kali diluncurkan di Lombok pada awal tahun 2017 lalu hingga saat ini telah dimanfaatkan oleh sekitar seratus lebih pengguna. Nah, gimana nih teman-teman apakah kalian sudah jadi salah satu dari pengguna My Blue Bird? Bagi yang belum, segera download aplikasi My Blue Bird ya, tersedia di Google Play maupun App Store, langsung deh pesan taksinya cuss ke Lombok Epicentrum Mall, asyik kan agenda bermain dan makan-makan jadi makin hemat ^_^ .

 

 

 

 

Advertisements

Al Quran : Mukjizat sepanjang masa

Dulu, aku senang mendengarkan musik-musik. Musik memang menarik, walau kadang ada juga yang tidak menarik. Musik seringkali membawa bayang-bayang masa lalu, menebarkan kenangan di benak. Mendengarkan musik gembira bisa membuat hati turut bergembira sedangkan musik pilu yang mendayu-dayu bisa membuat hati ikut berduka, terkadang bisa sampai menitikkan air mata. Lambat laun musik yang aku anggap keren itu punya pesaing. Pesaing? Bisakah kusebut demikian? Entah terbiasa dari mana namun aku mulai suka mendengarkan murottal bacaan Al Quran. Aku tidak ingat bagaimana ceritanya aku jadi senang mendengarkan lantunan ayat-ayat suci melebihi kesukaan mendengar lagu, yang aku ingat surah Maryam adalah surah yang paling sering aku dengar. Sejak punya ponsel yang bisa menyimpan data termasuk musik-musik, aku mulai sering mendengar murottal kapan saja aku ingin. Surah Maryam dalam sehari semalam bisa kuulang berkali-kali, aku suka sekali surah ini, terdengar sangat indah dan syahdu tiap bacaan ayat yang diperdengarkan. Mendengarkannya bisa membuatku menangis, ini terjadi kala hatiku tengah mengeras. Saat sulit tidur juga seringkali kuperdengarkan surah ini hingga membuatku tertidur pulas. Lucunya, meski aku senang menikmati murottal terkadang aku juga masih suka mendengar lagu-lagu. Di dalam folder musik ponselku ada file yang berisi lagu-lagu, ada lagu Indonesia adapula lagu-lagu asing, dari genre pop hingga rock dan alternatif, aku suka-suka saja genre musik apapun asal enak didengar, di blog inipun aku punya satu tulisan yang bertajuk “saat aku suka lagu”, isinya cuap-cuap ngasal tentang beberapa lagu yang aku suka, ini tidak penting dibahas yah. Intinya aku mau bilang bahwa selain rutin mendengarkan ayat-ayat Al Quran aku juga masih senang mendengar musik-musik demikian, musik-musik apa ya namanya? Aku juga tak merasa ada perbedaan antara mendengarkan musik dan lagu dengan mendengarkan murottal, bagiku keduanya menghibur.

Beberapa waktu kemudian aku mulai malas mendengarkan musik. Beberapa lagu mulai aku hapus dari ponsel, aahh bukan beberapa tapi banyak. Aku hanya menyisakan beberapa saja, seperti lagu-lagu milik raihan, opick atau lagu-lagu bertema alam. Lagu tema cinta? Wahhh itu daftar pertama yang aku hapus, lagu-lagu jenis tersebut adalah jenis lagu perusak mental nomer satu, biang baper kelas kakap. Karena lagu-lagu tersebut sudah tak ada di ponselku otomatis tak ada lagi kesempatan mendengarkannya, kecuali aku bongkar-bongkar folder di laptop, tapi kadang aku malas, jadi lebih sering tidak pernah. Kadang juga aku streaming youtube, hehe godaan memang ada di mana-mana, semua mudah dengan adanya internet, aku bisa mencari lagu apapun yang aku mau, gampang dan hampir pasti selalu ada. Tapi lama-lama aku juga bosan, tak ada lagu yang benar-benar membuat senang dan benar-benar membuat nyaman. Oiya selain streaming lagu aku juga streaming hafalan-hafalan Al Quran dari banyak hafidz/hafidzah baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Meski lebih sering dari luar negeri dan lebih sering hafizd. Aku selalu senang mendengarkan bacaan-bacaan Al Quran, bukan senang sekadar senang namun seperti diliputi kesejukan dan kedamaian.

