cepat atau terburu-buru?

Cepat atau terburu-buru?

Dulu kala, saya seringkali tidak paham apa perbedaan kedua hal ini. Antara cepat dengan terburu-buru. Bukankah keduanya mengandung makna yang sama, yaitu berusaha sesegera mungkin tiba di tujuan atau berusaha sesegera mungkin menyelesaikan sesuatu. Sepintas antara cepat dan terburu-buru sulit dibedakan, tapi jika ditelaah maka setidaknya bisa dibedakan bahwa “cepat” cenderung bermakna positif sedangkan “terburu-buru” cenderung bermakna negatif. Nah, pagi ini saya ingin sharing tentang “cepat dan terburu-buru” dalam konteks aktivitas kita sehari-hari. Saya agak sulit menjelaskan tetapi ilustrasi ini mungkin bisa membantu.

“Hari ini anda memiliki jadwal rapat penting pukul 07.30. Pagi ini anda terbangun lebih awal, tepat pukul 04.30 subuh. Mandi, shalat subuh, berpakaian, sarapan semuanya bisa anda kerjakan dengan tenang dan cepat. Semuanya selesai dengan baik. Bahkan anda masih bisa melakukan beberapa hal lain, membaca koran atau nonton berita pagi dsb. Pukul 06.30 anda berangkat, jalanan belum terlalu ramai sehingga kendaraan bisa melaju dengan santai, anda juga tidak perlu dag dig dug jika harus bertemu lampu merah karena anda masih punya cukup waktu untuk tidak terlambat. Lima belas menit sebelum pukul 07.00 anda tiba di tempat tujuan dalam keadaan tenang. Masih ada waktu mengerjakan beberapa hal selama 45 menit sebelum anda mengikuti rapat yang dimulai pukul 07.30”

bandingkan dengan ilustrasi berikut :

“Hari ini anda memiliki jadwal rapat penting pukul 07.30. Pagi ini anda terbangung pukul 06.30. Kaget luar biasa karena anda harus menghadiri rapat yang sangat penting satu jam lagi. Anda terbangung dengan terburu-buru, entah sempat atau tidak melaksanakan shalat subuh, mandi juga seadanya, berpakaian pun tergesa-gesa, mungkin anda akan tetap menyisir rambut tapi anda belum tentu mau sarapan, anda tentu akan memilih tidak sarapan daripada harus terlambat tiba di kantor. Pukul 07.00 anda berangkat, jalanan sudah mulai ramai. Anda mengendarai mobil dengan kecepatan yang agak tinggi, setiap bertemu lampu merah anda merasa sangat deg degan, waktu semenit dua menit menanti lampu merah berganti hijau akan terasa sangat lama. Belum lagi jika dilanda kemacetan, anda akan menggerutu sepanjang jalan. Setiap ada peluang untuk menyalip kendaraan lain pasti akan anda usahakan asalkan bisa tiba tepat waktu. Dan akhirnya, pukul 07.25 anda tiba di tempat tujuan. Yahh, rapat memang belum dimulai dan betul anda tidak terlambat. Tapi lihatlah keadaan anda, tidak shalat subuh, mandi seadanya, pakaian tidak rapi, tidak sarapan pula, dan sepanjang jalan tadi, tidakkah anda bayangkan perasaan anda, betapa berdebarnya jantung anda di pagi ini karena takut tidak keburu dengan urusan dunia anda”

bagaimana? saya pikir kedua ilustrasi di atas menggambarkan dengan jelas perbedaan antara cepat dengan terburu-buru. Cepat itu dapat bermakna kita melakukan sesuatu dalam waktu yang lebih singkat dari yang diperkirakan tetapi bukan karena tekanan, atau kita melakukan sesuatu lebih awal. Sedangkan terburu-buru itu berarti kita melakukan sesuatu dengan cepat tetapi karena adanya tekanan bahwa kita akan terlambat, tertinggal dan sebagainya sehingga seringkali kita tidak lagi memperhatikan detail yang harus dilakukan atau aturan-aturan yang harus dipatuhi.

Misalnya : seorang pengendara kendaraan bermotor saking terburu-burunya maka lampu lalu lintas masih berwarna merah seenaknya saja diterobos, dia tidak sadar bahwa perilakunya itu menunjukkan dia tidak taat pada aturan. Dia juga tidak peduli bahwa itu membahayakan tidak hanya keselamatannya tapi juga keselamatan orang lain. Demikian pula saat pengendara melewati perlintasan kereta api, sudah sering sekali kita dengar dan saksikan banyaknya pengendara yang entah apa keperluan pribadinya sehingga tidak peduli lagi dengan keselamatan orang lain.

Manusia memang aneh dan seringkali egois, saya pun kini sudah mulai sadar dan berusaha menerapkan pada diri sendiri. Jika saya ingin berkendara dengan tenang dan tiba di tempat tujuan dengan selamat dan tidak terlambat maka saya harus berangkat lebih awal (cepat) artinya saya harus bangun dan bersiap-siap lebih awal juga. Jika saya tidak berangkat lebih awal, maka saya harus bersedia menanggung risiko terjebak macet, dan kemungkinan tiba terlambat. Saya tidak boleh ngebut di jalan karena itu bisa membahayakan sesama pengguna jalan. Toh saya bisa terlamat ya karena kesalahan saya, bukan orang lain. Kita tidak seharusnya membebani orang lain karena kesalahan kita sendiri.

Sebenarnya contoh yang lain juga banyak, sebab masalah cepat atau terburu-buru tidak hanya berkaitan dengan masalah di jalan tetapi semua sisi kehidupan kita sering dihadapkan dengan kondisi seperti ini. Dalam mengambil sikap, dalam membuat keputusan dan sebagainya, bahkan ketika sedang beribadah pun kita sering bersikap terburu-buru bukan cepat.

Ingatlah,

Jangan terburu-buru karena itu adalah perbuatan setan:

“Tergesa-gesa adalah termasuk perbuatan setan,” begitu kata Nabi (HR Tirmidzi)

Maka dari itu, jadilah pribadi yang cepat bukan terburu-buru

Salam pagi ceria 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s