Nothing to lose ?

Beberapa teman telah mengajarkan kepada saya bahwa berucap, berkata bukanlah sekadar mengeluarkan untaian huruf, namun di dalamnya ada makna, ada pesan, ada keinginan, ada harapan juga ada janji.

Bahkan meski itu perkataan sederhana, kecil, mungkin tidak berdampak besar, namun tetaplah ada beda antara apa yang telah terucap dengan yang masih tersimpan di benak.

Bagi saya mereka adalah orang-orang hebat. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa berhati-hati dalam ucapannya, sebab setiap kata yang terucap memegang tanggung jawab.

Memang sudah seharusnya apa yang terucap mengandung pengertian itulah yang ingin disampaikan. Bukan seperti di jaman sekarang di mana isi hati, isi kepala tak sama dengan ucap dan laku. Hanya wacana kata anak kekinian yahh, semacam gombal belaka, bual-bualan, omong kosong, huff, and I think I do this frequentlly 😦

Ohh iya ngomong-ngomong tentang “kata-kata”, I’ve just felt a bizzare feeling, yang mana gegara perasaan aneh inilah saya jadi dapat ide buat nulis pagi ini. Oh my God, jadi ceritanya sekitar 15 atau 16 tahun yang lalu waktu saya masih pakai seragam putih biru ada seorang teman sekelas saya, a boy of course, dia ngasi sebuah kaset ke saya, kaset itu berisi lagu “Nothing to lose” dari MLTR, jujuuuuur saya dulu belum pandai ber-English ria, tahunya baru sebatas that is a window, this is a book, what is that? etc wakakakakaka, intinya saya gak ngerti lagu itu cerita apa, tapi saya suka melodinya, i can sing it well and I love it even though i didn’t understand the meaning.

Bayangkan dan bayangkan, someone gave you a piece of cassette inside it there was a song about love, lahh kalian tahu lahh yaaa nothing to lose liriknya kayak gimana siiih, ( kalian mungkin tahu, saya yang baru tahu, baru banget, pagi ini loh, beberapa saat sebelum saya nulis ini), ya Tuhan kalau si dia yang ngasi kaset itu adalah salah satu dari sekian orang yang berpikir sebelum bertidak, kalaulah dia adalah orang yang berhati-hati dengan perkataannya, perbuatannya, kalaulah dia adalah orang yang perkataannya bukan wacana semata, maka saya bisa menyimpulkan bahwa rasa yang seharusnya saya rasakan saat itu, baru saya rasakan hari ini, pagi ini. Yes, thanks for that feeling, for your sincerity and being my best, hahahah maafkan saya jadi kayak orang jatuh cinta gini, biasa lah yaa, fufufu i’m so in love with you my man, ehhh nope nope enggak ding, maksud saya sama Michael Learns to Rock, lagu-lagunya selalu deh bikin meleleh.

Nah kan, tulisannya jadi kemana-mana, yasudahlah yang penting intinya kalian bisa paham. Jadi sekarang, saya mau siap-siap ke kampus sambil tetap menunggu benarkah segala yang tersurat dalam lirik Nothing to lose itu jadi nyata atau tidak. Ohh iyaa, nunggu jangan dengan tangan kosong dong, harus dengan tangan berisi doa-doa penuh harap yang dipanjatkan pada-Nya yang Maha Kuasa atas segala sesuatu 🙂

ehh yaa, ini sekalian saya kopiin liriknya, kali ada yang belum tahu, ngambil dari http://www.metrolyrics.com/nothing-to-lose-lyrics-michael-learns-to-rock.html

There are times when you make me laugh
There are moments when you drive me mad
There are seconds when I see the light
Though many times you made me cry

There’s something you don’t understand
I want to be your man

Nothing to lose, your love to win
Hoping so bad that you’ll let me in
I’m at your feet, waiting for you
I’ve got time and nothing to lose

There are times when I believe in you
These moments when I feel close to you
There are times I think that I am yours
Though many times I feel unsure

There’s something you don’t understand
I want to be your man

Nothing to lose, your love to win
Hoping so bad that you’ll let me in
I’m at your feet, waiting for you
I’ve got time and nothing to lose

I’ll always be around you, keep an eye on you
Always keep an eye on you
‘Cause my patience is strong
And I won’t let you run, you are the only one
When you are the only one

Nothing to lose, your love to win
Hoping so bad that you’ll let me in
I’m at your feet, waiting for you
I’ve got time and nothing to lose
Oh yeah, I’ve got time and nothing to lose

Selamat beraktivitas, semoga berkah, aamiin

Bandung, 9 September 2015

dengan banyak cinta di pagi ini, –Dhie

Advertisements

Dear my visitors ^^

( judul pakai Bahasa Inggris, tapi isinya berbahasa Indonesia, maaf yaaa )

Cerita-cerita tentang blog nih. Blog Diyah mah apa atuh, biasa aja, isinya acak, kadang curhat kadang masak kadang puisi galau. Suatu ketika, si adek bilang, kak Diyah blognya kebanyakan curhat, hihiii mungkin dia lupa bahwa memang blog ini saat pertama kali didirikan dibuat memang tujuannya sebagai ganti diari konvensional, halah. Sudah pula isinya curhat-curhatan, jarang nge-post lagi ( lahh yaa bukannya bagus, ntar kalau keseringan posting curhatan, para pengunjung blog bisa mual muntah, enek gitu).