Lama-kelamaan ponselku benar-benar bersih dari musik-musik geje, aku lagi-lagi tak ingat kapan tepatnya hal itu terjadi, yang aku ingat aku memang ingin menghapus musik dari kebiasaanku, rasanya tak nyaman saja jika mempersandingkan folder murottal dengan folder musik-musik. Seorang temanku juga pernah bilang bahwa jaman sekarang Al Quran dan musik hanya sebatas folder, aku terkejut, tentu saja, karena aku pun begitu. Lalu dia tertawa, begitulah kenyataannya. Aku pun ikut tersenyum. Ponselku saat itu sudah tak punya folder musik. Ohh iya bukan ponsel tapi sejenis tablet dari merek tertentu, tidak penting juga aku sebut mereknya ya. Di gadget baru ini aku punya folder Al Quran 30 Juz, senangnyaaaa. Oh iyaa, aku jadi ingat, jika tidak salah aku mulai lebih sering mendengarkan bacaan alquran dibanding musik sejak diberi file al quran 30 juz oleh salah seorang sepupu. Sebelumnya aku hanya punya beberapa surah saja, seperti surah Maryam, Kahfi dan beberapa surah di juz 30. Ketika dia memberikan file satu alquran lengkap aku jadi punya kesempatan untuk mendengarkan banyak surah lainnya. Selain itu, kebiasaan sepupu yang rajin muroja’ah (mengulang-ulang hafalan) membuatku semakin senang mendengarkan murottal, saat berkendara pun dimanfaatkannya untuk mengulang hafalan. Hingga kemudian saat aku sedang menempuh pendidikan jauh dari rumah dan keluarga, al quran menjadi teman setia. Aku memang tidak rajin membawa mushaf al quran kemana-mana dan membacanya di manapun tapi tablet yang aku punya bisa digunakan untuk mendengarkan lantunan 30 juz lengkap, yang kemudian aku lengkapi dengan mengunduh aplikasi al quran mobile, sudah lazim sepertinya melihat orang mengaji menggunakan smartphone atau alat canggih lainnya.

Alhamdulillah lingkungan yang baik memang dapat membantu kita belajar hal-hal baik. Saat kuliah itulah aku mulai mengenal teman-teman yang menyenangkan. Menyenangkan dalam arti yang sedalam-dalamnya. Mereka senang mengikuti kajian, senang sholat tepat waktu, senang belajar agama. Bersama mereka aku terpacu ingin belajar banyak tentang al quran. Kami ikut kelas bahasa arab, kelas tahsin, tahfidz, ikut pengajian. Semua hal ini membuat interaksi dengan Al Quran menjadi lebih dekat. Aku memang tidak serta merta menjadi pribadi yang benar-benar baik pun shalihah, namun aku memahami bahwa inilah Al Quran, Al Furqan (pembeda yang benar dan yang salah), As-Syifa’ (penyembuh), Adz-Dizkr (pemberi peringatan), Al-Huda (petunjuk), Ar-rahmat (karunia), Al-Hukm (peraturan), Al-Hikmah (kebijaksanaan), AL-Kalam (firman), An-Nur (cahaya) dan karena itulah mendengarkan dan membaca Al Quran tak akan pernah bisa disamakan dengan mendengarkan nyanyian-nyanyian, musik-musik dan segala rupa-rupa buatan manusia, meski seindah apapun.

Aku pun mulai sering mendengarkan surah-surah lainnya. Aku sangat suka surah Al-Mulk, Al-Qalam, dan banyak surah lainnya di juz 29. Begitupula surah Kahfi, dan saat ini aku sedang mengulang-ulang surah Al-Baqarah, jujur seluruh Al Quran sangat indah. Sebenarnya semakin sering aku mendengarkan setiap surah tersebut maka makin bertumbuh kecintaan dan kesukaanku. Semakin menyadarkanku bahwa semua firman yang Allah turunkan adalah kebenaran dan diliputi keberkahan. Apalagi jika bukan sekadar mendengarkan namun membacanya, memahami artinya dan mengamalkan dalam kehidupan.

