Apakah “rasa penasaran” punya gen pengkode? ( semacam curhatan colongan )

Aku baru saja menyelesaikan semester 2 di tahun pertama kuliah pascasarjanaku. Semester yang berat bagiku. Bukan, bukan karena perkuliahan yang demikian sulit, bukan juga karena tugas-tugas yang banyak, namun ada sesuatu yang membebaniku. Apa itu? Aku sendiri juga tak tahu.

Baiklah. Sebenarnya bukan itu yang ingin aku ceritakan. Meski tak semulus semester pertama, namun aku punya satu memori yang menarik di perkuliahan kali ini. Jadi sejarahnya, selain mengambil  matakuliah wajib untuk bidang kelompok keilmuan yang aku tekuni, aku juga memprogram satu matakuliah pilihan yang sesungguhnya merupakan matakuliah wajib bagi kelompok keilmuan bioteknologi. Yahhh, aku telah memilih matakuliah berjudul “Struktur Fungsi Sel, Mikroba dan Virus”, sebagai matakuliah pilihan di semester ini. Awalnya karena ditawarkan oleh teman, yang pada akhirnya meninggalkan aku seorang diri sementara mahasiswa lainnya memang berasal dari keilmuan bioteknologi.

“Struktur Fungsi Sel, Mikroba dan Virus”, nampak sangat sederhana, namun ia tak sesederhana apa yang dibayangkan di awal. Sebuah matakuliah wajib yang benar-benar mengajarkan secara detail tentang struktur serta fungsi dari sel, mikroba dan virus. Jujur saja, meski aku memiliki latar belakang sebagai mahasiswa farmasi, aku tak pernah belajar biologi sel atau biologi molekuler (tapi pernah belajar mikrobiologi sih), saat aku menempuh strata 1 dulu, ,matakuliah itu adalah matakuliah pilihan, dan sayangnya aku tidak memilihnya.

Maka nyatalah apa yang terjadi. Aku bagaikan orang bodoh yang bahkan masih sulit membedakan bakteri Gram negatif dan bakteri Gram positif, membedakan DNA dan RNA, membedakan prokariotik dan eukariotik, apa itu kromosom?, apa itu plasmid? (padahal ini diajarin di mikrobiologi, kemana saja aku?)  dan sebagainya….luarrrrr biasa, luar biasanya hancurnya. Malu, tentu saja. Itukan pelajaran dasar. Namun aku beruntung bertemu dengan para pengajar yang benar-benar sabar dalam menebar ilmu. Tak ada cercaan yang terlontar dari mereka meski menyaksikan aku yang tak tahu apa-apa.

inilah salah satu yang saya pelajari. So simple, isn't it? sumber : google

inilah salah satu yang saya pelajari. So simple, isn’t it?
sumber : google

Aku sangat menikmati masa-masa mengais ilmu “baru” ini (maksudnya aku yang baru sadar). Aku senang dan sangat menyukai pelajaran ini. Aku berpikir, andai saja aku menyukai bidang ini sejak dulu, mungkin ceritanya tak begini :D, ahhh tapi tak bolehlah kita menyesali apa yang telah terjadi. Bukankah telah banyak perkataan dulu yang berujar bahwa sesungguhnya apa yang telah terjadi, bukanlah kebetulan.

Lalu? Apa sebenarnya yang ingin aku sampaikan lewat judul tulisan di awal?

Oke, perlu untuk diketahui bahwa pada suatu waktu,  di salah satu jam pelajaran “Struktur Fungsi Sel, Mikroba dan Virus”, kami sedang membahas tentang identifikasi molekular yang kemudian pembahasannya melebar membicarakan tentang panjang genom manusia. Kalian paham genom kan? Semoga kalian paham, tidak seperti aku yang baru saja mengerti istilah ini beberapa bulan yang lalu.

ini nih contoh genom, tapi genomnya virus yaww, simple indeed :D, panjangnya hanya 19 kb ( kilobase)

Naaah, kalau genom manusia ternyata memiliki panjang sekitar 3 milyar pasangan basa, maasya Allah luar biasa panjangnya. Dapatkah kalian bayangkan seperti apa itu? Genom dengan susunan basa demikian panjangnya tersimpan di dalam sel manusia. Genom inilah yang mengkode berbagai protein yang pada akhirnya mewujudkan suatu bentuk yang kita sebut “manusia” lengkap dengan segala aktivitas biodinamik di dalamnya.

Mata kita, warna rambut, warna kulit, hidung, semua adalah fenotip yang tampak yang sesungguhnya dikode oleh gen-gen tertentu. Demikian halnya dengan berbagai enzim, hormon, dan apapun yang ada di tubuh kita, semua itu telah ada suatu gen yang bertanggung jawab sehingga protein-protein tersebut dapat diekspresikan. Yahhh, pada dasarnya tubuh kita ini memang tersusun atas protein-protein. Maka benarlah jika bentuk rupa kita ini bukan kebetulan, melainkan memang telah dipersiapkan dan didesain demikian adanya.

Jikalau bentuk fisik serta segala yang berkaitan dengan fisiologis tubuh ini dapat dengan mudah diyakini telah ada gen yang mengkodenya, lantas bagaimana dengan fungsi psikologis tubuh kita? mental kita? Mungkinkah jika sifat-sifat ini telah ada dan dikode pula oleh gen-gen tertentu di dalam tubuh? Hobi, cita-cita, jodoh, bahkan waktu kematian, adakah semuanya telah punya gen pengkodenya masing-masing?