Oiya, ngomong-ngomong tentang pengunjung blog, kebetulan nih ya pengunjung blog ini kan gak banyak-banyak amat, jadi pas tetiba lihat ada pengunjung dari luar Indonesia itu rasanya gimana gitu. Bendera negara lain selain Indonesia, yang hampir selalu muncul adalah bendera negeri paman sam ( United States itu loh ) selalu ada. Entah itu dari negara bagian mana, entah itu orang yang sama atau bukan, entah itu dia benar-benar mengakses dari US, entah pula dia itu orang Indo yang tinggal di US atau orang mana, entahlah.

Hanya penasaran, kira-kira siapa ya yang dibaca apa ya? Diyah kan nge-posting jarang banget. Postingan lama juga hanya beberapa, kayaknya udah kelar juga dibaca ( ihh pede banget ada yang baca ). Ya sudahlah, ini hanya cerita-cerita saja, jangan diseriusin. Mohon maaf jika Diyah nampak berlebihan bicara tentang pengunjung blog, padahal blogger lain dengan pengunjung ratusan ribu bahkan jutaan biasa-biasa aja.

Sebagai penutup, Diyah ucapkan terima kasih bagi para pengunjung yang telah sudi mampir di blog sederhana ini, semoga tulisan yang ada di blog ini bisa bermanfaat untuk teman-teman dan pabila ada hal yang kurang berkenan mohon dimaafkan yaaaa.

Salam ^__^

Sepenggal kisah : Aku dan dia ( BNI46 )

Bagaimana cara yang tepat untuk menceritakan suatu hubungan yang terjalin indah? Nampaknya tidak mudah. Semakin indah dan manis suatu hubungan maka semakin sulit untuk mengungkapkannya. Maka biarkan saja orang lain yang melihat tanpa kita harus banyak mengumbar cerita.

Rasa-rasanya seperti inilah hubungan antara aku dan dia selama lebih kurang lima belas tahun. Aku tak sering memujinya, terkadang malah mengeluh tentangnya, tapi lucunya aku enggan berpindah ke lain hati. Bahkan meski aku sempat menduakannya, tetap dia yang menjadi nomor satu dan pada akhirnya menjadi pemenang dalam keseharianku.

Perkenalanku dengannya terjadi saat aku di bangku kelas 2 Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, itupun dia bukan sepenuhnya milikku, dia milik Ayah yang sementara waktu dipinjamkan kepadaku untuk memudahkan urusan finansial.

Waktu berjalan hingga kemudian aku masuk perguruan tinggi dan berhak memilikinya dengan tentu saja ada nama, nomor induk mahasiswa beserta foto diriku tercetak di sana. Itulah dia, KARTU ATM BNI pertama atas nama diriku yang sekaligus merupakan Kartu Tanda Mahasiswa ( KTM ) Universitas Hasanuddin. Kartu yang sangat cantik, dengan balutan warna pink yang manis. Kartu yang sangat aku banggakan. Aku hanya punya itu, ya kartu atm tanpa buku tabungan. Kala itu kami memang tidak diberi buku tabungan namun keberadaan atm itu saja sudah sangat bermanfaat.

Aku senang sekali bertransaksi ( baca : menyimpan dan mengambil uang ) menggunakan rekening KTM ini. Bayangkan, dengan menggunakan kartu ini aku masih bisa mengambil sejumlah dana dan kemudian menyisakan nominal yang sangat kecil. Kira-kira seperti ini, di rekening milikku hanya ada sejumlah Dua Puluh Tujuh Ribu sekian-sekian rupiah, lalu aku menarik sebanyak Dua Puluh Ribu Rupiah dan hanya menyisakan Tujuh Ribu sekian-sekian rupiah. Woww, berbulan-bulan lamanya rekeningku hanya didiami sekian ribu rupiah dan alhamdulillah rekening itu tetap hidup. Entah karena itu adalah kartu tanda mahasiswa atau alasan lainnya yang jelas aku senang.