Al-Quran adalah firman Allah SWT yang diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia, pembeda antara yang haq dan yang bathil, sebagai karunia, sebagai sumber hukum dan peraturan, sebagai pemberi peringatan sebagai pelipur lara. Jika kita mengikutinya maka tiada yang sulit dalam hidup ini. Di dalamnya ada keberkahan yang tiada terkira. Aku pernah sedih, namun dengan membaca Al Quran kesedihan itu hilang, Allah berfirman “laa tahzan, innallaha ma’ana” (At-taubah : 40). Aku pernah takut namun aku tahu bahwa Allah adalah sebaik-baik pelindung, “hasbunallah wa ni’mal wakiil”(Ali Imran 173), pun saat raga ini sakit, saat hati ini luka, tak ada obat yang lebih mampu menyembuhkan selain Al Quran. Hanya Al-Quran yang mampu menghadirkan kedamaian yang tak bisa dihadirkan oleh segala rupa kebendaan duniawi yang nampak elok menggoda. Demikianlah Al Quran, mukjizat terbesar sepanjang masa.

“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa” (Al Baqarah : 2)

Mataram, 10 Ramadhan 1437 H

Tentang Menulis dan Membaca

2015-01-20 10.50.17

Menulis adalah perkara kecintaan dan ketulusan. Kecintaan terhadap sesuatu yang ditulis dan ketulusan dalam menuliskannya. Saya adalah golongan orang yang sangat percaya bahwa tulisan yang layak dan enak dibaca adalah tulisan yang ditulis dengan cinta dan ketulusan. Tulisan-tulisan yang demikian akan mudah membawa pembacanya ke dalam alam pikiran sang penulis, nyaman dan terbuai dalam nikmatnya tiap kata yang dirangkai hingga mampu menyelami kedalaman makna yang ingin disampaikan, apapun bentuk tulisan itu. Saya ingat pernah menulis sebuah cerpen yang saya tulis dengan sepenuh hati dan perasaan saya, juga pernah menulis cerpen yang saya “coba” tulis menggunakan “hati”, keduanya saya serahkan untuk dibaca oleh teman-teman. Hasilnya? Mereka bisa dengan mudah membedakan mana tulisan yang nyaman dibaca dan mana yang tidak. Tentu saja cerpen yang saya tulis dengan sepenuh hati jauh lebih berkesan dibandingkan tulisan yang mencoba menggunakan “hati”.

Lucunya, jika menulis adalah masalah kecintaan dan ketulusan, maka membaca punya permintaan lebih, membaca adalah masalah selera. Seperti saya yang menyukai novel-novel kontemporer (halah sok banget bahasanya), bukan-bukan, saya penyuka novel apa saja asal enak dibaca. Jadi maksud saya, meskipun ada seorang penulis yang telah membuat tulisan yang bagus dengan penuh cinta dan ketulusan yang kemudian dibuktikan dengan banyaknya peminat buku-bukunya, maka tetap saja tulisan tersebut tidak akan memuaskan semua pihak. Ya, pihak yang dimaksud adalah orang-orang yang mungkin tidak berselera dengan jenis tulisan tersebut, atau kurang suka dengan gaya penulisannya, atau tidak tertarik dengan materi yang dikaji, atau tidak nyaman dengan pilihan diksinya, atau alasan-alasan lainnya. Ada satu penulis novel yang namanya cukup terkenal di negeri ini, novelnya sudah sangat banyak, pembacanya juga banyak dan itu membuat saya penasaran ingin membaca tulisannya. Sebuah novel manis karyanya saya beli dan mulai membacanya, hingga sekarang bahkan bagian pertama dari novel tersebut tak sanggup saya selesaikan, tak kuat saya membacanya. Singkat saja, saya tak nyaman dengan pilihan kata yang digunakan, bukan tidak bagus, hanya masalah selera kata saya.

