Tentang Menulis dan Membaca

2015-01-20 10.50.17

Menulis adalah perkara kecintaan dan ketulusan. Kecintaan terhadap sesuatu yang ditulis dan ketulusan dalam menuliskannya. Saya adalah golongan orang yang sangat percaya bahwa tulisan yang layak dan enak dibaca adalah tulisan yang ditulis dengan cinta dan ketulusan. Tulisan-tulisan yang demikian akan mudah membawa pembacanya ke dalam alam pikiran sang penulis, nyaman dan terbuai dalam nikmatnya tiap kata yang dirangkai hingga mampu menyelami kedalaman makna yang ingin disampaikan, apapun bentuk tulisan itu. Saya ingat pernah menulis sebuah cerpen yang saya tulis dengan sepenuh hati dan perasaan saya, juga pernah menulis cerpen yang saya “coba” tulis menggunakan “hati”, keduanya saya serahkan untuk dibaca oleh teman-teman. Hasilnya? Mereka bisa dengan mudah membedakan mana tulisan yang nyaman dibaca dan mana yang tidak. Tentu saja cerpen yang saya tulis dengan sepenuh hati jauh lebih berkesan dibandingkan tulisan yang mencoba menggunakan “hati”.

Lucunya, jika menulis adalah masalah kecintaan dan ketulusan, maka membaca punya permintaan lebih, membaca adalah masalah selera. Seperti saya yang menyukai novel-novel kontemporer (halah sok banget bahasanya), bukan-bukan, saya penyuka novel apa saja asal enak dibaca. Jadi maksud saya, meskipun ada seorang penulis yang telah membuat tulisan yang bagus dengan penuh cinta dan ketulusan yang kemudian dibuktikan dengan banyaknya peminat buku-bukunya, maka tetap saja tulisan tersebut tidak akan memuaskan semua pihak. Ya, pihak yang dimaksud adalah orang-orang yang mungkin tidak berselera dengan jenis tulisan tersebut, atau kurang suka dengan gaya penulisannya, atau tidak tertarik dengan materi yang dikaji, atau tidak nyaman dengan pilihan diksinya, atau alasan-alasan lainnya. Ada satu penulis novel yang namanya cukup terkenal di negeri ini, novelnya sudah sangat banyak, pembacanya juga banyak dan itu membuat saya penasaran ingin membaca tulisannya. Sebuah novel manis karyanya saya beli dan mulai membacanya, hingga sekarang bahkan bagian pertama dari novel tersebut tak sanggup saya selesaikan, tak kuat saya membacanya. Singkat saja, saya tak nyaman dengan pilihan kata yang digunakan, bukan tidak bagus, hanya masalah selera kata saya.

Oke, dua paragraf di atas sebenarnya hanya kalimat pembuka (pembuka? gak salah pembukaan sampai dua puluh baris lebih?), nah kaan saya salah lagi, bukan itu maksud saya, yang saya maksud adalah (halah, rumit tenan bahasanya) paragraf di atas memberikan gambaran mengenai fenomena menulis dan membaca. Seolah-olah, suatu tulisan hanya akan layak ditulis jika sang penulis telah tiba pada kecintaan dan ketulusannya, hei hei sampai kapan? Bagaimana jika perasaan seperti itu tak muncul-muncul? Lalu kapan mulai menulisnya? Bisa jadi sampai kapan pun tak akan ada tulisan yang terlahir. Nahhh, jujur-jujuran lagi, saya sering sekali menghadapi hal demikian, bahkan sekadar untuk menulis ala-ala di blog saja saya butuh pertimbangan yang matang, ide sudah sampai beratus-ratus #sombong #padahalidecurhat namun setiap ingin menulis rasa tulus yang saya butuhkan tak kunjung hadir akhirnya jadilah tulisan gagal tulis #apacoba.

Sama halnya dengan kebiasaan membaca yang sulit sekali dibiasakan hanya karena kita tidak punya selera. Padahal nih padahal, selera atau gak selera biasanya hanya muncul di awal, kalau kita berani mencobanya barulah kita tahu rasa yang sebenarnya. Jadi, diiciplah lah dahulu mana tahu ternyata kita jadi doyan, lagi pula membaca kan tidak sesulit menulis. Menulis itu butuh ide, butuh sumber, butuh bahan baku, lah kalau membaca kan ya tinggal baca aja, beres. Oh iya, selain selera ada satu lagi nih alasan paling gak mutu sejagad raya yang menyebabkan kita gak mau membaca, MALAS, yaelahhhh ini sih emang penyakit segala hal. Bodohnya lagi, malas baca tapi rajin membagi, paham lah ya ituloh tren orang-orang di media sosial yang sering bagi-bagi berita, info dan sebagainya tanpa dibaca dulu, tanpa mengecek sumbernya tanpa dikaji, langsung aja main bagi-bagi, jangan gitu deh, mending kalau beritanya benar, kalau salah gimana??

Intinya, membaca ataupun menulis, keduanya sama-sama penting. Banyak manfaat yang kita dapat jika mampu membiasakan dua hal ini dalam kehidupan sehari-hari. Jadi gak selalu harus menunggu cinta, tulus dan selera dulu, yang penting adalah memulai, ehh bener gak ya? Pikirkanlah sendiri, yang jelas untuk hal-hal yang baik dan bermanfaat gak usah kebanyakan mikir dan cari alasan :D.

Kala hening.

Mataram, 12 Mei 2016  03:16