Apakah aku boleh menangis?

Apakah aku boleh menangis?

Sekaliii saja. Sebab ini salahku, membuka lagi yang sudah lalu.

 

Jejak digital memang kejam, segalanya terekam.

Aku tahu akan perih, tapi aku biarkan kenangan itu kembali.

 

Aku suka menulis cerita, kamu juga bilang kamu suka.

Kita tulis cerita tentang kita.

Aku yang memulai bait-bait pertama, juga kedua.

Kupikir ada hadirmu yang kan melanjutkan untuk ketiga dan keempat.

Aku menunggu,

Namun, tak pernah ada, tak pernah ada bait-bait selanjutnya.

 

Aku lalu lupa.

Biar saja, aku tak suka cerita yang berhenti tanpa titik.

Aku tak peduli, tentang kisah yang mungkin memang tanpa akhir.

 

Lalu, setelah waktu yang panjang tanpa sapaan.

Di hadapanku hadir sebuah cerita baru, yang kau tulis dengan teman barumu.

Atau? Jangan-jangan itu teman lama.

Aku tak tahu.

 

Kamu! Aku ingin benci, tapi tak bisa.

Aku juga ingin marah, tapi tak berbakat.

Aku ingin mencoret-coret cerita barumu itu.

Tapi, aku tak seperti itu.

 

Kamu! Berkata-kata ingin menulis cerita bersamaku.

Namun inginmu nyatanya tak sejalan dengan ceritamu.

 

Apakah aku boleh menangis?

Sekaliii lagi, sebab aku yang salah, telah banyak percaya padamu.

 

*yeyyyy puisi baru, terharu, sudah lama gak nulis puisi. Mohon maaf ya kalau rada-rada, maklum aja lagi mellow*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s