Oke, dua paragraf di atas sebenarnya hanya kalimat pembuka (pembuka? gak salah pembukaan sampai dua puluh baris lebih?), nah kaan saya salah lagi, bukan itu maksud saya, yang saya maksud adalah (halah, rumit tenan bahasanya) paragraf di atas memberikan gambaran mengenai fenomena menulis dan membaca. Seolah-olah, suatu tulisan hanya akan layak ditulis jika sang penulis telah tiba pada kecintaan dan ketulusannya, hei hei sampai kapan? Bagaimana jika perasaan seperti itu tak muncul-muncul? Lalu kapan mulai menulisnya? Bisa jadi sampai kapan pun tak akan ada tulisan yang terlahir. Nahhh, jujur-jujuran lagi, saya sering sekali menghadapi hal demikian, bahkan sekadar untuk menulis ala-ala di blog saja saya butuh pertimbangan yang matang, ide sudah sampai beratus-ratus #sombong #padahalidecurhat namun setiap ingin menulis rasa tulus yang saya butuhkan tak kunjung hadir akhirnya jadilah tulisan gagal tulis #apacoba.

Sama halnya dengan kebiasaan membaca yang sulit sekali dibiasakan hanya karena kita tidak punya selera. Padahal nih padahal, selera atau gak selera biasanya hanya muncul di awal, kalau kita berani mencobanya barulah kita tahu rasa yang sebenarnya. Jadi, diiciplah lah dahulu mana tahu ternyata kita jadi doyan, lagi pula membaca kan tidak sesulit menulis. Menulis itu butuh ide, butuh sumber, butuh bahan baku, lah kalau membaca kan ya tinggal baca aja, beres. Oh iya, selain selera ada satu lagi nih alasan paling gak mutu sejagad raya yang menyebabkan kita gak mau membaca, MALAS, yaelahhhh ini sih emang penyakit segala hal. Bodohnya lagi, malas baca tapi rajin membagi, paham lah ya ituloh tren orang-orang di media sosial yang sering bagi-bagi berita, info dan sebagainya tanpa dibaca dulu, tanpa mengecek sumbernya tanpa dikaji, langsung aja main bagi-bagi, jangan gitu deh, mending kalau beritanya benar, kalau salah gimana??

Intinya, membaca ataupun menulis, keduanya sama-sama penting. Banyak manfaat yang kita dapat jika mampu membiasakan dua hal ini dalam kehidupan sehari-hari. Jadi gak selalu harus menunggu cinta, tulus dan selera dulu, yang penting adalah memulai, ehh bener gak ya? Pikirkanlah sendiri, yang jelas untuk hal-hal yang baik dan bermanfaat gak usah kebanyakan mikir dan cari alasan :D.

Kala hening.

Mataram, 12 Mei 2016  03:16

Tebing Keraton: Perjalanan Mendaki 110 Menit

Jpeg

Tebing Keraton

Tebing Keraton, siapa yang tidak kenal tempat ini. Namanya begitu akrab di kalangan muda maupun tua seantero tanah Pasundan, bahkan hingga ke luar kota. Saking terkenalnya, dalam waktu sekejap lokasi baru ini menjadi tren. Bahkan tebing yang awalnya hanya berupa lahan sempit sederhana di atas bukit ini telah berubah menjadi semacam tempat wisata yang tentu saja tiba-tiba dilengkapi pula dengan pintu masuk berbayar.

Continue reading

Untuk Bapak dan Mama

Ibumu, Ibumu, Ibumu baru Ayahmu

2013-07-16 18.21.34.jpg

Siapa yang paling menyayangimu di dunia ini?

Siapa yang paling sedih saat melihatmu menderita ?

Siapa yang selalu menyebut namamu dalam doa-doanya ?

Siapa lagi kalau bukan kedua orang tuamu.

Ya Allah, puji dan syukur atas segala nikmat yang Engkau berikan. Hingga sekarang, detik ini, masih bisa kudengar lembut merdu suara Ibu, tegas dan berwibawanya suara Ayah.

Malam ini keduanya amat sangat kurindukan. Jauh terasa jarak ini, tak bisa kupelak erat Ayah juga Ibu. Air mata mengalir disela-sela curahan hatiku pada Ibu. Ayah bertanya ada apa gerangan? Kujawab dengan suara riang tanda senang, kadang malu bercerita pada Ayah sebab Ibu lebih siap mendengar keluh kesah.

Ayah dan Ibu. Dua-duanya adalah kesayanganku. Keduanya adalah pelitaku. Keduanya adalah penghubung cintaku pada Allah.

Ibumu, Ibumu, Ibumu baru Ayahmu, demikian sabda baginda Rasul.
Aku rindu Ibu, rindu Ibu, rindu Ibu juga rindu Ayah.

