Al Quran : Mukjizat sepanjang masa

Dulu, aku senang mendengarkan musik-musik. Musik memang menarik, walau kadang ada juga yang tidak menarik. Musik seringkali membawa bayang-bayang masa lalu, menebarkan kenangan di benak. Mendengarkan musik gembira bisa membuat hati turut bergembira sedangkan musik pilu yang mendayu-dayu bisa membuat hati ikut berduka, terkadang bisa sampai menitikkan air mata. Lambat laun musik yang aku anggap keren itu punya pesaing. Pesaing? Bisakah kusebut demikian? Entah terbiasa dari mana namun aku mulai suka mendengarkan murottal bacaan Al Quran. Aku tidak ingat bagaimana ceritanya aku jadi senang mendengarkan lantunan ayat-ayat suci melebihi kesukaan mendengar lagu, yang aku ingat surah Maryam adalah surah yang paling sering aku dengar. Sejak punya ponsel yang bisa menyimpan data termasuk musik-musik, aku mulai sering mendengar murottal kapan saja aku ingin. Surah Maryam dalam sehari semalam bisa kuulang berkali-kali, aku suka sekali surah ini, terdengar sangat indah dan syahdu tiap bacaan ayat yang diperdengarkan. Mendengarkannya bisa membuatku menangis, ini terjadi kala hatiku tengah mengeras. Saat sulit tidur juga seringkali kuperdengarkan surah ini hingga membuatku tertidur pulas. Lucunya, meski aku senang menikmati murottal terkadang aku juga masih suka mendengar lagu-lagu. Di dalam folder musik ponselku ada file yang berisi lagu-lagu, ada lagu Indonesia adapula lagu-lagu asing, dari genre pop hingga rock dan alternatif, aku suka-suka saja genre musik apapun asal enak didengar, di blog inipun aku punya satu tulisan yang bertajuk “saat aku suka lagu”, isinya cuap-cuap ngasal tentang beberapa lagu yang aku suka, ini tidak penting dibahas yah. Intinya aku mau bilang bahwa selain rutin mendengarkan ayat-ayat Al Quran aku juga masih senang mendengar musik-musik demikian, musik-musik apa ya namanya? Aku juga tak merasa ada perbedaan antara mendengarkan musik dan lagu dengan mendengarkan murottal, bagiku keduanya menghibur.

Beberapa waktu kemudian aku mulai malas mendengarkan musik. Beberapa lagu mulai aku hapus dari ponsel, aahh bukan beberapa tapi banyak. Aku hanya menyisakan beberapa saja, seperti lagu-lagu milik raihan, opick atau lagu-lagu bertema alam. Lagu tema cinta? Wahhh itu daftar pertama yang aku hapus, lagu-lagu jenis tersebut adalah jenis lagu perusak mental nomer satu, biang baper kelas kakap. Karena lagu-lagu tersebut sudah tak ada di ponselku otomatis tak ada lagi kesempatan mendengarkannya, kecuali aku bongkar-bongkar folder di laptop, tapi kadang aku malas, jadi lebih sering tidak pernah. Kadang juga aku streaming youtube, hehe godaan memang ada di mana-mana, semua mudah dengan adanya internet, aku bisa mencari lagu apapun yang aku mau, gampang dan hampir pasti selalu ada. Tapi lama-lama aku juga bosan, tak ada lagu yang benar-benar membuat senang dan benar-benar membuat nyaman. Oiya selain streaming lagu aku juga streaming hafalan-hafalan Al Quran dari banyak hafidz/hafidzah baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Meski lebih sering dari luar negeri dan lebih sering hafizd. Aku selalu senang mendengarkan bacaan-bacaan Al Quran, bukan senang sekadar senang namun seperti diliputi kesejukan dan kedamaian.

