Jangan bersedih, sakit ini adalah penggugur dosa-dosa

sakit

Segala puji dan syukur hanya kepada Allah, Tuhan penguasa alam.

Tidaklah mudah menjalani bulan puasa dalam keadaan sakit, namun aku bersyukur atas nikmat sakit ini. Andaikan sakit ini tak menghampiriku entah bagaimana aku akan menjalani ramadhan kali ini, ramadhan yang aku jalani jauh dari sanak keluarga, jauh dari rumah, jauh dari bapak dan mama. Aku sendiri, apapun yang ingin aku lakukan, hanya aku dan tentu Tuhan saja yang tahu.

Hari-hari pertama Ramadhan terlewati begitu saja, dengan rutinitas seperti biasanya hanya berbeda tiada aktivitas makan dan minum di siang hari. Bahkan shalat tarawih pun masih kujalani dengan sedikit berat hati. Tilawahku? Sungguh miris, tak banyak perubahan jika dibanding hari biasa.

Apa ini? Begitu tak bermaknanya kah bulan Ramadhan? Sehingga aku memperlakukannya dengan biasa-biasa saja. Seolah-olah aku lupa, bahwa ada begitu banyak kemuliaan di bulan ini. Aku lupa bahwa ibadah sunnah di bulan ini bernilai seperti ibadah fardhu, aku lupa bahwa sedekah di bulan ramadhan akan dilipat gandakan, aku lupa bahwa belum tentu ramadhan yang akan datang dapat kujumpai lagi.

Lalu, dengan tanpa diundang sakit ini datang. Diawali dengan kegiatan tak bermanfaat yang aku habiskan hingga larut malam, sebab pada hari itu aku tengah tak puasa, sehingga merasa diri boleh-boleh saja berleha-leha. Keesokan hari aku terbangun dengan tenggorakan yang meradang. Sakit, aku sudah menduga aku akan sakit, tapi tak kusangka akan seberat dan selama ini.

Jika biasanya radang tenggorakan dapat aku atasi dengan sekadar minum larutan penyegar dan makan yang banyak, kali ini beda. Rasa tak enak di tenggorokan memang berangsur-angsur hilang namun segera berganti dengan gejala pilek yang luar biasa. Tak henti-hentinya cairan kental kekuningan ini keluar dari rongga hidung, dilengkapi dengan kepala yang terasa berat, demam serta perasaan tak nyaman lainnya, badan lemah nan pegal-pegal tak karuan. Ya Allah, padahal pekerjaan di laboratorium belum jua usai, pekerjaan rumah tangga di kosan sedang menumpuk belum tersentuh, lalu bagaimana harus aku selesaikan sementara badanku rasanya ingin ambruk.

Lucunya, di beberapa malam saat tubuh terasa lebih enakan, aku yang belum berpuasa masih sempat-sempatnya bersenang-senang dengan gagdet. Tidak penting, sangat-sangat tidak penting. Aku pikir sakit yang hinggap ini hanya datang sehari dua hari, rupanya tidak demikian. Hari demi hari justru bertambah berat.

Wahai sakit, yang datang sebab masuknya bakteri ataukah virus lalu menginfeksi saluran pernapasanku, kapan ini berakhir? Aku tahu, pilek maupun flu biasanya tak bisa sembuh sehari dua hari, mungkin bisa seminggu tentu dengan istirahat dan makan yang teratur ditambah dengan vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Tapi aku tak mungkin bisa istirahat sebab setiap hari ada yang telah menunggu di ruang-ruang laboratorium, aku juga tak bisa makan teratur sebab aku harus berpuasa. Ahhh, sempat terlintas pikiran tak ingin puasa, sungguh aku merasa flu adalah sakit yang amat sangat berat. Sungguh Dia-lah Allah Subhanahu wa ta’ala yang Maha Pencipta yang telah menghidupkan materi yang sedemikian kecil seperti virus yang bisa merobohkan satu raga sekaligus jiwa yang sombong ini.