Aku masih ingat, betapa dulu aku sangat bersyukur sebab sebuah gerai atm yang menawarkan penarikan dana dengan pecahan nominal Rp. 20.000,- terletak tak jauh dari tempat tinggalku. Aku rela berjalan sedikit lelah demi bisa mendapatkan uang pecahan dua puluh ribu. Bukan karena apa-apa tapi karena dana yang tersisa di rekening terkadang hanya Rp. 30.000,- atau Rp 40.000,- jumlah yang absurd karena tidak mungkin dapat diambil jika mesin atm yang ada hanya menyediakan pecahan 50 ribuan atau seratus ribuan.

Itulah sepercik kenangan manis yang terjalin antara aku dan BNI. Kenangan yang dapat membawa khayalku kembali pada masa saat kuliah dulu, di mana aku merasakan helaan napas lega ketika selembar uang dua puluh ribuan dapat keluar dari mesin atm yang berarrti aku masih punya beberapa rupiah untuk hari esok.

Saat ini, aku tidak lagi memegang kartu atm berwarna pink. Aku telah memiliki rekening sendiri, rekening yang dibuat bukan karena aku adalah mahasiswa baru. Aku punya rekening, buku tabungan beserta sebuah kartu atm berwana abu-abu mengkilap. Kini dia tak hanya sebagai tempat menyimpan dan mengambil uang. Aku melakukan banyak hal dengannya. Pembayaran telepon, tiket, membayar belanjaan semua menjadi mudah karenanya. Sesungguhnya masih banyak kegunaan lainnya, maafkan aku belum mengenalmu lebih jauh lagi.

Oh ya ada satu hal menarik yang kini terjadi lagi, saat ini aku sedang melanjutkan kuliah dan kembali berstatus mahasiswa. Pada suatu waktu aku masuk di gerai atm BNI di sekitar kampus lalu menjerit bahagia tatkala melihat salah satu mesin atm tersebut menyediakan pecahan dua puluh ribuan. Rasa senang yang dulu aku alami ketika kuliah S1 seperti terulang kembali. Maka ketika dana yang tersisa di rekeningku hanya delapan puluh ribu sekian-sekian rupiah, aku tahu apa yang harus aku lakukan, yaitu memilih mengambil uang dari mesin atm pecahan dua puluh ribu daripada dari mesin atm pecahan lima puluh ribu. Demi apa? Tentu saja demi mendapatkan jumlah uang yang lebih banyak.

Jika kalian juga mahasiswa, aku harap kalian bisa mengerti dengan apa yang aku lakukan. 🙂

Terima kasih BNI, aku sayang padamu.

Salam.

Diyah

Pergi? atau setia di sini ?

Selalu ada hal-hal yang membuat kita ingin pergi, jauh.

Namun selalu ada pula hal yang menjadikan kita bertahan.

Hati, sebongkah daging penuh rahasia

Dan jiwa, kedalamannya tak tergapai

Ada rasa berkecamuk antara keduanya, meninggalkan atau tetap di sini

Kenapa pergi?

Karena itu lebih baik daripada terus begini

Kenapa bertahan?

Karena ada yang membutuhkan. 

Pagi bercahaya berisi semangat membara

Siang yang panas dan panjang

Lalu tiba pada malam dingin tempat lelah menepi.

Kita dan urusan masing-masing. 

Ada rindu saat tak bertemu

Namun sesak terasa saat bersama

Lantas bagaimana?

Tak apalah begini-begini saja

Kelak ada waktu saat semuanya akan kembali di titik nol.

Iya, seperti di awal bertemu

Masa di mana kita tak saling tahu, kamu siapa dan aku siapa…

 

 Bandung, 27 April 2015

 

Dunia di antara kita

Sudahkah kita ikhlas?

Akhir-akhir ini saya sering sekali mendengar kajian tentang “ikhlas”. Entah itu saat mendengarkan ceramah pagi lewat radio, atau saat berbincang dengan teman, seolah-olah setiap orang sedang membicarakan topik yang sama. Bahkan ceramah di radio yang saya sebut di awal tadi, dalam sepekan bisa berkali-kali menyinggung tentang keikhlasan. Maka bersyukurlah kita apabila lingkungan di sekitar kita senantiasa mengingatkan tentang pentingnya ikhlas.

Ikhlas memang amalan yang tidak biasa. Dikatakan sebagai amalan batin, tidak ada yang tahu, tidak ada yang dapat menilai, sudahkah kita ikhlas? Di saat kita merasa bahwa kita ikhlas melakukan sesuatu bisa jadi saat itu pula dipertanyakan keikhlasan kita, sungguh hanya Allah yang Maha mengetahui.

Ikhlas pun menjadi amalan yang luar biasa karena sepanjang hidup kita tak pernah terlepas dari ujian apakah kita dapat melakukannya atau tidak. Segala amalan baik kita hendaknya dibarengi dengan keikhlasan, hendaknya demikian, namun apalah daya terkadang yang lebih banyak menyertainya adalah keinginan-keinginan lain, selain mengharap keridhaan Allah.