Ya Allah, sehatkanlah Ayah dan Ibu, panjangkanlah umur keduanya, limpahkanlah keselamatan atas keduanya di dunia dan di akhirat. Izinkan hamba membahagiakan Ayah dan Ibu dan kumpulkanlah kami kelak bersama-sama di surga-Mu ya Allah.

Aamiin yaa rabbal aalamiin

Analisis Data vs Curhat Ala Ala

“a kind of intermezzo in the middle of my logical-analytical thinking”

Kepala saya mendadak pening dan sulit berpikir setiap kali mulai berhadapan dengan data-data hasil penelitian, yahh khususnya data uji preklinik. Pantas saja para pendahulu ( baca : senior yang sudah wisuda ) sampai bertapa berhari-hari hingga berminggu-minggu di kamar hanya demi mengolah dan menganalisis data. Sebenarnya wajar saja jika data ini cukup membingungkan, pengujian preklinik memang bukan pekerjaan mudah sebab melibatkan hewan uji yang tentunya memiliki variasi biologis. Variasi biologis ini akan sangat mempengaruhi nilai dari berbagai parameter yang diukur atau diamati, bahkan meski hewan tersebut sehari-hari mendapat makan, minum yang sama.

Oke, lupakan masalah hewan uji dan variasi biologisnya. Saat ini saya tidak akan cerita tentang bagaimana hal tersebut, saya hanya berusaha menuliskan apa yang sedang saya pikirkan.

Jadi, beberapa menit yang lalu, dengan semangat yang memenuhi ruang-ruang dalam dada, saya mengambil tumpukan kertas berisi data-data penelitian, jurnal-jurnal dan lain-lain yang masih berkaitan. Saya pun membalik-balik lembaran-lembaran tersebut mengamati angka-angka yang penuh misteri, mendalami susunan kalimat yang dipenuhi kata-kata yang tak mudah dimengerti lalu pada menit-menit berikutnya saya merasakan terjadinya penurunan energi yang drastis, semangat itu mendadak luntur.

Yah, inilah dunia ilmiah. Tidak sama dengan saat kita belajar seni atau olahraga. Bukan berarti seni maupun olahraga itu gampangan ya tapi kalian tentu pernah merasakan bagaimana saat belajar bermain alat musik, gitar misalnya., atau saat latihan menari atau belajar berenang. Meski terkadang sulit namun berinteraksi dengan seni dan olahraga justru akan membuat kita lebih rileks. Seni dan olahraga adalah aktivitas yang meski kita gagal melakukannya kita tetap bisa tertawa-tawa.

Sedangkan aktivitas ilmiah tidaklah demikian, ini menurut pemikiran saya ya. Aktivitas ilmiah membutuhkan kemampuan berpikir logis-analitis yang luar biasa, bukan sekadar skill or feeling. Di saat kemampuan itu tak ada atau menurun ( mungkin karena tidak dibiasakan ) maka segala kegiatan yang berkaitan dengannya akan terasa sulit, mengolah dan menganalisis data adalah salah satunya.

Maka kemudian saya mengambil pilihan lain, jikalau malam ini harus saya akhiri tanpa ada pekerjaan yang bersifat ilmiah maka saya tak ingin kehilangan juga kesempatan untuk merilekskan diri. Menulis curahan hati seperti ini adalah cara mudah untuk meringankan beban pikir akibat serangan mendadak dari hamparan kajian-kajian ilmiah di depan mata.

Hehe, saya sih inginnya genjrang-genjreng gitar, tapi sayangnya belum punya dan juga belum bisa mainnya, tapi kalaupun punya takut sekosan terbangun sakit hati dengar saya mainin gitar tapi melodinya gak banget 🙂 #inikode

Bandung 19/12/15  23:03, masih sabtu malam

Nothing to lose ?

Beberapa teman telah mengajarkan kepada saya bahwa berucap, berkata bukanlah sekadar mengeluarkan untaian huruf, namun di dalamnya ada makna, ada pesan, ada keinginan, ada harapan juga ada janji.

Bahkan meski itu perkataan sederhana, kecil, mungkin tidak berdampak besar, namun tetaplah ada beda antara apa yang telah terucap dengan yang masih tersimpan di benak.