Aku bersyukur, sebab dalam diri masih ada iman kepada Allah. Aku malu pada Allah jika tak puasa, meski badanku sakit tapi aku ingin beribadah. Meski aku takut tubuh akan kekurangan nutrisi karena berpuasa tapi aku yakin Allah yang akan mencukupkannya. Bismillahirrahmaanirrahiim.

Rupanya ramadhan telah memasuki pertengahan. Aku sedih, tilawahku masih sangat-sangat minim. Aku mencoba membuka lembar demi lembar Al quran. Aku membacanya dengan kemampuan yang aku punya. Terasa sakit saat harus bertilawah dengan makhrajul hurf dan tajwid yang tepat namun tenggorokan, hidung, kepala dan mulut tak mendukung. Aku hanya bisa membaca beberapa ayat. Meski hanya sedikit namun kubiasakan agar tetap bisa membaca Al quran sebab aku tak tahu apalagi yang dapat aku lakukan dalam keadaan tak sehat seperti ini.

Hari kedelapan sejak sakit yang pertama. Demam masih naik turun. Kepala memang tak sakit lagi, namun aku dihadapkan pada gejala yang baru. Ya Allah, aku mual dan muntah. Apa yang aku makan saat berbuka tadi terpaksa harus aku keluarkan lagi. Aku sedih, ingin menangis rasanya. Berbuka dan sahur dengan makan seadanya lalu harus pula dikeluarkan lagi. Aku tak tahu sampai kapan ini. Ya Allah, demikian beratnya kah puasa ini?

Keesokan harinya, pilek yang aku alami mulai mereda. Jumlah lembaran tisu yang aku habiskan tak lagi sebanyak hari-hari kemarin. Namun, aku kedatangan satu gejala yang belum muncul di hari-hari kemarin. Batuk. Ya Allah, tenggorokanku tak nyaman dan dadaku serasa sesak. Aku batuk berkali-kali, batuk yang terasa beratnya, badanku pun meriang. Namun aku tetap bersyukur, Allah masih menganugrahkan tidur yang nyaman meski saat bangun aku harus menghadapi lagi batuk yang menyiksa ini.

Aku pun mulai berpikir haruskah aku minum obat? Obat apa? Aku memperkirakan sakit ini adalah infeksi yang disebabkan oleh virus, bukan bakteri, jadi tak tepat jika aku mengkonsumsi antibiotik. Obat batuk? Untuk apa? Aku pun paham sesungguhnya batuk adalah mekanisme pertahanan tubuh untuk mengeluarkan partikel-partikel maupun benda-benda asing termasuk mikroba dari dalam tubuh khususnya dari saluran pernapasanku. Lagi-lagi aku sepatutnya bersyukur sebab ini berarti tubuhku masih mampu untuk menghalau sumber-sumber penyakit itu.

Satu hal yang merupakan rahmat dari sekian banyak rahmat Allah adalah rasa nyaman yang menyelimutiku ketika aku bertilawah. Aku tak bisa melakukan apa-apa, badan yang menggigil menyebabkan aku hanya bisa meringkuk di balik selimut, aku hanya bergerak untuk shalat dan makan saja. Maka dalam tiap akhir shalatku sekuat tenaga aku mencoba melantunkan ayat-ayat suci Al Quran. Aku merasakan nikmat yang luar biasa, seolah-olah saat aku membacanya maka hilanglah sedikit demi sedikit rasa sakit ini. Kupandangi Al Quran yang indah ini, mukjizat yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, mukjizat yang diturunkan di bulan ramadhan yang penuh berkah ini. Aku yakin, inilah obatku, inilah obat yang aku butuhkan. Al Quran ialah as-syifa.

Ya Allah, aku berserah diri atas segala keadaan yang tak nyaman ini. Aku bersyukur sebab diizinkan merasa sakit saat menjalani ramadhan, semoga beratnya hambaMu menjalani puasa bersama sakit menjadi amalan yang mendapat ganjaran pahala di sisi-Mu, aamin yaa rabbal aalamiin.

Maka, janganlah bersedih, sesungguhnya sakit ini merupakan penggugur dosa-dosa, insyaa Allah.

Bandung, 6 Juli 2015, malam 20 Ramadhan 1436 H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s