Lama-kelamaan ponselku benar-benar bersih dari musik-musik geje, aku lagi-lagi tak ingat kapan tepatnya hal itu terjadi, yang aku ingat aku memang ingin menghapus musik dari kebiasaanku, rasanya tak nyaman saja jika mempersandingkan folder murottal dengan folder musik-musik. Seorang temanku juga pernah bilang bahwa jaman sekarang Al Quran dan musik hanya sebatas folder, aku terkejut, tentu saja, karena aku pun begitu. Lalu dia tertawa, begitulah kenyataannya. Aku pun ikut tersenyum. Ponselku saat itu sudah tak punya folder musik. Ohh iya bukan ponsel tapi sejenis tablet dari merek tertentu, tidak penting juga aku sebut mereknya ya. Di gadget baru ini aku punya folder Al Quran 30 Juz, senangnyaaaa. Oh iyaa, aku jadi ingat, jika tidak salah aku mulai lebih sering mendengarkan bacaan alquran dibanding musik sejak diberi file al quran 30 juz oleh salah seorang sepupu. Sebelumnya aku hanya punya beberapa surah saja, seperti surah Maryam, Kahfi dan beberapa surah di juz 30. Ketika dia memberikan file satu alquran lengkap aku jadi punya kesempatan untuk mendengarkan banyak surah lainnya. Selain itu, kebiasaan sepupu yang rajin muroja’ah (mengulang-ulang hafalan) membuatku semakin senang mendengarkan murottal, saat berkendara pun dimanfaatkannya untuk mengulang hafalan. Hingga kemudian saat aku sedang menempuh pendidikan jauh dari rumah dan keluarga, al quran menjadi teman setia. Aku memang tidak rajin membawa mushaf al quran kemana-mana dan membacanya di manapun tapi tablet yang aku punya bisa digunakan untuk mendengarkan lantunan 30 juz lengkap, yang kemudian aku lengkapi dengan mengunduh aplikasi al quran mobile, sudah lazim sepertinya melihat orang mengaji menggunakan smartphone atau alat canggih lainnya.

Alhamdulillah lingkungan yang baik memang dapat membantu kita belajar hal-hal baik. Saat kuliah itulah aku mulai mengenal teman-teman yang menyenangkan. Menyenangkan dalam arti yang sedalam-dalamnya. Mereka senang mengikuti kajian, senang sholat tepat waktu, senang belajar agama. Bersama mereka aku terpacu ingin belajar banyak tentang al quran. Kami ikut kelas bahasa arab, kelas tahsin, tahfidz, ikut pengajian. Semua hal ini membuat interaksi dengan Al Quran menjadi lebih dekat. Aku memang tidak serta merta menjadi pribadi yang benar-benar baik pun shalihah, namun aku memahami bahwa inilah Al Quran, Al Furqan (pembeda yang benar dan yang salah), As-Syifa’ (penyembuh), Adz-Dizkr (pemberi peringatan), Al-Huda (petunjuk), Ar-rahmat (karunia), Al-Hukm (peraturan), Al-Hikmah (kebijaksanaan), AL-Kalam (firman), An-Nur (cahaya) dan karena itulah mendengarkan dan membaca Al Quran tak akan pernah bisa disamakan dengan mendengarkan nyanyian-nyanyian, musik-musik dan segala rupa-rupa buatan manusia, meski seindah apapun.

Aku pun mulai sering mendengarkan surah-surah lainnya. Aku sangat suka surah Al-Mulk, Al-Qalam, dan banyak surah lainnya di juz 29. Begitupula surah Kahfi, dan saat ini aku sedang mengulang-ulang surah Al-Baqarah, jujur seluruh Al Quran sangat indah. Sebenarnya semakin sering aku mendengarkan setiap surah tersebut maka makin bertumbuh kecintaan dan kesukaanku. Semakin menyadarkanku bahwa semua firman yang Allah turunkan adalah kebenaran dan diliputi keberkahan. Apalagi jika bukan sekadar mendengarkan namun membacanya, memahami artinya dan mengamalkan dalam kehidupan.

Al-Quran adalah firman Allah SWT yang diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia, pembeda antara yang haq dan yang bathil, sebagai karunia, sebagai sumber hukum dan peraturan, sebagai pemberi peringatan sebagai pelipur lara. Jika kita mengikutinya maka tiada yang sulit dalam hidup ini. Di dalamnya ada keberkahan yang tiada terkira. Aku pernah sedih, namun dengan membaca Al Quran kesedihan itu hilang, Allah berfirman “laa tahzan, innallaha ma’ana” (At-taubah : 40). Aku pernah takut namun aku tahu bahwa Allah adalah sebaik-baik pelindung, “hasbunallah wa ni’mal wakiil”(Ali Imran 173), pun saat raga ini sakit, saat hati ini luka, tak ada obat yang lebih mampu menyembuhkan selain Al Quran. Hanya Al-Quran yang mampu menghadirkan kedamaian yang tak bisa dihadirkan oleh segala rupa kebendaan duniawi yang nampak elok menggoda. Demikianlah Al Quran, mukjizat terbesar sepanjang masa.

“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa” (Al Baqarah : 2)

Mataram, 10 Ramadhan 1437 H

Advertisements