Bagi saya mereka adalah orang-orang hebat. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa berhati-hati dalam ucapannya, sebab setiap kata yang terucap memegang tanggung jawab.

Memang sudah seharusnya apa yang terucap mengandung pengertian itulah yang ingin disampaikan. Bukan seperti di jaman sekarang di mana isi hati, isi kepala tak sama dengan ucap dan laku. Hanya wacana kata anak kekinian yahh, semacam gombal belaka, bual-bualan, omong kosong, huff, and I think I do this frequentlly 😦

Ohh iya ngomong-ngomong tentang “kata-kata”, I’ve just felt a bizzare feeling, yang mana gegara perasaan aneh inilah saya jadi dapat ide buat nulis pagi ini. Oh my God, jadi ceritanya sekitar 15 atau 16 tahun yang lalu waktu saya masih pakai seragam putih biru ada seorang teman sekelas saya, a boy of course, dia ngasi sebuah kaset ke saya, kaset itu berisi lagu “Nothing to lose” dari MLTR, jujuuuuur saya dulu belum pandai ber-English ria, tahunya baru sebatas that is a window, this is a book, what is that? etc wakakakakaka, intinya saya gak ngerti lagu itu cerita apa, tapi saya suka melodinya, i can sing it well and I love it even though i didn’t understand the meaning.

Bayangkan dan bayangkan, someone gave you a piece of cassette inside it there was a song about love, lahh kalian tahu lahh yaaa nothing to lose liriknya kayak gimana siiih, ( kalian mungkin tahu, saya yang baru tahu, baru banget, pagi ini loh, beberapa saat sebelum saya nulis ini), ya Tuhan kalau si dia yang ngasi kaset itu adalah salah satu dari sekian orang yang berpikir sebelum bertidak, kalaulah dia adalah orang yang berhati-hati dengan perkataannya, perbuatannya, kalaulah dia adalah orang yang perkataannya bukan wacana semata, maka saya bisa menyimpulkan bahwa rasa yang seharusnya saya rasakan saat itu, baru saya rasakan hari ini, pagi ini. Yes, thanks for that feeling, for your sincerity and being my best, hahahah maafkan saya jadi kayak orang jatuh cinta gini, biasa lah yaa, fufufu i’m so in love with you my man, ehhh nope nope enggak ding, maksud saya sama Michael Learns to Rock, lagu-lagunya selalu deh bikin meleleh.

Nah kan, tulisannya jadi kemana-mana, yasudahlah yang penting intinya kalian bisa paham. Jadi sekarang, saya mau siap-siap ke kampus sambil tetap menunggu benarkah segala yang tersurat dalam lirik Nothing to lose itu jadi nyata atau tidak. Ohh iyaa, nunggu jangan dengan tangan kosong dong, harus dengan tangan berisi doa-doa penuh harap yang dipanjatkan pada-Nya yang Maha Kuasa atas segala sesuatu 🙂

ehh yaa, ini sekalian saya kopiin liriknya, kali ada yang belum tahu, ngambil dari http://www.metrolyrics.com/nothing-to-lose-lyrics-michael-learns-to-rock.html

There are times when you make me laugh
There are moments when you drive me mad
There are seconds when I see the light
Though many times you made me cry

There’s something you don’t understand
I want to be your man

Nothing to lose, your love to win
Hoping so bad that you’ll let me in
I’m at your feet, waiting for you
I’ve got time and nothing to lose

There are times when I believe in you
These moments when I feel close to you
There are times I think that I am yours
Though many times I feel unsure

There’s something you don’t understand
I want to be your man

Nothing to lose, your love to win
Hoping so bad that you’ll let me in
I’m at your feet, waiting for you
I’ve got time and nothing to lose

I’ll always be around you, keep an eye on you
Always keep an eye on you
‘Cause my patience is strong
And I won’t let you run, you are the only one
When you are the only one

Nothing to lose, your love to win
Hoping so bad that you’ll let me in
I’m at your feet, waiting for you
I’ve got time and nothing to lose
Oh yeah, I’ve got time and nothing to lose

Selamat beraktivitas, semoga berkah, aamiin

Bandung, 9 September 2015

dengan banyak cinta di pagi ini, –Dhie