Ingin dilihat oleh manusia, ingin dipuji, ingin disenangi, ingin dihormati, ingin dihargai, ingin diberi balasan  dan ingin-ingin lainnya yang bukan kepada Allah…betapa seringnya dalam keseharian kita yang terjadi justru keinginan agar dilihat, dinilai, dipuji dan disenangi oleh makhluk, padahal jika kita sadari, ada apakah dengan makhluk? Bukankah ia sama saja dengan diri kita, sama-sama ciptaan Allah?

Jika keinginan kita tak tertuju pada Allah, betapa menyedihkannya sebab amalan kita kelak akan menjadi sia-sia.

Sabda Rasulullah :

“Diriwayatkan dari Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya amal perbuatan itu (harus dilakukan dengan) niat, dan bahwa setiap seorang itu (akan memperoleh balasan bagi perbuatannya) berdasarkan niatnya. Barang siapa hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka yang akan ia peroleh adalah (kebaikan) dari Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa hijrahnya karena dunia, maka ia akan memperoleh dunia itu saja, dan barang siapa hijrah karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada sesuatu yang ingin diperoleh dari hijrahnya itu”.

Amalan yang dikerjakan selain karena Allah akan menjadi sia-sia sebab balasan dari amalan tersebut telah kita peroleh sesuai dengan niat kita mengerjakannya. Ketika kita bersedekah dengan niat agar  dilihat oleh orang lain maka saat orang melihat dan tahu kita bersedekah maka telah kita dapatkan balasan atas perbuatan kita. Masihkah amalan tersebut diterima Allah? wallahu a’lam.

Sungguh bukan perkara mudah beramal dengan ikhlas, oleh karenanya kita berusaha sepanjang hidup kita, selagi kita bisa lakukan sebanyak-banyaknya kebaikan, kita tak tahu perbuatan kita yang manakah yang akan membawa kita kepada kebaikan di akhirat kelak.

Ikhlas, ikhlas dan ikhlas…

Allah Swt berfirman “

Katakanlah, ‘Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui.” Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah maha kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran : 29 )

Jadi, dikatakan atau tidak dikatakan kepada manusia, disaksikan maupun tidak disaksikan oleh manusia, Allah Swt tetap tahu apa-apa yang telah kita kerjakan. Tidak penting pendapat, penghargaan maupun penghormatan manusia, yang kita kejar adalah keridhaan Allah Swt.

Bukan berarti kita menghilangkan kebiasaan saling menghargai, saling menghormati maupun memberi teladan kepada sesama..bukan demikian…namun hendaklah segala amalan itu niatnya karena Allah semata. Orang yang ikhlas tak akan kecewa jika perbuatannya tidak mendapat balasan dari makhluk, orang yang ikhlas tak pernah menghitung-hitung kebaikan yang telah dilakukannya, orang yang ikhlas akan merasa malu ketika kebaikannya diungkit-ungkit, bahkan bagi orang yang ikhlas ketika ia menilai dirinya sendiri telah ikhlas maka bisa jadi saat itulah ia telah tidak ikhlas, wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat

Bandung, 6 April 2015

Belajar Makna

Puisi : Diyah Ifada

Sebagian kata sarat akan makna

Sebagian lainnya sekadar pelengkap makna

Sering pula kata kata terucap tanpa makna

Bual-bualan harian?

Atau semacam  bentuk egoisme?

yang terlontar dari lisan yang kurang belajar

Kamu, berlatihlah memilih kata

Dan Aku, belajarlah memahami makna

Bandung, 11 Maret 2015 21.45 wib

Lama pakai banget gak nulis puisi, tetiba aja jadi ingin. Dadakan gitu deh, makanya bikin yang pendek-pendek aja, semoga suka, semoga bermakna….salam manis ^_^

Let’s dream \(‘o’)/

Mimpi yang bukan sekadar mimpi,

Mimpi itu harus jadi nyata,

Bermimpilah…dan wujudkan mimpi itu.

Makin besar impianmu, makin kuat engkau berusaha meraihnya.

Semakin besar mimpi tentu makin banyak pula tantangannya.

Tiada pernah hal-hal hebat dicapai dengan usaha yang biasa-biasa saja.

Semua butuh proses untuk mencapainya.

Kita perlu anak tangga untuk menapak menuju ke lantai lebih tinggi.

Kita perlu langkah-langkah yang tepat untuk meraih mimpi.

Yah..

Yang kita butuhkan adalah sebuah mimpi dan usaha yang tiada henti

Doa?

Sudah tentu itu suatu keniscayaan, tanpa doa apalah artinya semua ini.

#justshare #notetomyself