Seseorang yang memiliki sifat mudah marah, benarkah ia membawa suatu gen pengkode sifat marah? Padahal sebagian orang yang lain tidaklah mudah untuk marah. Seseorang yang rajin, bisa jadi ia punya gen pengkode sifat rajin dan sebaliknya pemalas, mungkinkah ia memiliki gen malas . Demikian halnya rasa penasaran, yang aku percaya seharusnya dimiliki oleh semua orang, namun kadar rasa ini bisa berbeda antara manusia yang satu dengan yang lainnya.

“rasa penasaran”, yah jika benar ia telah dikode oleh suatu gen, mungkin ekspresinya di dalam diriku terlampau sedikit. Sebab aku akui, aku bukanlah tipikal pribadi yang mudah penasaran tentang sesuatu. Saat-saat sekarang aku baru menyadari betapa hal ini sangat penting. Kurangnya ekspresi “rasa penasaran” akan menjadikan kita sebagai pribadi yang sulit berkembang. Kalaupun kita punya gen-gen lain yang mengkode “sifat-sifat” bagus lainnya yang mampu mendukung kehidupan kita, tetaplah akan terasa kurang tanpa “rasa penasaran” di dalam diri.

Bukankah karena penasaran maka orang selalu bersemangat untuk belajar. Rasa penasaran membuat seseorang selalu ingin mencoba, rasa penasaran membuat kita tak henti bertanya, bahkan rasa penasaran pula yang menjadikan nabi Ibrahim AS selalu mencari dan mencari siapakah Tuhannya?

Pada akhirnya, sudah sepatutnya aku dapat memetik pelajaran dari setiap tahapan yang telah aku lewati dalam kehidupan ini. Sebagian punya rasa manis, sebagian lain pahit, bahkan ada pula yang benar-benar hambar. Dalam perkuliahan yang aku ceritakan tadi, saat bercerita tentang genom manusia, dosenku sempat berkata bahwa mungkin saja segala sesuatu yang kelak terjadi pada diri kita, setiap saat, setiap waktu, semuanya telah tercatat dalam tulisan panjang genom kita. Aku ingin bertanya, jika memang telah tercatat, masih mungkinkah berubah? Ahhhh, bisakah kita mengajak istilah-istilah inhibitor, stimulator, kofaktor dan kawan-kawannya untuk ikut ambil bagian dalam bahasan ini. Sebab Allah telah berfirman “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ”.

Diyah, Bandung 30 Desember 2014, jelang tahun baru masehi ^^ #latepost #keepposting #keepthespirit

Advertisements

Cerita kemarin

Siang ini saya sedang berada di pelataran Masjid Salman ITB, tepatnya di teras bagian selatan yang ada colokannya, sebab di luar sedang hujan deras. Saya memilih duduk di tempat yang dekat colokan dikarenakan laptop saya dalam keadaan baterei lemah, maksud saya laptop saya memang selalu begitu, baterainya sudah bocor. Andaikata saya tidak membawa laptop maka pastilah saya tidak duduk menyudut di sini. Supaya kalian tidak bingung nanti akan saya perlihatkan seperti apa tempat duduk yang saya maksud ini.

Baiklah, hari ini saya akan cerita sedikit ( bukan sedikit, sesungguhnya banyak yang ingin saya ceritakan ), tentang pengalaman saya kemarin. Kemarin menurut saya adalah hari yang istimewa di antara sisa-sisa hari libur yang sedang saya nikmati di Bandung. Kenapa? Yaaa karena biasanya di hari libur kebanyakan yang saya kerjakan adalah pekerjaan-pekerjaan yang tidak jelas dan tidak bermanfaat, hehe.

Namun kemarin, jadwal saya super duper padat. Saya berangkat dari rumah ( baca : tempat kos ) sejak pukul 07.15 WIBJTS* dan kembali ke rumah pada pukul 18.30 WIPS*.
Apa saja kegiatan saya hari itu, berikut ringkasannya :
1. Pukul 07.30 – 11.30 WIB : mengikuti Lokakarya Penulisan Artikel Ilmiah untuk Publikasi Jurnal Internasional, bertempat di Lantai 3   Ruang CCCR Gedung Annex Rektorat ITB
2. Pukul 13.30 – 15.30 WIB : mengikuti kegiatan Pengarahan Calon Pengawas SBMPTN 2014 Panitia Lokal Bandung, bertempat di lantai 2 Gedung Kuliah Umum ( GKU ) Timur Kampus ITB
3. Pukul 16.00 – 18.00 WIB : mengikuti Kursus Bahasa Arab Level II, bertempat di GSG Salman ITB
4. Pukul 18.15 WIB : pesan makanan di Warung Ayam Bungsu Gelap Nyawang sambil mendengarkan live music pengamen teraneh ( versi saya…. 😀 )

Jeda antara kegiatan satu dengan lainnya, saya isi dengan shalat dan makan. Meskipun agak lelah tapi kemarin saya merasa sangat senang dan sangat kaya, hmmm what a worth day ^.^. Nah, seperti apa detail dari kegiatan-kegiatan yang saya sebutkan di atas akan saya ceritakan pada postingan yang terpisah.

Selamat menantikan ^__^

*WIBJTS : Waktu Indonesia Berdasarkan Jam Tangan Saya

*WIPS      : Waktu Indonesia Perkiraan Saya